KETIKA PERSATUAN BANGSA DIRUSAK OLEH WARGANYA SENDIRI : KASUS PAGE TIONGHOA ANTI ISLAM DALAM FACEBOOK

Keberadaan sebuah page Tionghoa Anti Islam dalam media sosial bernama Facebook beserta dengan isinya yang sangat diskriminatif menambah panjang daftar persoalan disintegratif yang melanda bangsa ini. Ini baru sebuah page karena penulis yakin bahwa masih ada banyak yang bersifat sama dan mungkin saja keberadaan page tersebut merupakan respon atas adanya page lain. Dalam page tersebut terdapat perbincangan yang saling menyudutkan satu sama lain baik etnis Tionghoa maupun etnis yang dicap sebagai pribumi ditambah dengan hinaan yang merujuk pada agama dan berbagai kosakata negatif bergelimang di dalam page itu. Tidak jelas memang siapa administrator dari page tersebut, namun siapa pun dia, maka bagi penulis ia tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai Warga Negara Indonesia yang seharusnya ikut dalam menjaga integrasi sosial dan nasional.

Penulis mendapati bahwa pemilik page itu menghina mereka yang disebut sebagai pribumi dengan kosakata yang memang bersifat menyudutkan, sebaliknya para pengguna Facebook yang merasa diri sebagai pribumi pun tersinggung karena ulah pemilik page yang merusak suasana persatuan bangsa dan mereka pun melakukan serangan balasan dengan komentar yang menurut penulis semakin mengancam keutuhan bangsa. Selain itu pemilik page juga mengolok-olok agama Islam dengan bumbu diskriminasi etnis, sedangkan komentar balasan pun dilayangkan dan beberapa di antaranya merendahkan ajaran Kristen. Kemudian dalam page tersebut terdapat sedikit ulasan mengenai asal usul ras dan suku-suku di Indonesia yang pada akhirnya kembali menyudutkan orang-orang yang disebut sebagai pribumi, misalnya perbedaan antara etnis Tionghoa dengan etnis-etnis yang dianggap pribumi walaupun mereka disebut-sebut datang dari satu wilayah yang sama, yakni daratan Cina.

Sebelum melangkah lebih jauh perlu diingat kembali mengenai dikotomi pribumi dan nonpribumi yang dihidupkan pada masa penjajahan Belanda. Dikotomi inilah yang seringkali menjadi dasar konflik antara etnis Tionghoa dengan etnis-etnis yang dianggap asli nusantara. Pada masa penjajahan Belanda istilah pribumi ditujukan kepada mereka yang ada di wilayah nusantara, kecuali bangsa Barat dan Timur Asing. Dengan demikian pengkotakan di wilayah nusantara ini disutradarai oleh pihak Belanda dan hal itu dipertegas dengan stratifikasi sosial buatan penjajah tersebut yang menempatkan mereka yang disebut sebagai pribumi di golongan terbawah. Namun demikian, istilah pribumi itu sendiri patut dikritisi lebih jauh (dapat dilihat pada pembahasan penulis dalam tulisan yang berjudul MARI BERKACA DARI SEJARAH). Singkatnya wilayah nusantara ditempati oleh para penduduk yang sesungguhnya adalah keturunan para pendatang (baik mereka yang merupakan etnis Tionghoa maupun etnis-etnis yang dianggap asli nusantara) sehingga tidak ada satu pun yang sebenarnya dapat disebut sebagai penduduk asli dan hanya waktu kedatangannya saja yang berbeda. Penyebutan asli dan tidak asli yang kemudian diwujudkan dalam stratifikasi sosial pada masa penjajahan kolonial hanyalah karangan Belanda semata sebagai kelas teratas. Para penduduk tersebut (termasuk empat orang perwakilan etnis Tionghoa yang selalu dianggap sebagai orang luar) kelak mengikrarkan sumpah pada 28 Oktober 1928 yang oleh DR.Victor Silaen ditunjuk sebagai peristiwa kelahiran bangsa Indonesia sebagai bangsa yang baru secara politis.

