SUATU TELAAH TERHADAP TAMPILAN SOLIDARITAS PALSU SEBAGAI HIPEREALITA

Dalam tulisan terdahulu yang berjudul MEMBONGKAR SOLIDARITAS PALSU DI BAWAH BAYANG-BAYANG IDEOLOGI PIHAK DOMINAN penulis sempat menyinggung bahwa album foto-foto kenangan yang diunggah ke media sosial hanyalah suatu hiperealita. Dalam tulisan ini penulis akan mengupas secara lebih dalam bagaimana hal itu terjadi dan penjelasan ini akan berpijak pada pemikiran seorang post modernist, Jean Baudrillard. Baudrillard menyebutkan bahwa masyarakat kontemporer dikuasai oleh media, komputer, hiburan, dan sejenisnya. Media menampilkan sign yang tidak lagi bisa dibedakan dengan realita. Hal ini dapat terjadi karena adanya peniruan (simulations) yang berujung pada reproduksi sesuatu (simulacra). Apa yang ditampilkan oleh media menirukan sesuatu dalam kehidupan, tetapi apa yang ditirukan tetaplah bukan objek yang sesungguhnya.

Peniruan memang tidak mungkin bisa menyamai apa yang ditiru dan inilah fenomena yang terjadi di era post modern sehingga muncul apa yang disebut dengan lacking of depthness sebagaimana yang disinggung oleh post modernist lain, semisal Fredric Jameson. Akan tetapi, seperti yang dipaparkan oleh Baudrillard bahwa sign yang tidak real (hanya sebatas tiruan) itu justru menginjakan kakinya di masyarakat dan berdiri kokoh. Terkait hal ini penulis menuding bahwa suasana atau tampilan dalam foto-foto yang menggambarkan kebersamaan itu hanyalah produk tiruan dari acara-acara yang meniru acara lain. Mengapa demikian? Untuk menjawab hal ini kita harus menelaahnya lebih kritis agar tidak semata-mata dibelenggu dalam kultur peserta didik yang mengedepankan acara-acara kolektif khususnya sejenis farewell party. Memang acara-acara seperti itu merupakan bagian dari kultur kehidupan masa akhir di sekolah, namun tampilannya harus dikritisi lebih jauh karena tampilan inilah yang kemudian nampak dalam foto-foto dokumentasi di media sosial yang seringkali membuat banyak orang lupa akan realita yang terjadi.

“Kita hidup di zaman peniruan (we are living in the age of simulation),” demikian tukas Baudrillard. Peniruan akan berujung pada simulacra. Berangkat dari pernyataan ini kita bisa menunjuk bahwa tampilan acara perpisahan itu hanyalah tiruan sehingga pelaksanaan acara itu adalah simulacra. Peniruan dilakukan atas event lain yang tampilannya menekankan kolektivitas, kesedihan dalam perpisahan, dan sejenisnya. Pemotretan saat acara berlangsung merupakan langkah menuju dikukuhkannya sign yang membuat kita tidak bisa melihat realita sesungguhnya. Selanjutnya foto-foto yang bernuansa kebersamaan palsu itu diunggah ke media sosial, seperti Facebook. Setiap orang yang melihatnya kemudian akan merasa larut dalam kebersamaan yang sesungguhnya hanya tiruan dan tidak genuine karena realita yang terjadi tidak jauh berbeda dengan pemaparan penulis dalam tulisan terdahulu yang berjudul TINJAUAN KRITIS TERHADAP POLA HUBUNGAN SOSIAL ANTAR INDIVIDU DARI SUB KELOMPOK TERTENTU MAUPUN ANTAR SUB KELOMPOK SECARA UMUM : SUATU PENGAMATAN TERHADAP BEBERAPA SEKOLAH SWASTA DI JAKARTA.

Seperti yang penulis ajukan dalam tulisan sebelumnya (MEMBONGKAR SOLIDARITAS PALSU DI BAWAH BAYANG-BAYANG IDEOLOGI PIHAK DOMINAN) bahwa pembaca harus kritis dan bertanya apakah betul integrasi telah terwujud, apakah betul rasa kebersamaan itu ada, dan seterusnya. Jikalau tidak ada, maka tampilan event perpisahan semacam itu hanyalah produk tiruan yang membuat pembaca buta akan realita dan selanjutnya pembaca hanya akan menjadi black hole yang menyedot semua falsehoods itu. Hanya dengan menjadi individu yang kritislah pembaca tidak akan terjebak.

