MEMBONGKAR SOLIDARITAS PALSU DI BAWAH BAYANG-BAYANG IDEOLOGI PIHAK DOMINAN

Dalam tulisan terdahulu yang berjudul TINJAUAN KRITIS TERHADAP POLA HUBUNGAN SOSIAL ANTAR INDIVIDU DARI SUB KELOMPOK TERTENTU MAUPUN ANTAR SUB KELOMPOK SECARA UMUM : SUATU PENGAMATAN TERHADAP BEBERAPA SEKOLAH SWASTA DI JAKARTA penulis pernah membahas tentang lemahnya ikatan sosial di kalangan pelajar. Terkait hal ini penulis pun menambahkan sebelumnya bahwa terlalu munafik ketika ada suatu event yang mengatasnamakan persatuan atau rasa kekeluargaan dari sekolah yang bersangkutan (misalnya, malam keakraban, reunion, dan sejenisnya). Dalam tulisan ini penulis bermaksud untuk menyadarkan pembaca apabila pembaca sekalian berada di dalam situasi sebagaimana yang telah penulis paparkan dalam tulisan tersebut. Penulis ingin pembaca untuk membuka mata dan tidak dibelenggu oleh ideologi pihak dominan yang menutup lubang hitam konflik sehingga dunia terlihat damai.

Tidak Adanya Pengakuan Yang Setara

Salah satu basis utama dari konflik adalah tidak adanya pengakuan yang setara sehingga terbentuk stratifikasi. Seperti pemaparan penulis dalam tulisan terdahulu bahwa terbentuknya kelompok-kelompok yang tidak tersatukan secara utuh dapat membentuk status yang berbeda-beda. Alhasil satu sama lain tidak saling memandang sama dan dapat saling memandang rendah lalu berujung pada perlakuan yang berbeda bagi orang yang dianggap rendah. Ada orang-orang tertentu yang hanya respek dan mengakui mereka yang mempunyai status yang sama sehingga sense of belonging pun hanya muncul bagi mereka yang sama dengan dirinya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya rasa tidak senang satu dengan yang lainnya. Kenyataan ini memang cukup mengherankan karena rasanya sekolah selalu mendidik para peserta didik untuk tidak membeda-bedakan satu sama lain.

Axel Honneth, seorang penganut aliran kritis mengatakan bahwa resistensi dan konflik sosial akan muncul ketika tidak ada pengakuan atau rekognisi yang seharusnya diperoleh. Memang tidak tercipta konflik besar dalam kasus yang penulis angkat, namun kebencian yang terpendam (konflik terselubung) pun muncul karena beberapa orang tidak mendapatkan pengakuan dan perlakuan sebagaimana seharusnya. Memang sulit mengekspresikan rasa tidak suka yang berujung pada pertikaian mengingat para peserta didik terikat oleh peraturan sekolah yang melarang pertikaian. Kebencian inilah yang menjadi sumber disintegrasi. Oleh karena itu, realita yang sesungguhnya adalah disintegrasi. Jikalau integrasi itu ada, maka integrasi ini bukanlah sesuatu yang genuine (berdasarkan semangat para peserta didik untuk bersatu walaupun berbeda subkelompok) karena hanya merupakan suatu keterpaksaan, misalnya karena peraturan sekolah (tekanan struktural).

Konflik Bertopeng Integrasi

Teori-teori konflik berasumsi bahwa kondisi yang stabil merupakan suatu kondisi yang dipaksakan oleh pihak yang dominan. Selain pemaksaan upaya untuk menjaga kestabilan sistem yang senjang dapat melalui jalan ideologi dari kelompok dominan. Penggunaan ideologi dalam teori-teori konflik lekat dengan pengaruh Marxisme yang berangkat dari ekonomi sebagai basisnya sehingga kita perlu melebarkan sayap di luar ranah ekonomi. Seorang Weberian Conflict, Randall Collins memberikan penjelasan mengenai konflik (teori konflik mengenai stratifikasi) di wilayah mikro, yakni interaksi sosial. Disebutkan bahwa pihak dominan (yang mempunyai resource) dapat menekan (oppressing / exploiting) mereka yang tidak punya resource. Selain itu Collins juga menjelaskan bahwa pihak dominan dapat imposing their idea to those without resources.

Pihak dominan sebagaimana yang penulis singgung dalam tulisan terdahulu tentu saja subkelompok atau anggota subkelompok yang biasa terkenal populer di angkatannya karena memiliki sumber daya apa pun itu yang membuat mereka menempati posisi dominan yang selanjutnya menekan orang-orang atau subkelompok yang tidak dominan. Kelak ketika sudah lulus dan dibentuk jaringan alumni mereka dapat kembali berperan untuk mengadakan event yang tajuknya untuk menghangatkan tali persahabatan. Mereka (tidak semua oppressor) menanamkan ideologi solidaritas kepada kelompok yang tidak dominan agar menghadiri event yang dimaksud. Salah satu alasan di balik ini mungkin saja untuk menjaga image angkatan di hadapan berbagai pihak terutama para guru seperti yang pernah penulis paparkan. Ideologi solidaritas itu biasanya mewujud dalam pernyataan-pernyataan yang terlihat manis agar oppressed subgroup(s) merasa tersatukan dalam sistem yang senjang tanpa menyadari kesenjangan yang ada.

