PENGARUH SOSIALISASI ATAU TEKANAN DARI GURU DAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU MENCONTEK PESERTA DIDIK

Mencontek saat ujian bukanlah fenomena yang langka dalam dunia pendidikan. Bahkan hal ini telah menjadi salah satu masalah besar yang kerap kali mengganggu proses belajar mengajar. Secara kasar kita dapat menuding peserta didik yang melakukan kecurangan tersebut sebagai pusat masalah, namun benarkah perilaku mencontek tidak berhubungan sama sekali dengan pengaruh dari lingkungan sekitar? Apakah benar bahwa peserta didik hanyalah individu yang bergerak sendiri tanpa ada pengaruh dari lingkungannya? Tidak dapat disangkal bahwa perilaku mencontek peserta didik tidak muncul begitu saja, melainkan ada pengaruh dari lingkungan di sekitar. Dalam tulisan kali ini penulis akan membahas secara khusus mengenai pengaruh dari guru dan orang tua peserta didik terhadap perilaku mencontek yang dianggap sebagai sebuah penyimpangan karena melanggar peraturan sekolah.

Budaya Nilai Tinggi (Prestasi Gemilang)

Pembaca mungkin pernah mendapatkan sosialisasi atau tuntutan dari orang tua agar mencetak prestasi yang apik di sekolah. Prestasi yang mentereng itu tak ubahnya nilai-nilai tinggi yang terpampang di laporan hasil belajar dan tentunya berimplikasi pada peringkat yang bagus. Selain pengaruh orang tua mungkin guru di kelas juga memotivasi atau menuntut peserta didik untuk bekerja keras agar memperoleh nilai yang baik dalam ujian. Orientasi studi untuk mendapatkan nilai tinggi tentu saja sudah menjadi budaya dalam dunia pendidikan kita dan orang tua bersama dengan guru berperan besar dalam mensosialisasikan hal tersebut. Dengan menorehkan nilai yang baik tentu saja seorang peserta didik diharapkan bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan kelak.

Berkaca dari hasil penelitian Pierre Bourdieu di Prancis, maka pencapaian peserta didik ditentukan oleh latar belakang keluarganya. Jikalau keluarga dari seorang peserta didik mampu mentransmisikan etos kerja yang baik dan cultural capital, maka ia akan mampu menorehkan pencapaian yang baik. Lebih lanjut lagi hal senada juga diutarakan oleh seorang sosiolog Swiss, Philippe Perrenoud yang menyatakan bahwa cultural background dalam keluarga berperan penting dalam mengantarkan peserta didik untuk meraih prestasi gemilang. Dari sini kita dapat melihat bahwa latar belakang keluarga turut mendukung pencapaian peserta didik. Dengan demikian jikalau latar belakang keluarganya mendukung, maka seorang peserta didik dapat dengan mudah memenuhi tuntutan untuk berprestasi secara baik di sekolahnya. Akan tetapi, latar belakang keluarga tidak berdiri sendiri.

Pentingnya IQ Dalam Dunia Akademik

Dalam tulisan terdahulu (Pentingnya IQ Di Dunia Akademik dan Multiple Intelligences Menggugurkan IQ yang terdiri atas tiga seri) penulis pernah mengulas secara umum mengenai pentingnya skor intelegensia dalam pencapaian di sekolah dan alasan mengapa nilai IQ berperan penting untuk menunjang pencapaian akademik. Alhasil latar belakang keluarga yang mampu melengkapi seorang peserta didik untuk siap bersaing di sekolah tidak berdiri sendiri karena kemampuan individu juga bermain.

Peserta didik yang mempunyai skor IQ tinggi atau setidaknya di atas normal akan cenderung lebih mudah dalam mengikuti pelajaran di kelas terlebih jikalau ditunjang oleh latar belakang keluarga sebagaimana yang dipaparkan oleh Bourdieu dan Perrenoud. Sebaliknya mereka yang tidak cerdas akan kesulitan dalam mengikuti pelajaran di kelas. Oleh karena itu, peserta didik dengan IQ yang tidak tinggi tentu akan kesulitan untuk merealisasikan tuntutan agar berprestasi apik. Skor IQ sendiri merupakan salah satu unsur pembentuk stratifikasi di sekolah dan posisi (strata) seorang peserta didik terkait skor IQ-nya dapat menjadi acuan akan prestasi akademiknya walaupun secara empiris tidak seluruh peserta didik dengan skor IQ tinggi mampu menorehkan nilai yang tinggi.

