SEBUAH FILOSOFI MENGENAI PERTEORIAN SOSIOLOGI : Sebuah Telaah Awal

Ada yang mengatakan bahwa social sciences (dalam hal ini sosiologi) berbeda dengan ilmu-ilmu alam karena social sciences sangatlah fleksibel. Namun demikian, ada pula hukum-hukum atau prinsip dalam sosiologi yang merumuskan gambaran mengenai masyarakat secara pasti dalam artian hukum tersebut menjelaskan bahwa kondisi masyarakat adalah seperti itu dan bukan yang lain. Terkait hal ini sebut saja the law of three stages milik seorang pioneer sosiologi, Auguste Comte. Comte merumuskan hukum tiga jenjang di mana masyarakat berkembang dalam tiga tahapan, yakni tahap teologis, metafisik, dan saintifik. Dari hukum yang ditelurkan oleh pencetus istilah social physics tersebut bisa dilihat seolah-olah masyarakat berkembang secara pasti sesuai dengan hukum tiga jenjang sehingga nampak bahwa ada unsur rigiditas dalam penjelasan di sosiologi. Akan tetapi, jauh hari kemudian lahir era post modern yang jelas-jelas meninggalkan sciences (berbeda dengan tahap saintifik di mana masyarakat percaya pada sciences) dan kaum intelektual pun kembali merumuskan berbagai konsep dan teori terkait kondisi paling terkini. Dengan demikian penjelasan-penjelasan dalam sosiologi pun menjadi sangat kompleks.

Dialektika Dalam Penjelasan Sosiologis

Sekarang penulis akan memulai penjelasan yang berakar pada dialektika Hegel yang kemudian diadopsi oleh seorang revolusionis ternama, Karl Marx. Pada dasarnya proses dialektik menekankan pada keadaan bahwa semua gagasan terus berkembang dan berubah, serta memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Melalui proses dialektis manusia semakin dekat pada kebenaran yang menyeluruh. Dalam proses dialektis terdapat tesis yang kemudian menuju ke sintesis melalui antitesis dan setelah sampai pada sintesis proses diulang lagi. Contohnya adalah bahwa X (tesis) yang dianggap benar sejatinya tidak sepenuhnya benar dan agar kita dapat lebih sampai pada kebenaran yang sempurna, maka X harus dihadapkan pada Y (antitesis) yang jelas berbeda dari X. Dari pertentangan antara X dan Y muncul Z (sintesis) yang merupakan sintesis dan lebih dekat pada kebenaran yang menyeluruh.

Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menggambarkan seperti apa penjelasan dalam sosiologi. Banyak penjelasan dalam sosiologi sesungguhnya mengandung benih kontradiksi yang kemudian tumbuh melalui penjelasan ahli lain. Beberapa contoh, misalnya sosok Antonio Gramsci yang menolak perkembangan sejarah yang terjadi secara otomatis seperti yang ada dalam penjelasan Marx. Setelah itu ada Baran dan Sweezy yang mengkritisi Marx karena mengedepankan keberadaan ekonomi kompetitif dan mereka pun menawarkan konsep baru, yaitu monopoli kapitalisme. Selanjutnya Gramsci dalam posisi yang bertentangan dengan Marx juga memaparkan bahwa revolusi terjadi melalui ideologi revolusi yang ditanamkan oleh kaum intelektual dan bukan hasil dari tekanan struktural semata-mata. Kemudian ada juga kritik dari kaum Marxist terhadap teori sistem dunia Immanuel Wallerstein yang dianggap tidak lengkap dalam menggambarkan hubungan antar kelas. Tentu saja masih banyak contoh lain yang akan sulit dibahas satu per satu dalam tulisan ini.

Beberapa kritik atas penjelasan-penjelasan terdahulu lantas memunculkan suatu penjelasan baru sebagai suatu sintesis dan kelak proses dialektika akan berulang ketika ada kritik lain yang diluncurkan untuk penjelasan terbaru itu. Alhasil penjelasan dalam sosiologi pun menjadi semakin kompleks dan jauh dari sifat rigid. Dialektika dalam ilmu-ilmu sosial menggambarkan bahwa sosiologi bukanlah ilmu yang bersifat konstan dan kaku, sebab setiap teori dan konsep bisa mengandung benih kontradiksi yang membawa pada pembaharuan.

Perkembangan dan Kompleksitas Masyarakat

Sejatinya teori-teori sosiologi merupakan suatu penjelasan logis atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Teori-teori tersebut lantas digunakan sebagai suatu landasan berpikir untuk memecahkan persoalan atau menjelaskan peristiwa lain yang sinkron dengan isi dari teori yang digunakan. Akan tetapi, harus diperhatikan bahwa masyarakat selalu berubah sehingga teori-teori sosiologi pun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan teori-teori sosiologi menjadi tanda akan kompleksitas dari teori-teori sosiologi itu sendiri dan perkembangan atau perubahan teori sosial mengikuti perkembangan masyarakat.

