PENDIDIKAN YANG MENGINTEGRASIKAN MASYARAKAT SECARA NORMATIF DEMI BANGKITNYA GOLONGAN IDEALIS PASCA KEMERDEKAAN

Prof. Paulus Wirutomo dalam bukunya yang berjudul Sistem Sosial Indonesia memaparkan ada empat golongan terkait dengan kesadaran berbangsa yang dimiliki seseorang. Salah satu golongan adalah golongan idealis. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi. Walau demikian disebutkan bahwa golongan ini biasanya diisi oleh orang-orang yang hidup di masa perjuangan kemerdekaan sehingga mereka punya semangat kebangsaan yang tinggi dibanding dengan mereka yang lahir di era kebebasan yang sudah mapan. Namun demikian, Prof. Paulus Wirutomo tidak membatasi siapa pun sebagai bagian dari golongan idealis karena warga negara yang lahir sesudah masa kemerdekaan pun masih tetap bisa memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

Memang bisa dikatakan bahwa peluang seorang warga negara yang lahir di era pasca kemerdekaan untuk menjadi seorang yang idealis lebih kecil dibanding mereka yang mengalami masa perjuangan nan sulit demi mencapai Indonesia yang merdeka. Anak-anak Indonesia sekarang tidak melihat bagaimana bangsa asing menguasai dan menjajah negeri ini layaknya masa penjajahan sehingga mereka tidak tergerak untuk melindungi tanah airnya sendiri, bahkan banyak dari anak-anak Indonesia masa kini yang mungkin lebih terpesona dengan kedigayaan budaya luar ketimbang keeksotisan budaya dalam negeri. Kecintaan terhadap negeri sendiri pun meluntur dan hal ini berbanding lurus dengan merosotnya semangat bela negara. Permasalahan ini tentu saja akan berimplikasi pada ancaman perpecahan dari dalam dan lemahnya pertahanan dalam menghadapi pengaruh luar yang kian tajam masuk.

Akan tetapi, kita masih dapat berharap bahwa di masa depan akan ada banyak orang yang tetap punya rasa nasionalisme dan patriotisme tinggi. Harapan itu tentu saja diletakan pada sekolah sebagai institusi pendidikan dan terlebih lagi kurikulum yang menjadi landasan ke mana sekolah akan mengarahkan para peserta didik melalui pendidikan yang diselenggarakan. Lalu secara sosiologis bagaimana harapan ke depan itu dapat terlaksana? Bukankah di masa depan nanti bangsa kita akan mendapat tantangan lebih dasyat melalui berbagai gerakan separatis dan semangat cinta budaya luar yang semakin membubung tinggi. Semua tantangan bisa dihadapi asalkan sekolah mampu menyelenggarakan pendidikan dengan benar dan kurikulum tidak menjadi suatu instrumen kosong.

Pandangan struktural fungsional menyebutkan bahwa salah satu fungsi dari pendidikan adalah untuk mengintegrasikan masyarakat. Lalu untuk dapat menyatukan masyarakat Indonesia yang heterogen ini tidak cukup jika hanya melalui penerimaan nilai-nilai kebangsaan secara take it for granted, adanya hubungan fungsional antar pihak, dan peranan pihak-pihak keamanan sebagaimana yang diungkapkan oleh Paulus Wirutomo. Dengan demikian tentu saja harus ada integrasi normatif berdasarkan nilai-nilai bersama yang menyatukan semua pihak dan nilai-nilai tersebut harus merupakan nilai-nilai kebangsaan yang murni. Berdasarkan kerangka ini kita dapat menyusun penjelasan yang bersifat sosiologis.

Dalam proses pendidikan yang diselenggarakan sekolah setidaknya ada dua mata pelajaran vital yang harus dipahami oleh peserta didik. Kedua pelajaran tersebut tak lain adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Sejarah. Keduanya berperan penting dalam menjadikan setiap peserta didik sebagai orang-orang idealis yang terintegrasi secara normatif. Berikut penulis akan membahas prosesnya secara mendetil.

Pelajaran Sejarah mengupas masa lalu bangsa ini dan salah satu titik terpenting adalah periode perjuangan kemerdekaan. Pada materi tersebut peserta didik diajak untuk kembali ke masa di mana mereka belum memiliki eksistensi di bumi nusantara. Peserta didik dibawa ke dalam suasana perjuangan untuk melihat bagaimana penduduk nusantara dengan semangat kebangsaannya berjuang sekuat tenaga untuk mencapai Indonesia yang merdeka. Baik perjuangan melalui perang maupun perjuangan lewat organisasi semuanya didasarkan pada semangat untuk melepaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah. Hanya saja perjuangan melalui perang belum mencerminkan kebersatuan antar wilayah di Indonesia karena waktu itu Indonesia masih terpecah-pecah. Akan tetapi, setidaknya semangat untuk melindungi wilayah nusantara sudah lahir. Puncak dari semangat kebangsaan dapat dilihat dari peristiwa Sumpah Pemuda yang mana titik tersebut disebut oleh Dr.Victor Silaen sebagai kelahiran bangsa Indonesia sebagai bangsa yang baru secara politis.

