Respon Teoritis Dan Praxis Terhadap Kemajuan Gadjet

Menjadi manusia yang anti-mainstream alias berbeda di tengah lautan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Setidaknya hal ini tercermin dalam kehidupan berteknologi, misalnya penggunaan gadjet. Dalam perbincangan ringan penulis dengan seseorang, penulis mendapatkan penuturan mengenai “tantangan” teknologis yang diperolehnya dari orang lain yang secara kelas ekonomi berada di bawahnya. Diceritakannya bahwa orang yang secara ekonomi berada di bawahnya bahkan mampu mendorong agar ia mau berganti handphone yang dinilai lebih canggih. Orang yang bercerita pada penulis lebih mengutamakan uang yang dimilikinya untuk kebutuhan lain yang lebih primer ketimbang hanya untuk membeli gaya hidup tertentu yang tidak tentu ia butuhkan. Ini bukan hanya persoalan konformitas terhadap gaya hidup dominan atau pun pelanggengan ekonomi kapitalis di Indonesia. Persoalan sosiologis ini penulis rasa perlu diresponi secara serius.

Respon dalam tulisan ini terbagi menjadi dua, yakni respon teoritis dan respon praxis. Respon teoritis dalam tulisan ini berangkat dari pertalian pemikiran kritis dan postmodern. Alasan pemilihan kedua pemikiran ini adalah konteks teori yang dapat diberlakukan untuk membaca fenomena pemicu yang sudah penulis singgung. Lebih jauh lagi dalam sejarah perkembangannya, pemikiran kritis kemudian “melebur” ke dalam ranah pemikiran postmodern sehingga terdapat suatu “spirit turunan” secara teoritis. Dari analisis yang bersumber pada respon teoritis, maka dapat dihasilkan suatu gambaran yang mendorong pentingnya mengambil suatu tindakan nyata dengan basis tertentu. Tindakan yang dilakukan berdasarkan ide atau prinsip tertentu (termasuk pemikiran teoritis) disebut sebagai tindakan praxis. Adapun dorongan untuk melakukan tindakan praxis ini didorong oleh semangat postmodernisme.

Respon Teoritis : Pertalian Pemikiran Kritis dan Postmodern

Herbert Marcuse dalam karyanya One Dimensional Man menegaskan bahwa perbedaan antar kelas seolah menjadi hilang karena mereka punya gaya hidup yang sama (the so-called equalization of class distinctions reveals its ideological function. If the worker and his boss enjoy the same television program and visit the same resort places…). Dalam konteks masyarakat Indonesia dengan hadirnya sistem cicilan untuk membeli gadjet mahal dengan merk tertentu, maka kelas menengah ke bawah pun berpeluang untuk menjadi pengguna gadjet tersebut atau dengan kata lain kelas menengah ke bawah dapat menjadi ‘sama’ dengan kelas atas dalam menggunakan gadjet. Jika sudah begini, maka mereka yang berada di kelas menengah ke bawah pun (seperti persoalan pemicu di awal) akhirnya dapat mendorong orang yang berada di atasnya untuk menjadi ‘sama’ dengannya (dari segi lifestyle) tatkala kelas di atasnya tidak mengadopsi gaya hidup dominan yang dikonstruk mewah. Tentu saja konsumsi yang dilakukan didasari oleh apa yang disebut sebagai false needs. Masalahnya style dominan bukanlah sesuatu yang pakem, misalnya dahulu orang banyak menggunakan merk HP x, namun sekarang menggunakan merk y. Ini adalah gejala masyarakat yang cair.

