SEBUAH FILOSOFI MENGENAI DUNIA BERDASARKAN KACA MATA MARXIAN DAN STATUS KEBERDOSAAN MANUSIA

Konflik yang melingkupi dunia ini tidak lepas dari peristiwa kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa. Kejatuhan mereka tak lepas dari ketidaktaatan mereka pada ketetapan Allah dan mereka ingin menciptakan keteraturan sendiri untuk mewujudkan self interest-nya. Dosa kemudian menurun ke seluruh generasi sesudah mereka hingga saat ini dan tentunya di masa depan. Oleh karena itu, pusat dari konflik bukan semata-mata karena adanya upaya untuk mewujudkan self interest dari setiap pihak, namun karena dosa. Dosa membuat manusia fokus pada keinginan pribadinya saja dan karena sumber daya untuk memenuhi keinginan pribadi tersebut terbatas, maka manusia saling bersaing satu dengan yang lainnya dan tak jarang eksploitasi antar manusia terjadi demi memuaskan nafsu pribadi. Di sinilah konflik terjadi. Pengantar ini akan membawa pembaca pada pembahasan akan filosofi mengenai dunia masa kini dan masa depan menurut perspektif konflik yang disesuaikan dengan keadaan alamiah dari dunia yang sudah dibungkus oleh dosa.

Karl Marx, seorang pioneer ternama dari paradigma struktural konflik mengemukakan keberadaan dua kelas yang saling bertentangan pada masanya dalam The Communist Manifesto. Kedua kelas tersebut tak lain adalah kaum proletar (the oppressed class) dan borjuis (the oppressor). Kedua belah pihak punya kepentingannya masing-masing di mana borjuis ingin mengeruk keuntungan, sedangkan proletar ingin mencapai kehidupan yang lebih baik. Borjuis sebagai pihak yang berkuasa menciptakan keteraturan yang membuat proletar menjadi tereksploitasi dan teralientasi. Kaum proletar layaknya binatang, hanya bebas dalam hal makan dan minum. Kehidupan mereka terutama jam bekerja diatur oleh pihak yang berkuasa. Pihak yang berkuasa dapat dengan bebas menambah jam kerja kaum proletar agar mampu menghasilkan lebih banyak produk yang nantinya mampu mendatangkan keuntungan bagi borjuis (absolute surplus value). Namun demikian, sebagaimana yang diungkapkan oleh Marx bahwa suatu saat nanti akan terjadi revolusi yang menggulingkan kapitalisme dan memunculkan suatu classless society. Dalam masyarakat tanpa kelas itu tidak ada lagi private ownership karena semuanya akan dikendalikan oleh negara dan setiap pihak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya. Pada tahap itulah biasa dikenal dengan Komunisme.

Memang pembahasan Marx cenderung berpusat pada aspek ekonomi saja dan ekonomi merupakan infrastruktur dalam masyarakat. Akan tetapi, penjabaran Marx khususnya mengenai konflik antar kelas dapat kita adopsi untuk menggambarkan masyarakat secara utuh. Semakin hari masyarakat kita semakin kompleks. Meningkatnya kompleksitas dalam masyarakat tentu saja berbanding lurus dengan meningkatnya ambisi pribadi untuk mengejar keuntungan dalam berbagai bidang kehidupan. Tujuannya jelas, yakni untuk memperkaya diri. Manusia menjadikan self interest-nya sebagai pusat kehidupan yang harus dipenuhi. Untuk memenuhi keinginannya manusia harus mengupayakan beberapa cara termasuk menindas sesamanya. Anggota-anggota masyarakat berlomba-lomba untuk menjadi penguasa yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan kelas di bawahnya demi kepuasan pribadi. Di saat inilah manusia sudah tidak lagi memikirkan Allah. Padahal bukankah manusia diciptakan untuk memuliakan Allah dan menyenangkan Dia?