Penulis harap pembaca lebih berhati-hati jikalau menerima undangan untuk menghadiri event semacam itu apalagi ada unsur persuasif yang cukup kuat agar pembaca menghadiri acara tersebut. Sekilas pembaca mungkin merasa senang karena merasa menjadi bagian di dalam sistem yang seolah-olah horizontal. Akan tetapi, pembaca harus kritis agar tidak menjadi keledai yang dikurung dalam interest pihak dominan. Pembaca harus bertanya apakah artinya menghadiri acara semacam itu? Apakah betul acara itu bertujuan untuk maintaining solidarity? Jikalau pembaca yakin bahwa acara tersebut berfungsi secara manifes untuk menjaga integrasi lantas pembaca harus menyelidiki apakah betul bahwa integrasi itu sudah tercipta sebelumnya. Logikanya upaya untuk menjaga integrasi didahului oleh terciptanya integrasi sehingga jikalau integrasi belum tercipta, maka apa yang mau dijaga? Lalu istilah integrasi itu ditujukan untuk siapa? Apakah integrasi ini mencakup semua atau hanya di kalangan subkelompok tertentu saja? Pembaca harus dapat membedakan kedua hal ini secara logis agar tidak terjebak.

Selanjutnya apakah betul konflik telah lenyap atau hanya menyembunyikan diri di benak setiap anggota? Menyembunyikan rasa benci hanyalah suatu cara yang dilakukan oleh aktor untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk, misalnya terjerat peraturan sekolah. Karakteristik aktor ini sendiri ditegaskan oleh salah satu prinsip filsafat pragmatisme John Dewey yang menyebutkan bahwa aktor memiliki mind dan aktor dapat berpikir untuk mengeliminasi kemungkinan yang negatif. Tampilan integrasi yang ditawarkan oleh pihak dominan hanyalah topeng untuk menutupi kenyataan yang terjadi. Oleh karena itu, pembaca harus lebih waspada agar tidak terjebak dalam kreativitas kelompok dominan. Pembaca harus berani membongkar kenyataan yang ada dan tentunya berpikir secara kritis (tidak taken for granted).

Hiperealita Solidaritas

Media sosial telah mempunyai banyak fungsi salah satunya menghubungkan satu dengan yang lainnya agar tetap dapat berkomunikasi sekalipun jarak menjadi pemisah. Media sosial seperti Facebook dapat pula dimanfaatkan untuk menyimpan kenangan visual karena adanya fitur album foto. Foto-foto kenangan dapat diunggah dan diberi nama. Pembaca harus lebih jeli dan kritis apabila melihat adanya album atau foto yang diberi label “kebersamaan”, “momen indah bersama”, dan sejenisnya terlebih jikalau pembaca ada di dalam (tagged-in) foto atau album yang bersangkutan. Pembaca harus menyadari bahwa media menyajikan hiperealita sehingga orang tidak lagi dapat membedakan yang real dan yang unreal sebagaimana yang dijelaskan oleh Jean Budrillard.

Sekali lagi pembaca harus kritis. Siapakah pemilik kebersamaan yang ditampilkan secara visual itu? Apakah karena pembaca berada dalam album dengan label itu, maka pembaca secara otomatis berada di dalam keadaan harmonis tersebut? Untuk menjawab hal ini pembaca harus menilik pada realita yang sesungguhnya lalu mengkritisinya. Kemudian frase “kebersamaan kita” dan sejenisnya juga harus diteliti lebih jauh. Pembaca harus berani melontarkan pertanyaan siapa saja yang termasuk “kita”. Label “kita” memang diberikan untuk foto atau album tempat pembaca nampak secara visual di dalamnya, namun secara ikatan sosial apakah pembaca layak untuk masuk ke dalam wilayah “kita”?

Satu hal yang pembaca harus perhatikan adalah album atau foto semacam itu dapat berfungsi secara laten untuk menyampaikan ideologi solidaritas dari pihak dominan. Oleh karena itu, pembaca harus berhati-hati dan tidak menelan begitu saja apa yang terlihat indah. Lagipula situasi (kebahagiaan, kebersamaan, dan lain-lain) dalam foto dapat dikondisikan menurut setting saat pengambilan foto yang berada di luar kendali orang-orang di dalam foto. Sebagai contoh, jikalau pengambilan foto dilakukan tatkala sedang melangsungkan acara perpisahan, maka tentu saja tampilannya adalah kesedihan karena berpisah sehingga seolah-olah seluruh anggota tidak ingin berpisah satu sama lain. Emile Durkheim menyebutkan istilah social current untuk kejadian ini. Akan tetapi, Durkheim melupakan keberadaan agen yang aktif sehingga tidak semata-mata terkurung dalam arus sosial dan mereka punya perasaan masing-masing sehingga tidak tentu semua merasakan kesedihan.

Pembaca harus senantiasa melihat kenyataan yang sesungguhnya dan mengkritisi apa yang disuguhkan. Jika pembaca menerima segala sesuatunya secara taken for granted, maka pembaca akan terus berada di dalam belenggu pihak dominan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s