TINJAUAN KRITIS TERHADAP POLA HUBUNGAN SOSIAL ANTAR INDIVIDU DARI SUB KELOMPOK TERTENTU MAUPUN ANTAR SUB KELOMPOK SECARA UMUM : SUATU PENGAMATAN TERHADAP BEBERAPA SEKOLAH SWASTA DI JAKARTA

Akan menjadi sebuah generalisasi apabila kita berkata bahwa semua orang yang bernaung di kota besar merupakan orang-orang yang tidak mempunyai nilai bersama karena nyatanya masih ada segelintir yang mampu bersatu karena nilai bersama sebagai suatu perekat. Setidaknya studi-studi terdahulu membuktikannya. Sebut saja William Foote Whyte dengan perspektif Cornerville-nya. Lalu masih ada Elliot Liebow dengan studinya mengenai kehidupan black street corner man yang menonjolkan aspek kebersamaan di ruang perkotaan. Akan tetapi, poin-poin penting mengenai kehidupan perkotaan dari Simmel, Tonnies, dan khususnya Wirth juga tidak boleh diasingkan begitu saja karena prinsip-prinsip yang mereka kemukakan eksis dalam bentuk kehidupan nyata di kota. Pengantar ini akan membawa pembaca pada pembahasan penulis yang menggabungkan dan sedikit mengembangkan cuplikan-cuplikan dari kriteria kehidupan perkotaan yang diutarakan Wirth, Simmel, dan Tonnies, serta pemikiran penulis yang disesuaikan contoh nyata dalam salah satu dimensi kehidupan yang diangkat penulis dalam pembahasan ini.

Area yang akan penulis angkat adalah ranah pendidikan dengan berfokus pada beberapa sekolah tertentu yang eksis di ruang kota Jakarta. Unit yang diangkat oleh penulis adalah kehidupan sosial para peserta didik. Apa yang penulis angkat tidak serta merta memberi cap bahwa seluruh sekolah di kota Jakarta sarat dengan fenomena seperti ini, namun setidaknya ini merupakan salah satu pola kehidupan dari sekian banyak pola yang eksis di lingkungan sekolah. Kesadaran akan fenomena ini dimulai dengan suatu perenungan filosofis hingga sampai pada analisis kritis secara sosiologis. Mungkin akan ada sejumlah pembaca yang menyetujui pembahasan penulis, tapi penolakan melalui beberapa pihak juga pasti ada karena pembahasan penulis terbatas pada beberapa sekolah yang tentu saja punya batasan dan fenomena di dalamnya tidak tentu berlaku secara universal.

Ada beberapa sekolah yang identik dengan pola-pola kehidupan perkotaan tertentu. Pola-pola yang dimaksud tentu saja kehidupan yang teralienasi hanya untuk kerja, lemahnya ikatan kebersamaan, pendiskriminasian terhadap rekan, saling tidak mengenal, adanya kelompok-kelompok kecil yang tersegmentasi, dan sarat akan eksploitasi. Hal ini penulis amati secara langsung dan penulis memulainya dengan perenungan secara filosofis. Apa yang mendasari pola kehidupan semacam ini? Mengapa ada pola kehidupan semacam ini di dalam ruang sekolah-sekolah tersebut? Apakah pola-pola seperti ini melampaui batas ruang sekolah-sekolah yang teramati oleh penulis sehingga akan timbul sebuah pernyataan bahwa seluruh sekolah mengandung pola kehidupan semacam ini? Perenungan terakhir tentu tidak bisa dimuat dalam pembahasan penulis karena untuk menjawab secara empiris diperlukan pengamatan yang bersifat menyeluruh dengan melibatkan jumlah sekolah yang berlipat ganda. Penulis merenungkan fenomena semacam itu seraya menuntut suatu penjelasan yang paling rasional.