Seorang postmodernist, Zygmunt Bauman mengatakan bahwa masyarakat postmodern adalah masyarakat konsumtif dan kehidupan dalam era ini tidak dapat diprediksi. Bauman menolak model masyarakat organismik ala fungsionalis terutama Parsons itu kenapa dirinya menolak suatu model ukuran-ukuran yang berupaya untuk menjelaskan masyarakat secara pasti. Terkait konteks ini Bauman memberi label liquid modernity. Jikalau teori ini kita kontekstualisasikan dalam fenomena yang penulis angkat, maka tentu saja kita bisa mengatakan bahwa kehidupan yang dibentuk oleh kapitalis sebagai struktur sangat menyulitkan. Kita tidak bisa memprediksi seberapa lama merk y dapat bertahan karena bisa saja model x berusaha untuk bangkit kembali dan menguasai pasar. Belum lagi merk z ingin mengembangkan diri dan menarik konsumen banyak. Realitas ini sungguh nyata meskipun penulis tidak secara gamblang menyebutkan merk tersebut. Apa pun itu pada intinya pembaca harus siap untuk berganti-ganti mode untuk mengikuti pasar dan kebudayaan dominan, kecuali pembaca menjadi anti-mainstream. Akan tetapi, bukankah menjadi ‘baru’ membutuhkan cost sekalipun mekanisme transaksi yang semakin bersahabat dengan konsumen akan terus dikembangkan? Tentu saja. Lebih jauh lagi, apakah semua kelas atas lantas harus membayar sejumlah harga yang tinggi sehingga mempunyai gadjet tertentu yang dianggap paling berkualitas atau dengan kata lain apakah semua penghuni kelas atas harus mengadopsi gaya hidup dominan? Pertanyaan ini akan penulis jawab pada sub respon praxis.

Selanjutnya dalam observasi penulis terhadap beberapa merk tertentu, penulis menemukan terdapat beberapa kesamaan tampilan dan fitur. Entah terlalu kasar dan bersifat faktual atau tidak, namun penulis suka menyebut ini sebagai suatu peniruan walaupun ini masih bersifat kemungkinan dengan mempertimbangkan faktor faktual itu dan peniruan ini telah menghilangkan makna sesungguhnya dari mode awal yang muncul. Pemikir postmodernist lain yang masih berpijak pada metanarasi Marx, Fredric Jameson memaparkan hal ini secara teoritis atau postmodern society is characterized by superficiality and lack of depth. Its cultural products are satisfied with surface images and do not delve deeply into the underlying meanings.

Penulis pernah mencoba membandingkan kesamaan-kesamaan antar merk tersebut dan tentu saja penulis menemukan kekosongan seperti yang dikatakan oleh Jameson mengingat kesamaan itu sepertinya adalah wujud dari peniruan. Peniruan atau reproduksi sangat mungkin terjadi karena secara secara ekonomis moda produksi di era post industry sangat mendukung hal itu. Jameson yang berangkat dari logika infrastruktur-suprastruktur Marx menjelaskan bahwa di era fase ketiga perkembangan kapitalisme (Multinational Capitalism) kebudayaan postmodern dibentuk oleh perkembangan alat-alat dan cara produksi yang sangat mengandalkan kecanggihan teknologi komputerisasi sehingga simulacrum sangat dimungkinkan. Kembali berbicara mengenai peniruan, sepertinya setiap perusahaan tidak mau kalah dan berusaha untuk menarik kembali konsumen yang mulai terbuai dengan produk perusahaan lain. Dari sini kita dapat mengembangkan suatu penalaran di mana pada akhirnya banyak produk akan menjadi ‘sama’ karena melakukan peniruan lalu meninggalkan mode lama yang dianggap tidak laris lagi di pasaran. Pada akhirnya mode yang ‘sama’ itu pun akan menjadi style dominan. Penalaran ini sejatinya didukung oleh teori klasik Simmel yang menyebutkan term objective culture.

Sekarang penulis akan membahas kemungkinan terjadinya proses sosial seperti pemicu di awal. Sebagaimana yang disinggung-singgung oleh pemikir-pemikir kritis dan postmodern bahwa media (iklan) telah memainkan peranan yang penting terhadap kebudayaan masyarakat kontemporer. Bahkan teoritisi-teoritisi kritis menyebutkan bahwa melalui media tersebut manipulasi masif terjadi. Teoritisi kritis, semisal Adorno menerangkan hal ini sebagai respon kritis (pesimis?) atas teori Gyorgy Lukacs yang menekankan pada kesadaran kelas kaum proletar. Adorno (bersama dengan Horkheimer) memang nampak pesimis karena mereka mengatakan bahwa dari manipulasi tersebutlah revolusi Marxian tidak terjadi. Jikalau dilihat pada konteks masyarakat yang penulis singgung memang benar bahwa ‘pesimisme akut’ dalam pemikiran kritis Adorno menemukan pembenaran karena bahkan kelas bawah kini dapat mendesak kelas yang di atasnya untuk mengadopsi pola hidup mewah ketimbang bergerak melakukan revolusi untuk membongkar struktur kelas masyarakat yang timpang.