Singkatnya dapat dikatakan bahwa masyarakat telah melalui berbagai tahapan yang beragam dan semakin hari tentu saja semakin kompleks. Perkembangan dan semakin kompleksnya masyarakat sendiri sudah dicoba untuk dijelaskan oleh beberapa ahli, semisal Emile Durkheim dalam The Division of Labor-nya menjelaskan bahwa masyarakat berkembang dari tradisional (pra industri) menjadi masyarakat modern yang lebih kompleks sehingga membutuhkan pembagian kerja (survival is possible through the divison of social labor). Lalu tidak boleh dilupakan ada sosok Gerhard Lenski yang menjelaskan perkembangan masyarakat berdasarkan penggunaan teknologi baru yang disebutnya sebagai sociocultural evolution. Selanjutnya Marx menyatakan bahwa perubahan sosial bersifat inheren di dalam masyarakat sebagaimana masyarakat membuat sejarah dengan memuaskan kebutuhan yang senantiasa meningkat. Kemudian ada sosok Max Weber yang mengatakan bahwa terjadi perkembangan masyarakat ke tahap kapitalis karena diadopsinya cara berpikir modern yang rasional dan dalam masyarakat modern yang rasional itu terdapat kompleksitas, misalnya beragamnya institusi sosial. Selain keempat tokoh tersebut tentu saja masih ada ahli lain. Penjelasan-penjelasan mereka setidaknya menjadi representasi akan perkembangan masyarakat.

Para ahli telah berusaha untuk menjelaskan berbagai gejala dalam masyarakat yang terus berkembang dan berubah. Kita akan menemukan kekayaan dari penjelasan para ahli itu karena memang gejala yang mereka abstraksikan berbeda-beda sesuai dengan apa yang terjadi dalam masyarakat saat itu. Sebagai contoh, misalnya Fordism yang menekankan pada homogenitas dalam masyarakat. Runtuhnya Fordism ditandai salah satunya oleh krisis minyak pada tahun 1973 dan kemudian muncul Post Fordism yang jelas berbeda dari Fordism karena Post Fordism menekankan pada heterogenitas. Lalu masih ada pula penjelasan mengenai Modernitas yang disebut-sebut sebagai buah dari Revolusi Industri yang kemudian mulai digantikan oleh keberadaan Post Modernity yang dicap sebagai buah dari Information Revolution. Kemudian perubahan di dalam teori-teori Neo Marxian yang berujung pada kemunculan teori-teori Post Marxist. Perubahan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor, misalnya berakhirnya perang dingin dan runtuhnya komunisme. Masih banyak lagi berbagai penjelasan yang berbeda mengenai masyarakat yang menggantikan pendahulunya. Semuanya menggambarkan masyarakat secara berbeda karena memang masyarakat selalu berganti tampilan. Dengan demikian tak dapat ditampik bahwa kita akan mendapati kondisi ilmu-ilmu sosial yang begitu kompleks dan fleksibel karena penjelasan dalam sosiologi selalu menyesuaikan diri dengan dinamika masyarakat terkini.

Berpegang Pada Yang Fleksibel dan Kompleks

Berpegang pada penjelasan-penjelasan dalam sosiologi tentu saja berbeda dengan mengandalkan penjabaran dalam ilmu alam yang cenderung lebih pasti dan kaku. Dari luar tampak bahwa ilmu alam lebih dapat diandalkan karena cenderung bersifat tetap dan tidak mengalami banyak perubahan. Walau demikian tema sosial tetap tidak dapat diasingkan dari kehidupan, sebab tema sosial tetap memiliki porsi yang besar bahkan sejak kemunculannya dalam filsafat kuno di Yunani. Semuanya dimulai dengan Socrates yang mengedepankan pentingnya melakukan kajian tentang masyarakat dan manusia. Akan tetapi, apakah tepat jikalau kita berpegang pada sesuatu yang bersifat fleksibel dan senantiasa berubah? Apakah tidak menjadi masalah jikalau kita bertahan di dalam sosiologi yang selalu berganti warna? Tentu saja tidak menjadi masalah.

Sudah menjadi natur dari sosiologi bahwa penjelasan di dalamnya bersifat kompleks dan senantiasa berubah (fleksibel). Pertama karena di dalam berbagai teori dan konsep terdapat proses dialektika sebagaimana yang sudah dijabarkan oleh penulis sebelumnya. Kedua, penjelasan-penjelasan dalam sosiologi mengikuti fenomena yang terdapat di dalam masyarakat dan fenomena sosial senantiasa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Meski demikian kompleksitas dalam sosiologi justru menjadi kekayaan tersendiri. Sosiologi memiliki beragam penjelasan yang kaya sebagaimana kondisi masyarakat yang tidak homogen. Oleh karena itu, bukan suatu kesalahan jika kita berpegang pada sesuatu yang kompleks mengingat kita hidup di dalam masyarakat yang kompleks.

Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita harus memilih penjelasan yang paling akurat yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan kondisi masyarakat tempat kita berada. Setiap masyarakat di belahan bumi ini memiliki perkembangannya masing-masing sehingga kita bisa memilih penjelasan yang paling dapat mewakili perkembangan masyarakat tempat kita berada saat ini. Paradigma yang kita pegang bisa saja berubah jikalau kondisi masyarakat tempat kita bernaung mengalami perubahan dan saat itulah kita harus mencari tools lain yang dapat dijadikan pijakan. Yang pasti perubahan sosial dalam masyarakat tidak akan dapat terhindarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s