LATAR BELAKANG DIBALIK SOSIALISASI ATAU TEKANAN DARI GURU DAN ORANG TUA BAGI PESERTA DIDIK AGAR BERPRESTASI DAN KEBERADAAN PESERTA DIDIK SEBAGAI INDIVIDU YANG AKTIF

Dalam tulisan sebelumnya (PENGARUH SOSIALISASI ATAU TEKANAN DARI GURU DAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU MENCONTEK PESERTA DIDIK) penulis mengutarakan bagaimana seorang peserta didik dapat melakukan tindakan mencontek di sekolah dikarenakan adanya tekanan dari pihak orang tua atau guru. Walau demikian sebuah kritik dapat dilayangkan untuk pembahasan itu dengan argumentasi yang berpijak pada asumsi-asumsi dalam teori pertukaran milik George Homans. Salah satu kritik yang dapat dilayangkan atas ulasan penulis sebelumnya adalah nihilnya argumentasi mengenai mekanisme reward dan punishment. Seorang peserta didik yang berhasil menunaikan kewajibannya untuk mencetak prestasi gemilang di kelas tentu bisa menuntut reward dari orang tua atau gurunya. Memang di satu sisi dirinya menghindari hukuman atau konsekuensi negatif apabila gagal menjalankan tugas, tapi tak dapat dilupakan bahwa ia menginginkan imbalan.

Memang bisa dibenarkan bahwa ada kecenderungan bagi seorang peserta didik untuk mencontek jikalau kemampuannya tidak cukup untuk memenuhi tuntutan yang dibebankan padanya. Namun demikian, tak boleh dilupakan pula bahwa peserta didik bukanlah individu yang pasif karena dirinya pasti memiliki kebutuhan yang diperoleh melalui perilaku orang lain (orang tua atau guru) terhadapnya di mana dalam hal ini adalah mekanisme rewarding untuk setiap keberhasilan. Bisa saja peserta didik akan melontarkan kemarahan jikalau tidak mendapatkan reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilannya (the aggression-approval propositions : when a person’s action does not receive the reward he expected, or receives punishment he did not expect, he will be angry ; he becomes more likely to perform aggressive behavior, and the results of such behavior become more valuable for him). Terkait hal itu penulis akan melengkapi pembahasan dalam tulisan sebelumnya dengan berpijak pada penjelasan dari George Homans sendiri, yakni proposisi-proposisi yang disusunnya dalam hal pertukaran. Dengan memakai tool ini berarti penulis sendiri juga harus membahas dari sudut pandang orang tua atau guru sebagai pemberi tuntutan bagi peserta didik dan penulis akan menggunakan dua dimensi stratifikasi buatan Max Weber, yaitu status dan kelas untuk menggambarkan kondisi orang tua dan guru.

Pertama-tama penulis akan membahas dari posisi peserta didik. George Homans menyatakan bahwa seseorang akan mengulangi tindakannya bagi orang lain apabila hal itu mendatangkan reward (the success proposition : for all actions taken by persons, the more often a particular action of a person is rewarded, the more likely the person is to perform that action). Di sini peserta didik tentu akan berjuang untuk meningkatkan atau mempertahankan prestasi baiknya dengan maksud mendapatkan reward dari orang tua atau guru selaku pihak-pihak yang memberinya tuntutan berprestasi. Selanjutnya peserta didik yang merasa bahwa pencapaian akademik dapat menjadi tambang reward tentu akan memfokuskan dirinya untuk meraup sukses di bidang yang sama agar kembali mendapatkan hadiah (the stimulus proposition : if in the past the occurrence of a particular stimulus, or set of stimuli, has been the occasion on which a person’s action has been rewarded, then the more similar the present stimuli are to the past ones, the more likely the person is to perform the action, or similar action).