Saat penulis mengamati iklan-iklan dari para merk tersohor penulis seperti melihat bagaimana di dalam iklan tersebut diposisikan masyarakatlah yang membutuhkan gadjet terbaru dengan segala fiturnya yang maaf saja menurut penulis tidak semuanya dibutuhkan! Apa yang sesungguhnya dibutuhkan adalah dorongan untuk terjadinya transaksi dengan pembeli untuk menjaga kemegahan (keberlangsungan) perusahaan kapitalis yang bercokol di Indonesia! Inilah logika ekonomi kapitalis. Namun demikian, siapa yang bisa mengusir? Akhir-akhir ini penulis sering melihat bagaimana aktivis HAM, Ratna Sarumpaet dalam timeline twitter-nya berteriak keras untuk menolak neoliberalisme yang salah satunya ditandai dengan pasar asing yang berdiri di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah mungkin hal ini sepenuhnya terjadi? Sulit memang. Kelas bawah telah memposisikan dirinya sebagai pihak yang butuh akan produk-produk tersebut atau mengikatkan diri ke dalam apa yang disebut sebagai budaya dominan dan iklan sebagai instrumen struktural sukses mengatur perilaku konsumtif. Herbert Marcuse dalam karyanya menyinggung-nyinggung soal false needs dan tentu saja ini berkaitan dengan fitur-fitur yang ditawarkan yang rasanya tidak semuanya diperlukan, namun tetap dikonsumsi. Hal ini belum termasuk perubahan mode yang tidak dapat diprediksi jika kita mengacu pada cermin atas masyarakat dalam pikiran Bauman. Setiap waktu kemungkinan-kemungkinan semacam ini sangat bisa terjadi sehingga konten dari style dominan dapat dengan cepat berubah dan yang disebut dengan ’kebutuhan’ pun akan segera berubah. Kemudian akan muncul pula berbagai simulacrum yang turut mengkonstruk kebudayaan baru (dominan) itu.

Dengan otak yang sudah ‘diracuni’ dengan kebutuhan untuk menggunakan gadjet tertentu (kultur) akibat drive dari struktur, maka selanjutnya muncul para agen (konsumen) yang mensosialisasikan perlunya penggunaan gadjet tersebut. Dalam konteks yang dialami oleh orang yang bercerita pada penulis bisa dilihat proses sosialisasi akan hal itu. Orang itu bercerita bahwa orang lain yang kelasnya berada di bawahnya mendorongnya untuk mengganti gadjet yang punya operating system jenis y. Tentu saja OS tersebut mempunyai kekhususan istimewa tertentu yang perlu disosialisasikan pada orang yang belum menggunakannya walaupun itu belum tentu menjadi primary needs-nya. Konten sosialisasi ini akan terus berubah tanpa bisa terprediksi karena kondisi masyarakat tidak lagi bisa diduga. Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Paulus Wirutomo sendiri mengkhawatirkan proses sosial yang mendukung tatanan yang terlalu kapitalistik tersebut. Seperti yang penulis singgung sebelumnya bahwa mengganti model tidaklah gratis dan sangat disayangkan jikalau pengorbanan dikeluarkan untuk sesuatu yang mungkin dilandasi oleh false needs atau dorongan untuk mengikuti mode dominan yang dikonstruk oleh false needs itu sendiri. Hal ini juga belum ditambah dengan kemungkinan adanya mode lain di tengah-tengah kecairan yang tidak dapat diprediksi yang kemudian akan menggeser kebudayaan masa kini.

