MEMULIAKAN TUHAN MELALUI STUDI

Orang Kristen harus memuliakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukannya. Berangkat dari pernyataan ini penulis akan membahas secara khusus mengenai studi yang memuliakan Tuhan. Latar belakang yang mendorong penulis untuk mengulas persoalan mengenai studi yang memuliakan Tuhan tentu saja tidak lepas dari kondisi masa kini di mana penulis seringkali melihat ada begitu banyak pelajar Kristen yang tidak memuliakan Tuhan di dalam studinya padahal secara kognitif ia paham bahwa sebagai seorang Kristen ia harus memuliakan Tuhan (1 Korintus 10 : 31). Penulis akan memaparkan beberapa masalah yang penulis tangkap lalu menguraikan mengenai bagaimana yang seharusnya untuk memuliakan Tuhan di dalam studi dengan sudut pandang penulis.

Studi Sebagai Sebuah Anugerah

Pertama-tama harus disadari bahwa kesempatan untuk menempuh studi adalah suatu anugerah. Mengapa demikian? Sejatinya tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, sebagai orang yang diberi kesempatan, maka seorang pelajar Kristen seharusnya meresponinya dengan positif. Namun demikian, banyak pelajar Kristen yang menganggap kesempatan studi sebagai sesuatu yang tidak berharga dan bahkan seringkali mereka menganggap studi sebagai sebuah beban yang menyusahkan hidup. Pada saat itulah mereka seringkali melupakan anugerah yang didapatkannya melalui kesempatan untuk menuntut ilmu sehingga kerap kali menggerutu akan kesulitan studinya.

Studi yang berat justru merupakan sesuatu yang positif. Bukankah studi itu sendiri adalah hak dan tidak semua hak harus bersifat menyenangkan diri. Studi yang berat sesungguhnya merupakan persiapan untuk menjalani panggilan di masa depan. Di masa depan nanti kita tidak akan pernah mengetahui bagaimana sulitnya melawan taufan kehidupan sehingga kita harus dipersiapkan sedemikian rupa agar mampu menjadi bangunan yang kokoh di tengah-tengah zaman. Tak boleh dilupakan juga bahwa apa pun yang kita kerjakan di masa depan dan apa pun kesulitan yang harus diselesaikan haruslah berujung pada kemuliaan Tuhan, sebab manusia diciptakan untuk memuliakan Dia (jawaban dari pertanyaan pertama Katekismus Westminster). Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa studi sebagai sebuah anugerah mempersiapkan kita untuk berkiprah di masa depan yang penuh dengan tantangan dan tentu saja dalam berkiprah tujuan akhirnya adalah kemuliaan nama Tuhan sehingga bisa dikatakan juga bahwa untuk dapat memuliakan Dia pun kita harus mendapatkan anugerah, sebab manusia hanyalah makhluk terbatas yang tanpa anugerah tidak akan mampu melakukan satu hal pun. Dengan demikian sudah sepantasnya seorang pelajar menjalani proses pendidikan dengan baik untuk kemuliaan Tuhan dan di dalam proses belajar pun seorang pelajar Kristen harus memuliakan Tuhan.

Studi Yang Memuliakan Tuhan dan Bukan Untuk Kemegahan Diri

Seringkali seorang pelajar Kristen mengalami begitu banyak gangguan yang membuat tujuan studinya menjadi buyar. Dunia ini menawarkan begitu banyak kemudahan untuk dapat memegahkan diri dan menuai kemuliaan diri. Pelajar Kristen masa kini mudah sekali tergiur dengan berbagai usaha yang tidak halal untuk memperoleh nilai tinggi. Mereka lupa bahwa nilai akademik yang mereka peroleh harus bisa dipertanggungjawabkan. Jikalau seorang pelajar menggenggam nilai akademik tinggi, maka seharusnya ia mampu berbicara banyak dan sanggup menggunakan ilmu yang dipelajarinya untuk kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya banyak pelajar yang lulus dengan bergelimang nilai tinggi, tetapi tidak berisi karena semua nilai yang diperolehnya didapatkan dengan cara yang tidak benar. Pembaca dapat memikirkan sendiri cara-cara apa saja yang bersifat tidak halal untuk memperoleh nilai baik.