Oleh karena itu, seperti yang penulis suarakan dalam tulisan sebelumnya bahwa pembaca harus kritis agar dapat membedakan peruapan emosi yang ditampilkan foto dengan realita. Apakah betul dalam keseharian mereka sungguh-sungguh terikat secara murni (genuine friendship)? Inilah pertanyaan yang wajib dilontarkan pertama kali. Lagipula acara semacam itu dapat diatur oleh pihak panitia sehingga perasaan orang-orang di dalam foto itu pun dapat terkena pengaruh susunan acara panitia. Akan tetapi, pengaruh luar tetap tidak bisa membentuk sepenuhnya diri agen yang juga aktif. Sebesar apa pun stimulus yang diberikan agar mereka menunjukan perasaan sedih karena berpisah tetap saja di antara mereka ada rasa tidak suka. Kita pun juga dapat menduga bahwa rasa sedih itu muncul hanya karena setiap dari mereka tidak rela berpisah dengan orang-orang tertentu dan bukan dengan semua orang. Inilah salah satu ciri khas produk tiruan di mana tampilan kesedihan (sebagai simbol solidaritas) muncul, namun tidak murni dan tidak mengikat seluruh anggota sehingga berbeda dengan event yang ditirukan di mana event yang ditirukan sungguh-sungguh murni karena para aktornya memang punya ikatan ke seluruh anggota.

Celakanya adalah tiruan semacam itu diabadikan dengan kamera yang hasilnya kelak diunggah ke media sosial. Media yang menguasai orang-orang di era kontemporer ini menampilkan kenangan indah bersama yang beriaskan kepalsuan, namun kepalsuan itu tidak dapat dibedakan dari realita. Orang-orang (terutama tag-in persons) yang melihat hal itu pun tidak bisa membedakan antara tiruan (kebersamaan yang kuat dan kesedihan karena berpisah) dengan realita (konflik antar pihak). Yang paling celaka tentu saja ketika orang-orang yang terpinggirkan (marginalized groups) juga merasa bahwa mereka tersatukan dengan baik hanya karena melihat foto-foto yang menampilkan solidaritas palsu itu. Tak pelak kekritisan diperlukan untuk menghadapi era di mana pengabadian kepalsuan melalui media sosial terjadi. Jika pembaca tidak kritis, maka pembaca akan termakan oleh falsehood yang ditampilkan oleh media sosial itu. Jika sudah demikian, maka pembaca hanya akan menjadi orang-orang pasif yang rela mengikuti langkah buatan kelompok dominan, seperti menghadiri acara pasca kelulusan, misalnya reuni, malam keakraban, dan sebagainya yang tajuknya adalah maintaining solidarity. Di sini orang-orang yang terpinggirkan menjadi konsumen acara-acara karya pihak dominan tanpa menyadari apa yang sesungguhnya terjadi (realita).

Penulis sendiri sudah menekankan sebelumnya bahwa sangat tidak masuk akal jikalau acara-acara pasca kelulusan yang ditujukan untuk menjaga ikatan kesatuan diadakan. Hal ini dilatarbelakangi oleh realita bahwa ikatan kesatuan yang utuh tidak ada. Para peserta didik hanya terikat menjadi satu karena faktor tekanan struktural dan satu sama lain tidak tentu ada rasa terikat. Dengan demikian sangat tidak logis jikalau acara-acara pasca kelulusan ditujukan untuk menjaga solidaritas seluruh anggota karena solidaritas yang utuh sendiri tidak ada sehingga tidak jelas apa yang mau dijaga. Solidaritas hanya eksis di kelompok-kelompok tertentu (termasuk kelompok dominan) dan tidak tentu mengikat seluruh kelompok. Tak pelak pembaca harus kritis siapa penggagas acara tersebut karena seperti yang telah penulis angkat sebelumnya bahwa sangatlah mungkin acara-acara pasca kelulusan semacam itu terselenggara karena pengaruh pihak dominan.

Penulis berharap agar pembaca lebih jeli dan kritis agar tidak menjadi lubang hitam yang menelan segala sesuatunya secara taken for granted. Kejelian dan kekritisan juga dibutuhkan untuk melepaskan diri dari jerat pihak dominan. Undangan untuk menghadiri acara-acara untuk menghangatkan tali persahabatan, seperti temu kangen atau reuni dan malam keakraban bukan tak mungkin merupakan wujud dari agenda pihak dominan. Selanjutnya tampilan persahabatan dalam album foto kenangan yang diunggah ke dalam media sosial merupakan salah satu alat untuk menghilangkan kesadaran para anggota akan realita konflik sehingga para anggota rela datang ke acara-acara, seperti temu kangen atau reuni dan malam keakraban yang tajuknya adalah maintaining solidarity. Apabila pembaca berada dalam situasi yang konflik terlebih ditindas oleh pihak dominan dan tidak bisa menghindari acara-acara semacam itu, maka pembaca hanya akan menjadi keledai yang dibelenggu oleh rantai pihak dominan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s