KEMAJUAN TEKNOLOGI DAN ANONIMITAS DI RUANG KOTA : “ANDA MUNGKIN LEBIH MENGENAL BENDA MATI KETIMBANG ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA”

Rasanya akan menjadi sesuatu yang tidak lazim jikalau seseorang yang hidup di tengah-tengah mewahnya kehidupan kota melontarkan pertanyaan kepada publik mengenai kegunaan dari suatu gadget sebagai wujud dari kemajuan teknologi. Pertanyaan aksiologis semacam itu seharusnya cukup dijawab di dalam benak sendiri tanpa perlu menanyakannya kepada orang lain. Sudah cukup jelas bahwa teknologi berperan penting untuk mempermudah kehidupan dan memenuhi kebutuhan para penggunanya. Walau demikian kita perlu merenungkannya lebih jauh. Benarkah pengaruh gadget hanya berhenti sampai pada titik pemenuhan kebutuhan para penggunanya? Tentu saja tidak sesederhana itu. Sebenarnya kemajuan teknologi yang hidup dalam suatu gadget tidak hanya membantu kita untuk hidup lebih mudah karena benda mati itu juga dapat menghalangi kita untuk mengenali banyak orang di sekitar kita dan kita sendiri juga bisa menjadi orang yang tidak dikenal karena keberadaan teknologi itu.

Penulis dan mungkin juga pembaca sekalian hidup di dalam lingkungan di mana ada banyak orang yang tidak saling mengenal. Ada banyak faktor memang dan kemajuan teknologi yang mewujud dalam bentuk gadget yang lekat dengan kehidupan kita merupakan salah satu faktornya. Kemajuan teknologi tentu sangat menarik perhatian kita sehingga fokus kita menjadi terkunci pada teknologi yang bersangkutan. Penggunaan gadget yang berlebihan seringkali membuat kita menjadi tidak peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Kita hanya berkonsentrasi untuk mengoperasikan teknologi tersebut dan akibatnya interaksi dengan orang lain pun menjadi sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali sehingga kita tidak mengenali orang-orang di sekitar kita. Orang-orang di sekitar kita hanya nampak sebagai makhluk-makhluk dengan identitas yang tidak diketahui. Identitas pun seolah-olah lenyap di ruang kota.

Ada satu contoh sederhana. Penulis merupakan salah satu peserta mata kuliah MPK Bahasa Inggris di ruang E 301. Setiap pagi sebelum kelas dimulai biasanya ada banyak mahasiswa/i yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Ada yang mengetik tugas, ada yang larut dalam alunan musik yang tersimpan di gadget-nya, ada yang asik berkirim pesan, ada yang berjuang untuk menuntaskan misi dalam permainan mini di gadget-nya, dan masih banyak lagi aktivitas yang berkaitan dengan gadget-nya. Singkatnya keberadaan gadget tersebut menekan potensi mereka untuk saling berinteraksi agar dapat mengenal satu dengan yang lain. Puncaknya tentu saja sewaktu presentasi dan seluruh anggota kelas harus menilai penampilan kelompok yang maju presentasi hari itu dengan mengisinya pada borang yang sudah disediakan. Para mahasiswa/i kebingungan ketika harus mengisi kolom nama presenter di borang penilaian karena mereka tidak saling mengenal meskipun hidup di fakultas yang sama, bahkan ruang kelas yang sama. Bahkan sekalipun nama para presenter sudah terpampang jelas di slide, tetap saja banyak yang masih bingung karena tidak tahu siapa pemilik dari nama-nama itu. Ini merupakan contoh sederhana karena tentu saja masih banyak contoh-contoh lain dalam kehidupan kampus yang mencerminkan hal serupa.

Pembaca mungkin lebih mengenal gadget yang menemani pembaca setiap saat dibanding orang-orang di sekitar pembaca yang sering hidup bersama di satu ruang. Inilah salah satu potret kehidupan di perkotaan yang menggambarkan tingginya tingkat anonimitas. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Louis Wirth bahwa ruang kota diisi oleh begitu banyak orang yang tinggal berdekatan, tapi cenderung tidak mengenal satu sama lain. Hal serupa juga disebutkan oleh Tonnies di mana kita hidup bersama dengan orang-orang yang tidak kita kenali di kota. Dalam hal ini penulis menuding pemakaian gadget yang berlebihan sebagai salah satu tembok penghalang bagi kita untuk mengenal orang-orang di sekitar. Sebenarnya hal ini tidak harus terjadi jikalau kita mampu mengontrol penggunaan teknologi dan bukan menjadi budak dari kemajuan teknologi. Apakah pembuat gadget bertujuan untuk membuat penggunanya menjadi terasing dalam kehidupan karena terkurung dalam kemewahan yang disajikan oleh benda mati itu? Penulis rasa tidak. Efek dari penggunaan teknologi yang berlebihan itu mungkin tidak terlalu dipikirkan oleh pembuatnya termasuk juga para penggunanya.

Sebaiknya kita mulai mengurangi orientasi yang terlalu berlebihan pada penggunaan gadget, sebab kita adalah makhluk yang aktif yang seharusnya mengendalikan benda mati. Dengan kata lain kita harus lebih bijaksana dalam menggunakan gadget agar kehidupan menjadi lebih baik. Keberadaan gadget memang membuat kehidupan kita menjadi lebih berwarna, namun penulis rasa warna kehidupan kita akan jauh lebih indah apabila kita mampu mengenali lebih jauh orang-orang di sekitar kita karena hakikat dari manusia sendiri adalah makhluk sosial yang memerlukan keberadaan sesamanya. Mari belajar untuk lebih mengenal orang-orang di sekitar kita dan memperlebar sayap persahabatan dengan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s