Untuk mendapatkan nilai akademik ada dua cara. Cara pertama adalah belajar dengan penuh tanggung jawab sebagai respon atas anugerah yang sudah dilimpahkan baginya. Memiliki waktu belajar pun sudah merupakan suatu anugerah di dalam proses belajar. Cara kedua adalah cara-cara yang tidak halal. Akan tetapi, jikalau orientasi utamanya adalah untuk kemuliaan diri atau mendapatkan pujian karena nilai akademik, maka seorang pelajar Kristen dapat tergoda untuk menggunakan cara kedua karena cara kedua ini merupakan jalan pintas yang empuk. Dengan demikian seorang pelajar Kristen dapat melakukan dua kesalahan karena menggunakan cara kedua, yaitu tidak memuliakan Tuhan di dalam proses studinya melalui kecurangan akademik dan yang kedua adalah tujuan akhir yang salah sehingga membuatnya melalui proses dengan cara kedua.

Lantas bagaimana seharusnya seorang pelajar Kristen menjalani proses studinya? Sudah jelas bahwa ia harus menggunakan cara pertama dan tujuan akhirnya adalah untuk kemuliaan Tuhan. Seorang pelajar Kristen yang belajar dengan sungguh-sungguh masih dapat memiliki fokus akhir yang salah, yakni nilai akademik untuk kebanggaan diri dan bermegah. Hal ini dapat terjadi karena dari awal fondasi studinya bukanlah untuk kemuliaan nama Allah. Seorang pelajar Kristen mungkin belajar dengan jujur dan mengerahkan seluruh tenaganya. Di sini secara proses ia benar, namun apabila orientasinya hanya untuk nilai akademik yang tinggi agar mendapatkan pujian dan penghargaan pribadi, maka itu tidak tepat. Dengan demikian, apakah seorang pelajar Kristen tidak boleh mengejar nilai akademik yang tinggi? Sebelum menjawab pertanyaan ini harus dikaji kembali apa tujuannya mengejar nilai akademik yang tinggi.

Seorang pelajar Kristen harus belajar semaksimal mungkin untuk hasil terbaik dan mempersembahkan hasil itu untuk Tuhan. Berapakah hasil terbaik? Hasil terbaik adalah representasi dari usaha maksimal seorang pelajar. Angka 85 boleh jadi lebih berharga di mata Tuhan jikalau proses belajar dilalui dengan perjuangan yang maksimal untuk menghargai setiap anugerah Tuhan ketimbang mendapatkan nilai tertinggi, katakanlah 95 yang diraih dengan kerja yang kurang maksimal, tapi lantas berbangga karena tujuannya hanya untuk memuaskan diri. Maka itu yang terpenting bukanlah soal boleh atau tidak boleh dalam mengejar nilai, namun yang paling penting adalah proses belajar melalui usaha maksimal kita. Hasil hanyalah konsekuensi logis atas apa yang sudah dilakukan dan karena tujuan seorang pelajar Kristen seharusnya memuliakan Tuhan, maka semestinya ia mengerahkan seluruh tenaganya agar dapat memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Oleh karena itu, nilai akademik yang dipersembahkan untuk Tuhan akan menjadi penuh makna jikalau dicapai dengan usaha maksimal yang tidak berorientasi pada nilai, sebab orientasi pada nilai hanya akan berujung pada upaya untuk bermegah. Di sini jelas ada perbedaan antara bahagia karena mendapat nilai baik sehingga dihujani pujian dengan bahagia karena mendapat nilai baik untuk dipersembahkan pada Tuhan sebagai respon atas anugerah-Nya yang tidak berkesudahan.

Kejujuran Selama Proses : Taati Perintah Ke – 8

Jika sebelumnya penulis hanya menyinggung secara umum mengenai kecurangan akademik, maka kali ini penulis akan membahasnya secara lebih detil. Harus disadari bahwa kecurangan akademik adalah suatu bentuk pencurian karena memanipulasi hasil. Kecurangan dapat dilakukan dengan berbagai cara dimulai dari mencontek saat ujian, mencontek saat mengerjakan tugas, memberikan sejumlah imbalan pada pengajar sampai dengan membeli ijazah. Semuanya masuk ke dalam kategori pencurian karena mengambil sesuatu yang tidak seharusnya menjadi miliknya. Seorang peserta didik yang secara kemampuan hanya mampu menghasilkan poin 80, namun karena kecurangan poin tersebut terdongkrak ke angka 90. Ini merupakan suatu bentuk kecurangan akademik karena ia mencuri 10 poin yang bukan miliknya.