Cuplikan singkat di atas baru sedikit dari komponen yang ada dalam pelajaran sejarah karena masih ada banyak peristiwa fenomenal lain yang menunjukan betapa nasionalis dan patriotisnya orang-orang di masa lampau. Namun demikian, bagi penulis peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu cukup untuk merepresentasikan semangat nasionalisme yang hadir di bumi Indonesia. Melalui pembelajaran sejarah seharusnya peserta didik dapat merasakan dan memahami betul apa yang terjadi di masa lampau sehingga tidak ada alasan baginya untuk tidak kenal akan spirit kebangsaan. Tidak cukup hanya dengan pelajaran Sejarah, maka mari kita beralih ke pelajaran PKn yang disebut-sebut sebagai pelajaran inti wajib.

Ada banyak yang dibahas dalam pelajaran PKn dan akan sulit membahasnya satu demi satu dalam tulisan ini. Oleh karena itu, penulis hanya akan mengambil beberapa poin penting yang sangat cocok untuk diangkat. Pertama-tama adalah bagian yang mengupas tentang konsitusi negara Indonesia. UUD 1945 pada pasalnya yang pertama memaparkan tentang filosofi negara Indonesia dan yang paling teratas atau pada ayat satu kita bisa melihat bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik. Frase Negara Kesatuan mengandung makna yang penting, yakni Indonesia adalah negara yang satu dan tidak terpecah-pecah menjadi beberapa bagian. Lebih lanjut lagi pada pasal 27 ayatnya yang ketiga dituliskan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Kemudian pada pasal 30 ayat 1 berbunyi bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pokok bahasan ini masuk ke dalam materi tentang bela negara. Jikalau kedua bagian ini dipararelkan, maka bisa dimaknai bahwa sebagai Warga Negara Indonesia kita berhak dan tentu saja wajib untuk membela Negara Kesatuan ini dan bukan negara yang terpecah belah sehingga cakupannya adalah seluruh wilayah yang berada di wilayah Indonesia sebagai Negara Kesatuan. Hal ini ditambah dengan pemaparan dalam pelajaran Sejarah seharusnya membawa peserta didik untuk mempunyai semangat cinta Indonesia dan rela untuk berkorban demi bangsa dan negara yang dicintai.

Selain pembahasan di atas pelajaran PKn juga mengajak para peserta didik untuk meneropong sejarah perjalanan bangsa ini walaupun penjabarannya tidak selengkap materi pelajaran Sejarah. Peserta didik diajak untuk melihat semangat kebangsaan yang membuncah pada saat detik-detik proklamasi kemerdekaan. Dengan demikian suasana yang menyelimuti peserta didik seharusnya adalah suasana kebangsaan yang mendalam dan semangat kebangsaan tersebut tidak seharusnya diterima mentah-mentah begitu saja.

Kita telah melihat secara singkat penjelasan akan bagaimana kedua pelajaran itu berperan penting dalam kehidupan para peserta didik. Sekarang mari kita merumuskan pemaparan di atas menjadi suatu analisis yang berpijak pada kerangka konseptual yang sudah diangkat oleh penulis sebelumnya. Sebagaimana pendidikan berfungsi untuk mengintegrasikan masyarakat, maka dalam konteks pembahasan ini pendidikan yang ditujukan untuk para peserta didik melalui pelajaran Sejarah dan PKn menyatukan para peserta didik berdasarkan nilai kebangsaan. Kedua pelajaran tersebut seharusnya diselenggarakan sedemikian rupa agar nilai-nilai kebangsaan dapat terinternalisasi ke dalam diri setiap peserta didik dan mereka tumbuh sebagai warga negara dengan semangat nasionalisme dan patriotisme yang tinggi. Nilai-nilai kebangsaan yang mengintegrasikan secara normatif itu seharusnya membuat orang-orang Indonesia menjadi manusia yang nasionalis dan patriotis.