Penulis mendapati bahwa kehidupan di sekolah-sekolah tertentu sangat diwarnai oleh tuntutan untuk terus bekerja (mengerjakan tugas dan belajar). Hal ini wajar mengingat tuntutan studi yang tidak ringan dan tentunya sekolah sebagai institusi menghendaki studi yang berat demi meningkatkan atau mempertahankan kualitas pendidikan yang mereka selenggarakan. Akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah-sekolah tertentu jikalau mereka mampu mencetak generasi yang cerdas dan ulet sehingga demi mewujudkannya sekolah-sekolah itu mengurung peserta didik dalam sejumlah pekerjaan atau tuntutan akademik yang membuat mereka teralienasi hanya untuk bekerja. Adakah hubungannya dengan kelahiran dari kelompok-kelompok yang tersegmentasi? Tentu ada. Perlu diperhatikan bahwa pola pendidikan yang diterapkan oleh sekolah tidak bisa diserap oleh semua peserta didik karena mereka datang ke sekolah dengan motif masing-masing. Setidaknya dari sini kita bisa mendapatkan suatu jawaban, yaitu muncul dua kelompok di dalam suatu sekolah, yakni kelompok pecinta belajar dan kelompok yang anti belajar. Ini merupakan pembagian yang masih sangat sederhana karena dari dua kelompok itu akan terbentuk sub-sub kelompok lagi.

Dari dua kelompok besar tersebut ada sub-sub kelompok yang berdiri atas dasar tertentu. Ada sub kelompok yang berdiri atas dasar latar belakang ekonomi, kesamaan interest, karakteristik (mencakup penampilan dan perilaku), dan lain sebagainya. Setiap peserta didik membawa nilainya masing-masing dan perbedaan di antara mereka bukanlah sesuatu yang blur. Adakah hubungan antara sub-sub kelompok semacam itu dengan lemahnya ikatan kebersamaan, pendiskriminasian terhadap teman, saling tidak mengenal, dan eksploitasi? Tentu ada. Antar sesama pihak yang sama-sama menyenangi belajar misalkan bisa terjadi bentuk eksploitasi dalam hubungan sehari-hari keduanya. Peserta didik yang berasal dari sub kelompok populer misalkan bisa mengeksploitasi peserta didik lain yang tidak terlalu populer di agar mau berbagi ilmu. Hal ini bisa terjadi karena peserta didik yang tidak populer lebih inferior sehingga dapat ditekan secara psikologis untuk mengikuti keinginan peserta didik yang lebih populer darinya.

Gambaran di atas baru dari aspek popularitas karena masih ada banyak aspek lain yang pembaca bisa kira-kira sendiri. Lalu apakah antara satu pihak dengan pihak lain saling mengenal? Mungkin ya dan mungkin tidak tergantung interaksi antar sub kelompok. Yang pasti di antara sesama orang yang berada di satu sub kelompok mereka akan berhubungan sangat intensif sehingga saling mengenal dengan baik. Sebagai catatan penting perlu diperhatikan perbedaan antara mengenal dan tahu. Mengenal berarti memahami orang tersebut meskipun kadar pemahamannya bervariasi, sedangkan tahu hanya sekadar tahu nama dari orang lain atau bahkan pada tingkatan yang agak parah terkadang seseorang bisa lupa nama orang lain sehingga ketika hendak menyapa ia mengalami sedikit ketidaklancaran dalam menyebutkan nama panggilan.

Para peserta didik yang berada di sub kelompok tertentu, misalnya pecinta shopping dan pecinta game bisa jadi saling mengenal karena berinteraksi secara intensif. Namun demikian mereka bisa saling tidak mengenal jikalau frekuensi hubungan mereka tidak tinggi. Hal ini dapat membawa pada suatu diskriminasi di mana seorang peserta didik hanya mau bergaul dengan peserta didik lain yang mempunyai kesamaan (sebagai pecinta shopping misalnya) dan peserta didik lain yang cukup dikenalnya walaupun berbeda sub kelompok. Pendiskriminasian semacam ini membawa pada pembatasan bagi outsider agar tidak dapat bergabung dengan sub kelompoknya. Menurut penulis hal itu dikarenakan orang yang tidak dikenal dianggap sebagai makhluk asing. Pendiskriminasian tidak melulu disebabkan oleh rasa tidak kenal karena rasa tidak suka (termasuk benci) juga bisa menjadi pemicu utama. Sub-sub kelompok tersebut dapat memiliki tempat-tempat tertentu yang menjadi lokasi mereka berkumpul dan lokasi antara satu sub kelompok dengan sub kelompok lain bisa terpisah. Tentu saja tidak akan mudah untuk masuk ke lokasi dari suatu sub kelompok karena mereka telah mendirikan tembok penghalang sehingga hanya orang-orang tertentu yang boleh memasukinya.