Meski demikian kapasitas pencapaian peserta didik tentu saja bervariasi sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Hal ini membuat kita tidak dapat mengeneralisasikan standar nilai baik ke seluruh peserta didik yang tentunya tidak seragam dalam hal kecerdasan. Namun demikian, terkadang mungkin orang tua atau guru memberikan tuntutan yang berlebihan kepada seorang peserta didik dalam artian seorang peserta didik diharuskan untuk berprestasi terlalu tinggi (melampaui kapasitasnya). Bukan tidak mungkin seorang peserta didik dituntut untuk mampu berprestasi lebih baik dibanding peserta didik lain yang lebih cerdas. Hal ini tentu berbahaya.

Mencontek Sebagai Upaya Memenuhi Tuntutan

Robert Merton, seorang fungsionalis modern menyatakan bahwa tatkala seseorang tidak mampu mewujudkan tuntutan atau target yang dikarenakan oleh keterbatasannya (keterbatasan yang dikarenakan posisinya dalam struktur sosial), maka ia dapat melakukan perilaku menyimpang demi merealisasikan goal tersebut. Dalam konteks ini kita dapat mengadopsi pernyataan Merton untuk menjelaskan mengapa seorang peserta didik mencontek di kelas di mana perilaku mencontek itu dianggap sebagai salah satu bentuk penyimpangan.

Peserta didik yang terbatas karena tidak mampu memenuhi tuntutan untuk berprestasi baik dapat mengalihkan usaha kerasnya pada upaya-upaya yang dilarang oleh sekolah. Mencontek adalah jalan terbaik yang dapat dilakukan untuk memenuhi tuntutan yang datang baik dari orang tua atau mungkin guru jikalau kemampuan sudah tidak dapat menutup besarnya tuntutan. Harus diperhatikan bahwa dengan mencontek seorang peserta didik bisa memperoleh pencapaian yang melampaui kapasitasnya dan mungkin melangkahi tuntutan yang dibebankan di pundaknya. Hanya saja usaha yang satu ini mengandung resiko yang cukup besar. Taruhannya boleh dikatakan cukup berat karena ada sekolah yang memberikan sangsi berat, misal pengeluaran dari sekolah apabila tertangkap mencontek. Selain itu cemoohan yang datang dari rekan-rekan pun dapat dihitung sebagai resiko.

Dari sini seorang peserta didik tidak berdiri sendiri sebagai aktor utama karena perilakunya dipengaruhi oleh orang tua atau guru yang memberikan tuntutan yang berlebihan.Budaya nilai tinggi atau prestasi gemilang dan keterbatasan yang dimiliki oleh peserta didik memiliki konsekuensi negatif (dysfunction). Dengan demikian secara tidak langsung tudingan dapat diarahkan pada orang tua atau guru. Orang tua dan guru harus mampu mendefinisikan dengan benar yang dimaksud dengan pencapaian akademik. Tuntutan akan pencapaian akademik harus berbanding lurus dengan kapasitas peserta didik itu sendiri (tentu faktor latar belakang keluarga seperti yang dipaparkan oleh Bourdieu dan Perrenoud dapat diikutsertakan). Pencapaian terbaik dari seorang peserta didik adalah usaha maksimalnya dengan memanfaatkan seluruh modal yang dimiliki. Itulah pencapaian terbaik yang sesungguhnya dan tidak lebih dari itu.

Sangat penting bagi orang tua dan guru mengidentifikasi kapasitas akademik seorang peserta didik beserta modal lainnya untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Hal ini bertujuan supaya peserta didik tidak mendapatkan tuntutan yang berlebihan, melainkan disesuaikan dengan kapasitas penunjang yang dimilikinya. Bagi penulis tentu saja faktor tuntutan dari orang tua dan guru dapat mendorong peserta didik untuk mencontek agar dapat menggenapi tuntutan yang dibebankan. Meski demikian tetap ada kekuatan yang mengendalikan orang tua dan guru atau khususnya pada orang tua. Dalam masyarakat sendiri pencapaian akademik tetap menjadi salah satu indikator akan posisi yang tinggi dalam lapangan pekerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s