Nilai-nilai kebangsaan itu juga tidak seharusnya diterima begitu saja karena kedua pelajaran tersebut pada hakikatnya memaparkan dengan jelas dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya seorang warga negara berperan dan mengapa warga negara harus berperan seperti itu. Nilai-nilai tersebut seharusnya diserap dan kemudian direfleksikan dalam diri setiap pelajar lalu menjadi dasar dalam kehidupan sebagai warga negara. Warga negara harus punya semangat untuk membela negaranya karena negara Indonesia tidak berdiri dengan sendirinya dan perjuangan yang begitu berat harus ditempuh seperti yang digambarkan dengan lengkap melalui pelajaran Sejarah. Gambarannya terdapat pada para pejuang yang berjuang dengan susah payah untuk melepaskan wilayahnya dari tawanan penjajah. Setelah para pejuang berhasil mengusir penjajah, maka sekarang tanggung jawab beralih ke pundak kita. Layaknya para pejuang, maka kita pun juga harus ikut serta dalam menjaga keutuhan negara ini, meskipun dengan cara yang berbeda dengan para pejuang. Kemudian yang lebih fundamental lagi adalah keinginan untuk bersatu seperti saat peristiwa Sumpah Pemuda. Peristiwa Sumpah Pemuda itu mengandung semangat kesatuan yang harusnya terus diwariskan ke generasi zaman ini agar dapat menjaga keutuhan Indonesia. Lalu kita sendiri yang harus melakukannya karena kita adalah Warga Negara Indonesia yang harus menjaga kesatuan Indonesia.

Kemudian karena nilai-nilai tersebut tidak seharusnya diterima begitu saja, maka nilai-nilai kebangsaan tersebut juga haruslah murni datang dari setiap diri individu. Jikalau nilai tersebut tidak murni, maka tidak mungkin seorang warga negara akan memiliki kecintaan yang mendalam terhadap negerinya dan mau berkorban untuk Indonesia. Dalam pelajaran Sejarah dapat kita lihat bagaimana semangat untuk memperjuangkan Indonesia merdeka adalah murni dari dalam diri sendiri. Sekarang Indonesia memang sudah tidak lagi terjajah, namun berbagai ancaman tetap terus bergulir sehingga kita harus punya semangat kebangsaan untuk menumpas permasalahan tersebut salah satunya dengan melakukan bela negara. Selanjutnya keinginan untuk bersatu yang diutarakan saat peristiwa Sumpah Pemuda juga merupakan sesuatu yang murni. Jikalau kemurnian dari semangat kebangsaan itu tidak mengalir dalam diri generasi sekarang dan masa depan, maka habislah Indonesia. Negara ini hanya akan kemudian mengandalkan kekuatan militernya yang secara koersif menekan gerakan yang mengganggu integrasi, namun upaya itu tidak akan mencapai kesempurnaan, sebab kesatuan yang ada tidakĀ genuine dari diri setiap warga negara. Oleh sebab itulah, kedua pelajaran tersebut berperan penting dalam mengintegrasikan masyarakat Indonesia secara normatif berdasarkan nilai-nilai kebangsaan murni yang membuat setiap anggota masyarakat dapat menjadi orang yang idealis. Menginternalisasikan nilai-nilai kebangsaan yang murni memang tidak mudah itu kenapa pelaksanaan kedua pelajaran tersebut harus didesain sedemikian rupa agar nilai-nilai yang tersampaikan merupakan nilai-nilai yang murni sehingga para peserta didik pun benar-benar punya semangat kebangsaan yang murni. Nilai-nilai yang murni itu tidak akan muncul melalui integrasi fungsional terlebih lagi dengan cara paksa. Pemaksaan justru tidak akan menghasilkan integrasi normatif murni yang berlandaskan pada nilai-nilai murni yang menjadi common will.

Nilai kebangsaan yang menyatukan peserta didik itulah yang seharusnya membuat mereka menjadi seorang yang idealis tanpa harus hidup di periode perjuangan kemerdekaan. Selain itu dengan berposisi sebagai seorang idealis yang nasionalis dan patriotis, maka setiap pihak akan menjaga keutuhan bangsa dan negara ini karena punya satu semangat yang sama sehingga tidak seharusnya ada ancaman disintegrasi dari dalam. Orientasi mereka hanyalah bagaimana menjaga keutuhan bangsa dan negara ini tanpa memandang perbedaan. Oleh karena itu, pembuat kebijakan kurikulum dan pihak sekolah harus mampu menciptakan pendidikan yang benar-benar mampu mengintegrasikan masyarakat Indonesia berdasarkan semangat kebangsaan yang tinggi melalui pelajaran Sejarah dan PKn. Hanya dengan modal inilah harapan-harapan akan kehidupan harmonis di bumi Indonesia dapat terealisasikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s