Antara satu sub kelompok dengan satu atau beberapa sub kelompok yang lain maupun antar individu yang berasal dari sub kelompok berbeda bisa terjalin hubungan yang sifatnya fungsional dan hal ini memicu kedekatan satu sama lain (sehingga bisa saling mengenal). Contoh konkretnya adalah sub kelompok berlatar belakang ekonomi mapan dengan sub kelompok yang gemar shopping. Sub kelompok yang sehat secara ekonomi bisa membantu sub kelompok yang mungkin memerlukan dana traktiran agar bisa shopping. Sebaliknya sub kelompok yang gemar shopping bisa menularkan ketenaran bagi sub kelompok kaya karena di sekolah-sekolah tertentu mereka yang gemar shopping diidentikan dengan kelompok populer. Karena mereka memiliki frekuensi berhubungan yang cukup tinggi, maka sangat mungkin jikalau antar anggota sub kelompok saling mengenal.

Walau demikian perlu diperhatikan bahwa hubungan yang fungsional semacam itu tidak selalu menjamin keharmonisan. Hal ini dikarenakan adanya tembok pembatas yang mungkin muncul karena rasa tidak suka terhadap pihak lain sebagaimana yang sudah disebutkan penulis sebelumnya. Rasa tidak suka bisa dipancarkan oleh seluruh anggota dari suatu sub kelompok maupun salah satu anggota saja. Hal seperti demikian dapat menimbulkan stigma, misalnya seorang anggota dari sub kelompok tertentu atau seluruh anggota dari sub kelompok tersebut akan beriaskan keramahan saat memerlukan pertolongan dari pihak lain walaupun orang yang dimintai bantuan tidak disenanginya. Ini tentu saja memunculkan pandangan besar, yakni “mereka hanya baik atau ramah tatkala sedang butuh, sebab mereka tidak mempunyai sense of belonging dan sebagai akibatnya adalah mereka tidak akan lagi respek sewaktu tidak lagi butuh pertolongan.” Hal ini bisa berlaku ketika antar sub kelompok terdapat hubungan yang fungsional, namun tidak melebur menjadi satu (perkawinan antar sub kelompok).

Hubungan antara kedua atau beberapa sub kelompok tersebut mungkin menjadi sangat intim sehingga bisa melebur menjadi satu. Peleburan menjadi satu bisa terjadi ketika hubungan fungsional di antara keduanya tidak dapat dipisahkan (tidak ada tembok penghalang) sehingga terjadi perkawinan kelompok dan terbentuklah satu sub kelompok baru. Di sini kedua sub kelompok menyatu dan muncul identitas baru. Akan tetapi, peleburan menjadi satu tidak hanya dapat terjadi karena ketergantungan satu sama lain karena menurut penulis meleburnya dua sub kelompok menjadi satu bisa terjadi ketika anggota-anggota dari suatu sub kelompok mempunyai sense of belonging dengan sub kelompok lain. Perkawinan berdasarkan sense of belonging ini umumnya bertahan dalam jangka waktu yang lama karena tidak terhenti pada titik tertentu ketika keduanya tidak saling membutuhkan lagi. Sub kelompok yang lahir atas dasar sense of belonging juga cenderung lebih harmonis. Perkawinan tidak harus terjadi antar sub kelompok yang melibatkan seluruh anggota karena bisa saja salah satu anggota dari sub kelompok tertentu kemudian tergabung dalam sub kelompok lain dengan pola-pola yang sama seperti uraian penulis. Akan tetapi, perkawinan yang melibatkan seluruh sub kelompok di dalam suatu sekolah sehingga menjadi satu kelompok besar (berdasarkan keanggotaan dari suatu sekolah) merupakan sesuatu yang sulit dan jarang, bahkan hampir tidak ada karena tidak semua peserta didik memiliki perasaan sebagai bagian dari keseluruhan di dalam sekolah, sebab kebanyakan di antaranya hanya punya rasa persatuan dengan sub kelompoknya saja.