Apa yang dilakukan oleh manusia pertama sudah cukup memberi bukti bahwa manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hal yang sama terjadi pada masa sesudah mereka hingga saat ini dan tentunya di masa depan. Semua berpusat pada kepentingan diri sendiri. Orang lain pun dieksploitasi agar kepentingan pribadi dapat tercapai. Hubungan yang eksploitatif itu pun eksis dalam masyarakat. Sebenarnya sudah jelas bahwa sangat tidak mungkin dunia yang sudah berdosa ini bebas dari konflik. Konflik akan tetap terjadi karena dosa membuat manusia tidak ingin mengikuti keteraturan Allah dan ia hanya akan terus berusaha untuk memuaskan dirinya sendiri melalui keteraturan yang ditetapkannya. Konflik pun tidak hanya terbatas di lingkup perekonomian saja. Kepentingan pihak penguasa akan bertentangan dengan kepentingan kelas di bawahnya. Tentu saja berbeda jikalau tujuan manusia adalah memuliakan Allah. Poin utamanya sudah jelas bahwa ia tidak akan melakukan eksploitasi terhadap sesamanya untuk mengeruk keuntungan sendiri, sebab hal itu sendiri sudah jelas tidak memuliakan Allah. Poin keduanya adalah bahwa manusia akan memandang Allah sebagai satu-satunya Penguasa (sebenarnya tanpa pengakuan manusia pun Allah tetap berkuasa) lalu mempersembahkan seluruh tenaganya untuk memuliakan Dia. Kondisi ini jelas berbeda dengan the oppressed class yang memberikan tenaganya untuk memuaskan the oppressor di mana saat itu tidak ada kebahagiaan yang timbul saat memuaskan kelompok penguasa yang rakus. Justru kebahagiaan direnggut demi memenuhi kepentingan pribadi penguasa yang rakus. Lain halnya dengan memuaskan Allah (walaupun manusia tidak akan pernah bisa memuaskan Allah secara sempurna karena ia adalah makhluk yang terbatas) di mana manusia akan menemukan suka cita di sana.

Lantas bagaimanakah nasib dunia ke depan? Masyarakat Komunis impian Marx jelas bukan jawabannya. Masyarakat komunis yang diimpikan Marx justru mengundang kontroversi. Betulkah dalam masyarakat Komunis akan ada kebebasan yang sesungguhnya? Benarkah bahwa dalam masyarakat Komunis tidak ada keteraturan yang mengurung manusia? Lebih tepatnya adalah apakah betul kehidupan di dunia Komunis adalah kehidupan yang bebas dari dosa sehingga tidak ada konflik kepentingan antar pihak? Tentu saja tidak benar. Memang konflik horizontal mungkin akan menipis karena tidak ada anggota masyarakat yang memiliki aset secara privat dan mengambil keuntungan dengan cara-cara yang bersifat eksploitatif terhadap manusia lain. Akan tetapi, konflik vertikal dapat lahir. Kali ini masyarakat akan dihadapkan pada pemerintah yang dengan kebijakannya berusaha untuk memunculkan keteraturan baru yang berpusat pada self interest. Pemerintah yang memegang kendali secara penuh (centralized power) dapat mengekang kebebasan masyarakat dan fenomena ini hanya akan memperpanjang sejarah dunia yang diisi dengan konflik antar pihak. Di dalam negara Komunis pemerintah menjadi pihak penguasa yang mengontrol banyak (semua) hal dan bukan tak mungkin orang-orang di jajaran pemerintahan mengeluarkan ketetapan yang hanya menguntungkan mereka sendiri (untuk memenuhi keinginan pribadi). Akhirnya konflik pun berpotensi kembali memuncak karena ketidakpuasan atau ketidaksukaan masyarakat terhadap pemerintah. Ingat bahwa semua manusia mewarisi dosa asal sehingga orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan pun tetap tidak lepas dari jeratan dosa. Dengan demikian konflik tetap tidak akan lenyap dari dunia sekalipun tahap Komunis telah tercapai.

Untuk memunculkan masyarakat tanpa kelas yang berujung pada eksistensi kehidupan tanpa konflik, Marx menyatakan perlunya suatu revolusi. Bagi penulis revolusi yang membawa perubahan ini sejatinya hanya akan mengukirkan sejarah yang sama, yakni sebuah sejarah di mana konflik kepentingan akan tetap bernaung dan hanya aktor-aktornya saja yang berganti. Kontrol pemerintah yang menyeluruh dapat membawa kepada periode pemerintahan yang buruk (penuh dengan ketamakan, korupsi, dan praktik-praktik kotor lainnya untuk memenuhi self interest orang-orang pemerintahan). Percuma jikalau revolusi dilakukan untuk menghapuskan kepentingan pribadi penguasa lama dan menggantikannya dengan situasi yang memungkinkan munculnya penguasa baru dengan kepentingan pribadinya. Dengan kata lain konflik tidak akan pernah selesai selama manusia belum menyerahkan dirinya hanya untuk kemuliaan Allah dan dosa pergi dari dunia. Akan tetap ada kelompok pengguasa yang menekan the oppressed class demi mengejar profit. Memang kondisi yang demikian tidak akan terjadi sebelum konsumasi. Dunia ini akan terus dibelenggu oleh dosa sampai Anak Allah datang untuk kedua kalinya dan kelak terciptalah dunia baru tanpa konflik di mana terkumpul orang-orang yang memuliakan Allah selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s