Sumpah untuk menjadi satu kesatuan yang ditopang oleh keberagaman itu lantas menjadi suatu nilai pengikat bangsa Indonesia sebelum akhirnya Pancasila dan UUD 1945 mempertegas nilai persatuan tersebut secara resmi dan formal. Akan tetapi, sangat disayangkan karena sumpah yang dilontarkan oleh golongan idealis kini tidak dapat dihidupi oleh generasi sesudah mereka seperti yang nampak dalam page Tionghoa Anti Islam tersebut. Mengacu pada empat golongan berdasarkan kualitas kesadaran berbangsa yang dikemukakan oleh Paulus Wirutomo, maka mereka yang ricuh di dalam page tersebut dapat dikategorikan sebagai golongan tradisionalis.

Sebagai golongan tradisionalis mereka menerima begitu saja integrasi menjadi satu bangsa yang terjadi secara otomatis. Paulus Wirutomo lebih lanjut lagi menekankan bahwa golongan ini merupakan orang-orang yang berpendidikan sederhana dan miskin akses terhadap informasi. Pernyataan terakhir ini mungkin tidak berlaku bagi pihak-pihak yang adu mulut di page tersebut, namun mereka terlihat seperti orang-orang yang tidak berpendidikan. Jikalau mereka memang adalah orang-orang yang terpelajar seharusnya mereka mampu menerapkan semangat kebangsaan yang ada dalam sejarah ke kehidupan masa kini. Pengetahuan sejarah bukanlah sesuatu yang hanya bernaung di dalam otak karena makna yang tersimpan di dalam sejarah harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan masa kini. Dengan perseteruan melalui page tersebut terlihat bagaimana mereka seolah-olah tidak pernah mengenyam pendidikan sejarah dan penjabaran ini bisa dipakai untuk menjelaskan kenapa golongan tradisionalis menerima integrasi sebagai sebuah bangsa secara begitu saja. Mereka yang terlibat percekcokan dalam page itu terlihat seperti orang-orang yang menerima persatuan bangsa secara begitu saja karena tidak memahami peristiwa sejarah (terlihat seperti orang yang tidak pernah belajar sejarah) padahal pelajaran sejarah menyajikan begitu banyak materi yang seharusnya dapat menjadikan manusia-manusia pasca kemerdekaan sebagai orang-orang idealis (lihat tulisan penulis yang berjudul PENDIDIKAN YANG MENGINTEGRASIKAN MASYARAKAT SECARA NORMATIF DEMI BANGKITNYA GOLONGAN IDEALIS PASCA KEMERDEKAAN).

Selanjutnya mari kita meninjau nama dari page yang bersifat disintegratif tersebut. Frase “Anti Islam” jelas terlihat menyudutkan agama mayoritas di Indonesia. Memang bisa jadi nama itu dimunculkan sebagai reaksi keras atas perilaku beberapa umat Islam yang dianggap mengganggu ketentraman, namun jangan lupa bahwa penggunaan frase itu sendiri jelas bersifat mengganggu dan bukan dengan cara seperti itu menyelesaikan persoalan bangsa. Perseteruan antar kelompok agama sendiri memang sulit dihindarkan di negara yang heterogen ini, tetapi jikalau kita kembali meninjau sejarah, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang lain. DR.Victor Silaen mengatakan pada penulis (dengan sedikit pengubahan oleh penulis), “Indonesia dari dulu bukan milik satu agama tertentu saja. Diperjuangkan tidak hanya oleh satu agama tertentu saja. Jadi hargailah keanekaragaman itu saja.” Pernyataan beliau jelas menunjukan fakta sejarah di mana berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara merdeka tidak diperjuangkan oleh satu agama saja sehingga pemeluk agama lain pun boleh menikmati kemerdekaan di bumi Indonesia.

Dari penjabaran di atas sangat jelas bahwa menyudutkan agama tertentu lalu ingin menjadikan Indonesia berdiri di atas satu agama tertentu saja adalah salah besar karena sejarah sudah jelas menunjukan bahwa fondasi Indonesia adalah keragaman dan inilah yang seharusnya mengintegrasikan masyarakat Indonesia secara normatif. Akan tetapi, pembuat page Tionghoa Anti Islam seolah-olah ingin menyingkirkan agama Islam dan mengedepankan kepercayaannya atau mungkin saja page itu memang ingin meresponi tindakan beberapa orang yang sempat ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Apa pun motif dibalik penggunaan frase Anti Islam harus disadari bahwa Indonesia adalah negara yang fondasinya adalah heterogenitas sehingga heterogenitas itu tidak mungkin dihapuskan (bagi penulis penggunaan frase Anti Islam itu sama saja dengan membenci dan mungkin berniat untuk menghapuskan keragaman agama di Indonesia).