Peserta didik pasti berusaha untuk mempertahankan atau bahkan melejitkan prestasinya setinggi mungkin dengan asumsi bahwa semakin besar pencapaian, maka hadiah yang didapatkannya tentu akan semakin besar. Orang tua atau guru tentu akan berusaha untuk meningkatkan level dari reward yang mereka berikan agar seorang peserta didik tidak berhenti di jalan (the deprivation-satiation proposition : the more often in the recent past a person has received a particular reward, the less valuable any further unit of that reward becomes for him). Tentu saja apabila hadiah yang didapatkan oleh peserta didik semakin besar, maka pasti ia akan semakin giat dalam menggenapi tuntutannya (the value proposition : the more valuable to a person is the result of his action, the more likely he is to perform the action). Berusaha meningkatkan pencapaian akademik tentu pararel dengan semakin menjauhi hukuman atau konsekuensi buruk (tidak mendapatkan reward) yang bisa didapatkan apabila tidak berhasil mencetak prestasi yang baik, sebab sudah jelas bahwa orang tua atau guru tentu saja tidak akan memberikan reward apabila seorang peserta didik mengalami penurunan prestasi akademik atau bahkan mereka bisa memberikan cemoohan yang di mata peserta didik bersifat negatif.

Setelah membahas dari sisi peserta didik sekarang penulis akan mengulas dari sudut pandang orang tua atau guru. Dalam hal ini tentu tak boleh dilupakan kelas dan status mereka di masyarakat. Orang tua tentu saja ingin anaknya mencetak prestasi besar agar kelak mudah mendapatkan pekerjaan bagus yang berimplikasi pada meningkatnya kesejahteraan keluarga. Orang tua tentu ingin mempertahankan atau bahkan naik kelas (mobilitas vertikal) dengan mengandalkan kekayaan sang anak. Guru pun ingin memiliki status sebagai guru teladan karena mampu mencetak lulusan yang berprestasi karena keberhasilan para peserta didik (dalam Ujian Nasional misalnya) tidak hanya mengharumkan nama sekolah, namun para guru di dalamnya pun ikut ketumpahan berkah. Status sebagai guru yang berhasil tentu akan membuat dirinya dipakai terus atau bahkan akan banyak murid yang meminta pelajaran tambahan darinya yang berarti bertambahnya penghasilan. Dengan bertambahnya penghasilan tentu saja seorang guru juga akan naik kelas dan hal ini berkaitan dengan life chances seperti yang diungkapkan oleh Weber. Untuk mewujudkan semua hal ini di masa depan baik guru atau orang tua melakukan berbagai usaha (memberikan reward) agar peserta didik melaksanakan tuntutan mereka.

Usaha yang dilakukan oleh orang tua atau guru tak lain adalah pemberian reward agar peserta didik yang bersangkutan dapat terus mengejar prestasi akademik dan meningkatkan pencapaiannya. Baik orang tua atau guru akan memberikan reward (the success preposition) bahkan meningkatkannya (the value preposition : an increase in reward is more likely to elicit the desired behavior) agar peserta didik semakin berprestasi, sebab semakin peserta didik berprestasi tentu saja peluang kesuksesannya di masa depan akan cukup besar di mana baik orang tua atau guru akan terkena imbas dari kesuksesan, seperti misal orang tua mengandalkan kesukesan anaknya di dunia kerja agar tetap sejahtera, sedangkan guru mengandalkan prestasi akademik peserta didik agar memperoleh status baik yang dapat berimplikasi pada meningkatnya penghasilan. Reward yang diberikan beragam tergantung keputusan masing-masing pihak. Tentu saja hukuman atau konsekuensi negatif sudah disiapkan apabila peserta didik gagal (an increase in punishment means that the actor is less likely to manifest undesired behavior). Meski demikian, seperti yang dikatakan oleh Homans bahwa hukuman tidak bersifat efisien untuk mendorong orang agar berubah sehingga lebih tepat apabila konsekuensi yang diberikan adalah no rewarding. Konsekuensi negatif yang menjadi ancaman bagi peserta didik di sisi lain menjadi pelecut baginya untuk tetap berprestasi di bidang akademik.

Di sini kita telah melihat dari dua sisi, yakni pihak yang menuntut atau menyosialisasikan peserta didik untuk berprestasi dan peserta didik sebagai individu yang aktif terhadap tuntutan. Keduanya saling memerlukan dan memperoleh keuntungan dari tindakan orang lain. Dengan demikian orang tua atau guru tidak semata-mata memberikan tuntutan atau menyosialisasikan peserta didik untuk berprestasi karena ada motivasi di baliknya. Sebaliknya, peserta didik sebagai individu yang aktif juga mencari reward melalui perjuangannya untuk menghasilkan pencapaian akademik yang cemerlang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s