Puncak dari hubungan sosial seperti pada pemaparan-pemaparan di atas adalah lemahnya ikatan kebersamaan sebagai suatu anggota dari sebuah sekolah. Penulis menganggap bahwa para peserta didik di dalam sekolah-sekolah semacam itu terintegrasi secara koersif. Integrasi secara koersif ini dilambangkan dengan adanya ikatan secara administratif. Antara peserta didik dari sub kelompok yang hobi bermain game dengan peserta didik dari sub kelompok yang gemar berolah raga diikat secara administratif sebagai suatu kesatuan. Nama-nama mereka terdaftar di dalam buku induk sekolah dan di situlah mereka tersatukan secara administratif. Mereka tidak bisa menolak data administratif. Padahal jika disuruh memilih belum tentu mereka ingin berada dalam satu sekolah yang sama. Secara sekilas pembaca bisa menganalisis bahwa mereka juga terintegrasi berdasarkan kesamaan nilai karena sekolah tentu akan menanamkan nilai-nilai kepada peserta didiknya, akan tetapi betulkah semua peserta didik menganut nilai tersebut? Dari terbentuknya dua kelompok besar (suka belajar dan tidak suka belajar) saja sudah jelas bahwa tidak semua peserta didik menganut nilai bahwa belajar itu penting. Belum lagi sub-sub kelompok yang anggotanya saling mengeksploitasi dan terkadang ada diskriminasi di antara mereka. Padahal bukankah sekolah menekankan aspek persatuan dan saling menghargai, serta tidak saling mengeksploitasi dalam sebuah angkatan, bahkan beberapa angkatan tatkala mereka berada dalam satu ruang gedung sekolah.

Dengan demikian terlalu munafik bagi penulis ketika ada suatu event yang mengatasnamakan persatuan atau rasa kekeluargaan dari sekolah yang bersangkutan (misalnya, malam keakraban, reunion, dan sejenisnya). Bagi penulis event semacam itu hanya melambangkan sub-sub kelompok tertentu saja (yang pernah melebur menjadi satu sub kelompok) atau bahkan satu sub kelompok tertentu yang memang mempunyai banyak anggota. Mereka lantas mengedepankan kata persatuan atau kekeluargaan sebagai sebuah angkatan sebagai representatif dari beragam sub kelompok yang sebenarnya berserakan. Mengapa mereka mengedepankan suatu prinsip palsu (kebersamaan sebagai anggota suatu sekolah) yang mengikat seluruh pihak tanpa kecuali? Sederhana saja, untuk formalitas, sebab akan sedikit terlihat aneh jikalau diadakan event atas nama kelompok pecinta sains, pecinta olah raga, berlatar belakang ekonomi maju atau apa pun yang sifatnya tidak mewakili keseluruhan. Terlebih lagi jikalau dalam penyelenggaraan event yang bersangkutan melibatkan kehadiran dewan guru. Sudah tentu para peserta didik ingin terlihat bahwa mereka adalah satu walaupun realitanya adalah omong kosong. Benarkah antara peserta didik yang mengeksploitasi dengan yang dieksploitasi sama-sama mempunyai rasa persatuan sehingga dapat mengikatkan diri satu sama lain hingga menjadi satu? Penulis rasa tidak. Persatuan yang ditunjukan hanya untuk formalitas saja agar pihak luar melihat adanya keteraturan dan ketentraman. Inilah salah satu potret kehidupan perkotaan di sekolah-sekolah tertentu yang disoroti oleh penulis.