Kecurangan akademik merupakan pelanggaran terhadap perintah ke – 8 yang melarang umat manusia untuk mencuri dan ini merupakan dosa yang dibenci oleh Allah. Lebih jauh lagi kecurangan akademik semacam ini jelas tidak memuliakan Allah karena sudah jelas bahwa motivasi awal dari kecurangan adalah untuk keuntungan diri sendiri dan bukan untuk kemuliaan nama Tuhan. Kecurangan akademik sendiri adalah suatu bentuk perilaku yang tidak menghargai anugerah Allah, sebab Allah telah menganugerahi setiap peserta didik dengan kemampuannya masing-masing yang dapat digunakan untuk memuliakan Dia melalui studi yang ditempuh. Oleh karena itu, seorang pelajar Kristen harus menjaga kemurnian studinya dengan kejujuran agar dapat memuliakan Allah yang telah mengaungerahinya kesempatan untuk menuntut ilmu. Kemudian dengan berlaku jujur, maka seorang pelajar Kristen dapat menjadi cahaya terang yang membuat orang-orang di sekitarnya memuliakan Tuhan (Matius 5 : 16).

Akhir Dari Studi : Berilmu Bukan Untuk Menjadi Penguasa Yang Mengejar Keuntungan Pribadi

Setelah menyelesaikan studi dan berbekal segudang ilmu, maka seseorang akan memulai kehidupan baru. Dalam kehidupan tersebut ia akan menggunakan seluruh ilmu dan kemampuan yang telah diperolehnya. Seseorang yang sangat cerdas dan memiliki kemampuan tinggi bisa memanfaatkan kelebihannya untuk mencari keuntungan pribadi dan ia dapat dengan lebih mudah melakukannya jikalau berposisi sebagai pihak yang berkuasa yang mempunyai power. Dalam perspektif konflik pihak penguasa berusaha untuk membuat keteraturannya sendiri demi mencari keuntungan dan saat itu ia tidak lagi memikirkan Tuhan yang seharusnya ia muliakan melalui pekerjaannya (lebih detilnya dapat dilihat pada tulisan terdahulu penulis yang berjudul SEBUAH FILOSOFI MENGENAI DUNIA BERDASARKAN KACA MATA MARXIAN DAN STATUS KEBERDOSAAN MANUSIA).

Karena apabila berposisi sebagai pihak penguasa akan mempermudah seseorang untuk mendapatkan keuntungan, maka ia akan memperjuangkan posisi tersebut. Apakah hal ini memuliakan Tuhan? Jelas tidak. Ia tidak memuliakan Tuhan jikalau memanfaatkan seluruh ilmunya selama studi untuk mengejar keuntungan pribadi, sebab anugerah yang diberikan Tuhan digunakan untuk memuliakan Diri-Nya, sebab seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya bahwa tanpa anugerah-Nya seseorang tak akan dapat memuliakan Tuhan. Justru karena sudah mengenyam banyak ilmu dan berbekal sejumlah keterampilan, maka seseorang harusnya siap untuk menjalankan pekerjaan yang menjadi panggilannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Studi sebagai anugerah Tuhan harus ditempuh dengan berproses baik dan berujung pada kemuliaan Tuhan. Untuk itu seorang pelajar Kristen harus menghindari sejumlah niatan dan tindakan yang tidak memuliakan nama Tuhan. Diperlukan kesadaran setiap saat akan apa yang sudah dan yang akan dilakukan. Penting bagi seorang pelajar Kristen untuk melakukan refleksi secara kritis akan apa yang sudah dilakukan sebelumnya sehingga ia bisa mengerti apakah yang sudah dilakukannya memuliakan Tuhan atau tidak dan hal tersebut dapat menjadi rujukan akan bagaimana harusnya bertindak di waktu mendatang. Hendaklah para pelajar Kristen memuliakan Allah di dalam studinya dan kelak tetap mampu mempersembahkan yang terbaik kepada Allah dengan bekal ilmunya. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin (1 Timotius 1 :17).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s