Respon Praxis : Menjadi Anti-Mainstream

Pemikiran yang berada di bawah payung postmodern sering dikategorikan sebagai ideologi saja dan hal ini sekaligus menjadi kritik bagi pemikiran tersebut. Salah satu prinsip penting postmodern thought adalah eksistensi perbedaan. Jean F. Lyotard, Mark Gottdiener, dan Steven Seidman sangat jelas menolak totalitas dan metanarasi. Memang penolakan ini mereka lakukan atas ilmu pengetahuan. Namun demikian, jika kita menggeser konteks teoritis ini pada konteks yang kita bahas, maka boleh saja kita melakukan penolakan terhadap gaya hidup umum yang saat ini menjangkiti banyak orang dan tentunya bersifat lintas kelas. Lagipula semangat postmodernist menyajikan suatu patokan untuk boleh mempertahankan diri karena semua eksistensi memang boleh bertahan dalam pandangan ini.

Jika pengguna gadjet tertentu boleh eksis, mengapa Anda dengan gadjet tersendiri yang dikonstruksikan jadul atau konvensional seolah tidak boleh bertahan? Tidak salah jika Anda mempertahankannya selama hal itu tidak menghapuskan eksistensi keberadaan yang lain. Menjadi anti-mainstream adalah salah satu perwujudannya. Apalagi dengan didukung oleh alasan ekonomis dan tentu saja sikap Anda tidak salah. Apabila pemeluk budaya dominan lantas mempersalahkan Anda, maka Anda juga dapat mempersalahkan kehadiran mereka. Apa basis pembenaran yang dapat dilayangkan oleh pemilik kebudayaan dominan? Jika hanya bermodalkan gaya hidup dominan (totalitas) yang dianut mayoritas orang tanpa alasan lain yang lebih penting rasanya tidak terlalu signifikan. Lagipula siapa yang mengatakan bahwa gadjet tertentu lebih baik dalam arti sesungguhnya? Para penggunanya sendiri bukan tidak mungkin mengatakan hal itu karena dikontrol oleh iklan sebagai media pameran produk industri budaya. Jadi kesimpulannya, ini kata iklan (kapitalis) atau kata pengguna? Apakah yang dikatakan oleh iklan (kapitalis) adalah yang terbaik?

Prinsip postmodernist yang berupaya mempertahankan eksistensi minoritas harus menjadi pijakan bagi kaum anti-mainstream. Setiap pihak berhak untuk hadir. Mengapa harus mengganti gadjet terlebih merk-nya jikalau penggunaan model lama tidak akan merugikan pengguna model terbaru. Bukankah setiap individu itu berbeda sehingga seharusnya upaya untuk menciptakan homogenitas pada hal tertentu seharusnya dihindari? Memang postmodern tidak berhasil menggoyangkan kemapanan kapitalisme bahkan pengakuan akan gadjet ‘konvensional’ sendiri pun merupakan pengakuan akan salah satu jenis produk kapitalis, namun pemikiran postmodern memberikan ide untuk menjadikan produk kapitalis tertentu hanya sebagai salah satu dari sekian banyak eksistensi yang tidak lebih spesial satu sama lain. Harga produk terbaru memang boleh jadi jauh lebih mahal, namun kata siapa yang lebih mahal lebih bermanfaat? Penilaian bagus dan buruk mengenai suatu gadjet umumnya datang dari manfaat yang diberikannya terlepas apakah itu merupakan primary needs atau false needs. Lalu manfaat untuk siapa pula? Bukankah ada harga yang harus dibayar?

Orang yang secara ekonomi mampu pun tidak harus selalu menghamburkan uangnya untuk meraih lifestyle yang disebut-sebut sebagai standar itu mengingat dirinya sendiri berhak untuk mengembangkan gaya hidup lain yang berbeda. Sifat spesial yang dimiliki suatu gaya hidup dengan gadjet tertentu hanyalah konstruk kelompok tertentu sehingga bagaimana mungkin harus dijadikan totalitas yang mengikat keseluruhan (objective culture Simmellian)? Apakah semua orang kelas atas harus selalu menggunakan gadjet merk tersohor sehingga memiliki gaya hidup yang sama dengan orang-orang kelas atas lain? Memangnya setiap orang di kelas atas harus selalu begitu? Tentu saja tidak. Mari berpikir ulang untuk menjadi beda di era post industry tanpa menghilangkan eksistensi segmen yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s