Di dalam page itu ada peperangan argumentasi untuk menyatakan keburukan dari agama Islam maupun Kristen. Sebenarnya kesalahan terletak pada pemeluknya dan bukan agamanya karena semua agama mengajarkan hal yang baik. Akan tetapi, perilaku para pemeluk kedua agama itulah yang akhirnya mencemarkan nama kedua agama yang bersangkutan. Dalam page itu diungkit bagaimana dalam sejarah penyebarannya Kekristenan dibawa oleh kaum penjajah. Di sini keberadaan penjajah tentu saja menghitamkan citra Kekristenan. Administrator dari page itu sendiri awalnya menyindir pemeluk-pemeluk Islam yang kental dengan tindakan anarkisnya untuk mengganggu ketentraman. Lebih lanjut lagi Administrator pun menghina agama Islam itu sendiri. Peperangan argumen konyol yang bernuansa agama dalam page itu pada akhirnya hanya akan berdampak pada nama baik kedua agama itu di Indonesia. Akhirnya akan banyak orang mempertanyakan kedua agama itu. Benarkah kedua agama tersebut mengajarkan pengikutnya untuk saling mencemooh? Jikalau tidak lantas mengapa para pengikutnya berperilaku sedemikian buruk? Agama pun pada akhirnya hanya akan disebut-sebut sebagai pembentuk kesadaran palsu (adanya kedamaian, hilangnya konflik, kehidupan yang sejahtera, dan lain sebagainya) yang mengalihkan pengikutnya dari kenyataan di lingkungannya (penuh dengan konflik seperti yang ada dalam page itu).

Terakhir penulis sendiri melihat perseteruan itu sebagai ancaman dari dalam yang tidak ada bedanya dengan penjajahan. Jikalau saat dijajah oleh asing Indonesia berusaha untuk dibungkam dengan taktik pecah belah ala penjajah, maka sekarang di era pasca kemerdekaan Indonesia diancam oleh perpecahan dari warganya sendiri dan ini sangat memalukan. Dikotomi pribumi-non pribumi yang begitu eksis dalam page tersebut seolah menunjukan bahwa orang-orang di dalamnya memimpikan masa penjajahan karena dikotomi yang sangat disintegratif itu sendiri dihidupkan oleh penjajah, bahkan mereka pun nampak seperti penjajah itu sendiri karena menggalakan dikotomi tersebut. Belum lagi komentar-komentar tak berbobot yang memojokan agama Islam maupun Kristen dalam page itu. Penulis sendiri sempat bertanya-tanya perlukah WNI-WNI pengancam bangsa itu dibuang ke luar dari Indonesia karena mereka sendiri sudah tampak sebagai penjajah. Jikalau Jepang dan Belanda diusir keluar apakah WNI-WNI pengancam bangsa juga perlu diusir keluar? Masalahnya mereka sendiri sudah tidak memiliki rasa persatuan. Omong kosong jikalau mereka mengaku sebagai warga negara yang menjunjung tinggi keutuhan bangsa karena nyatanya mereka sendiri melayangkan komentar-komentar yang bersifat disintegratif, tetapi jikalau mengusir mereka keluar pun sama saja dengan menciptakan perpecahan karena status mereka adalah bagian dari Indonesia hanya saja mental dan moralnya yang rusak sehingga tidak mau menyatukan diri. Dengan demikian bagi penulis Indonesia yang merdeka secara utuh hanya akan menjadi utopia saja selama masih ada warga negara yang mengancam keutuhan bangsa ini. Memalukan memang karena ancaman datang dari dalam padahal seharusnya lingkungan internal adalah sumber keamanan.

Memang tidak ada jalan lain untuk mendorong terciptanya ketentraman selain dari memahami secara benar perjalanan Indonesia untuk menjadi sebuah negara merdeka yang ditopang oleh semangat persatuan. Dalam hal ini sekolah sebagai institusi pendidikan dapat menjadi alat terpenting dalam menanamkan nilai-nilai dalam sejarah yang bersifat integratif dan sekolah bisa diintervensi oleh pemerintah lewat kebijakan atau undang-undang agar bisa menjalankan proses pendidikan sebagaimana seharusnya. Selain itu dalam penulisan buku ajar sejarah juga harus diperhatikan agar kontennya mendukung untuk proses belajar dan mengajar yang bersifat integratif karena materi sejarah sering dikeluhkan karena mengandung berbagai bias.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s