Keberadaan sub-sub kelompok kecil ini dan hubungan erat di dalamnya seolah-olah terlihat bertentangan dengan pemikiran utama Wirth yang menggambarkan bahwa kehidupan di perkotaan adalah kehidupan yang terpisah, relasi sosial yang sekunder, dan saling tidak mengenal padahal orang-orang di dalam sub-sub kelompok itu memiliki kedekatan yang membuat mereka saling mengenal baik, bahkan satu sama lain memiliki ikatan persahabatan yang kuat. Akan tetapi, kebenaran dasar (mengenai pola hubungan sosial) dari pemikiran Wirth yang dicuplik penulis sesungguhnya dapat kita temukan jikalau kita menariknya pada konteks yang lebih luas, yakni hubungan antar sub kelompok atau antar anggota yang berbeda secara sub kelompok. Sub-sub kelompok itu hidup secara terpisah dan anggota-anggota dari suatu sub kelompok tidak tentu mengenal anggota dari sub kelompok lain. Hubungan antar sub kelompok di sekolah-sekolah itu yang sebenarnya lebih merepresentasikan pemikiran dari Wirth dan bukan antar individu (yang berada di satu sub kelompok).

Penulis sedikit pesimis bahwa para peserta didik di sekolah-sekolah itu dapat merombak pola kehidupan mereka, meskipun hal semacam itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Sebenarnya kunci dasarnya sangat sederhana, yakni loyalitas. Loyalitas dapat membawa pada adanya sense of belonging. Jikalau setiap peserta didik punya loyalitas tidak hanya kepada sub kelompoknya, melainkan kepada seluruh peserta didik di dalam sekolah (atau generasinya) bukan tak mungkin hubungan yang lebih harmonis dapat terwujud. Masalahnya dalam pengamatan penulis, peserta didik yang benar-benar mempunyai loyalitas terhadap seluruh rekan-rekannya tidaklah banyak. Kebanyakan dari mereka memiliki rasa loyal yang lebih besar kepada sub kelompoknya ketimbang pada seluruh rekannya di dalam satu ruang sekolah. Apabila rasa loyal dimiliki oleh setiap peserta didik untuk setiap rekan-rekannya dan rasa loyal tersebut tidak timpang, maka akan sulit bagi kita untuk menjumpai adanya diskriminasi, eksploitasi, dan kehidupan yang anonim. Loyalitas yang tinggi akan memperluas ikatan kebersamaan yang hanya nampak di dalam sub kelompok menjadi ikatan kebersamaan sebagai sebuah anggota (generasi) suatu sekolah. Untuk dapat mewujudkannya tentu saja diperlukan kesadaran pada tingkat individu.

One thought on “TINJAUAN KRITIS TERHADAP POLA HUBUNGAN SOSIAL ANTAR INDIVIDU DARI SUB KELOMPOK TERTENTU MAUPUN ANTAR SUB KELOMPOK SECARA UMUM : SUATU PENGAMATAN TERHADAP BEBERAPA SEKOLAH SWASTA DI JAKARTA

  1. maju terus stephen untuk meruntuhkan tembok pemisah !

    sebenarnya output personal yang dapat diketemukan dan lebih baik lagi bila mampu membangunnya dalam diri seseorang (salah satu tanda dari “kegerakan” yaitu transformasi pribadi) antara lain : kerendahan hati, pengorbanan, dan pelayanan sehabis habisnya. # ini salah satu bagian dari wejangan Pak nus reimas dalam Celebration of Unity.

    * quote by Daniel Victor Rajagukguk : upaya mengendalikan dunia adalah sia sia, namun logika sebaliknya adalah menarik, yaitu kita bersatu untuk memberikan diri dan dipimpin oleh Roh Kudus. > hehehe, melalui internalisasi personal yang saya lakukan dalam Celebration of unity juga.

    keep move stephennnnn! ayo kita bertemu bersama teman2 KK lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s