MEMORI KEBANGKITAN 2002 : KEDIGAYAAN DI PIALA DUNIA DAN PEMBASUHAN LUKA

Ini merupakan kesekian kalinya penulis membuat tulisan tentang pemilik gelar pemain terbaik dunia tiga kali, Luiz Nazario de Lima. Sosok yang dijuluki El Gordo di ranah Spanyol ini memang telah pensiun, namun apa yang pernah ia lakukan selama masih berkostum pemain telah memberi banyak warna bagi sejarah sepak bola. Entah kenapa, walaupun sudah berkali-kali membuat tulisan dengan topik yang tidak jauh beda dengan tulisan ini atau bahkan sama persis, penulis tetap terus menuliskannya dengan beberapa tambahan informasi dan warna yang berbeda sebagai pengembangan tulisan terdahulu karena bagi penulis kebesaran El Fenomeno tidak cukup jika hanya digambarkan oleh beberapa tulisan termasuk tulisan penulis dan pengamat sepak bola lain.

Berbicara tentang sepak bola tentu akan membahas pula mengenai sejarahnya. Pemain seperti Ronaldo yang sudah lewat tetap eksis karena sejarah besar yang pernah ia tancapkan di berbagai lapangan di mana ia pernah menendang bola di sana. Akan tetapi, ada banyak bab dalam sejarah sepak bola Ronaldo. Warna tulisan ini memang tidak lepas dari subjektivitas penulis, namun penulis tetap mengangkat fakta yang bagi penulis merupakan kenyataan yang mempunyai makna terbesar dalam karir Ronaldo. Kejayaan Ronaldo tak akan benar-benar mencapai puncak jika tidak melewati periode termegah ini. Tulisan ini akan mengajak pembaca untuk kembali ke peristiwa di Korea-Jepang 11 tahun silam (dari sejak tulisan ini dibuat) , serta momen fenomenal di penghujung 2002.

Piala Dunia 2002 merupakan turnamen yang sangat penting bagi Ronaldo. Lewat turnamen inilah topskor sepanjang masa Piala Dunia ini boleh kembali merebut perhatian publik lewat kemampuan cemerlangnya sebagai penyerang mematikan. Perjuangan Ronaldo untuk boleh mendapatkan satu tiket bersama Brazil tidak diperoleh lewat proses yang mudah. Waktu itu Ronaldo belum lama sembuh dari cedera yang membebat lututnya. Cedera tersebut membenamkan namanya selama lebih dari satu tahun. Setelah ia sembuh pun tentu saja tidak akan mudah baginya untuk langsung kembali ke performa puncak seperti tatkala ia berhasil mencetak rekor sebagai pemain pertama yang mampu memenangi gelar FIFA MVP of The Year dua tahun berturut-turut di usia yang masih sangat muda.

Ronaldo juga datang ke Piala Dunia dengan memori kelam di mana empat tahun sebelumnya dirinya tak mampu membawa Tim Samba menggoreskan bintang kelima di jersey kuning kebanggaan rakyat Brazil. Pada tahun 1998, Ronaldo datang ke Piala Dunia dengan status sebagai mega bintang dunia. Gelar sebagai pemain terbaik dunia dua tahun berurutan adalah bukti paling sahih. Berbekal status tersebut tentu saja para pendukung Brazil sangat mengharapkan ia mampu memberikan gol-gol yang dapat membuat Brazil mempertahankan gelar juara. Beban yang diberikan oleh seluruh pendukung termasuk awak tim mungkin terlalu besar bagi seorang muda yang bahkan belum genap berusia 22 tahun. Akibatnya Ronaldo sendiri harus tersungkur di hadapan Zidane cs yang berhasil mencukur habis Brazil lewat tiga gol tanpa balas. Kegagalan Ronaldo sendiri masih menyimpan misteri hingga saat ini. Beberapa rumor menyatakan bahwa memang benar bahwa Sang Fenomena tidak kuat menanggung beban yang terlalu besar karena ia masih terlalu muda. Berita lain mengungkapkan bahwa ia mengalami sakit akibat suatu hal yang juga belum diketahui. Sumber lain mengatakan bahwa Ronaldo mendapat ancaman lalu mengalami gangguan psikis dan akhirnya jatuh sakit beberapa jam menjelang laga puncak di turnamen terbesar tahun itu. Ronaldo sendiri nekat untuk bermain dan menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia mengatakan pada Zagallo bahwa ia bukanlah anak kecil dan ia tahu kondisinya. Ronaldo muda memang sosok yang begitu menyeramkan bagi kiper mana pun, namun sihirnya sama sekali tidak nampak di hadapan Tim Ayam Jantan sehingga gawang Barthez pun tetap suci hingga pluit wasit berbunyi di penghujung laga.

Ketika Ronaldo datang ke Korea-Jepang mungkin hanya sedikit atau bahkan tidak ada orang yang menduga bahwa ia akan merajai kompetisi bersama Brazil. Brazil sendiri bukanlah tim unggulan saat itu. Mereka memang membawa pemain-pemain besar termasuk pemain muda potensial seperti Ronaldinho, tetapi tetap saja keberadaan mereka tidak dianggap sebesar empat tahun sebelumnya di mana saat itu Ronaldo menjadi icon tim apalagi tahun 1998 Brazil datang sebagai juara bertahan. Ronaldo juga datang sebagai pemain biasa. Ia tidak datang seperti Beckham, Figo, atau Zidane yang menjadi tokoh utama di panggung FIFA MVP dalam dua-tiga tahun belakangan. Ronnie bahkan datang sebagai pemain yang belum lama sembuh dari cedera dan pastinya membutuhkan penyesuaian untuk dapat kembali.

Sewaktu Ronaldo mengenakan jersey nomor sembilan mungkin hanya sedikit atau bahkan tidak ada orang yang menduga bahwa ia akan mampu melakukan hal-hal ajaib seperti yang ia persembahkan bagi Inter Milan di musim pertamanya atau bagi El Barca yang ia bela selama semusim. Keraguan yang melekat pada dirinya mungkin menjadi suatu titik minus yang begitu besar sehingga namanya tidak terlalu dipandang. Mungkin saja keberadaannya sebagai pemain bintang hanya tinggal kenangan di dalam sejarah dan peristiwa-peristiwa manis itu tak akan terulang.

Semua pembuktian dimulai pada pertandingan melawan Turki. Brazil terlebih dahulu dijebol dan dalam keadaan tertinggal mereka tentu berusaha untuk menyamakan kedudukan. Ronaldo sendiri berusaha untuk membongkar pertahanan Turki dengan kemampuan olah bolanya yang di atas rata-rata. Beruntung pada akhirnya Ronaldo berhasil menggetarkan jala lawan setelah sukses mengonversi umpan silang Rivaldo menjadi gol. Gol pertama Ronaldo sekaligus gol kelimanya sepanjang keikutsertaan di dalam Piala Dunia. Sesungguhnya ini merupakan awal kebahagiaan Ronaldo yang telah lama mendekam di ruang terapi. Kebahagiaan ini dilengkapi oleh gol penalti Rivaldo yang membuat Tim Samba meraup poin penuh di pertandingan pembuka. Mungkin tidak ada yang melihat tanda-tanda kebangkitan Ronaldo melalui gol pertamanya. Semua pihak mungkin lebih ingat pada memori kelam Ronaldo di Prancis dan cedera lututnya ketimbang gol pertamanya di ajang terbesar tahun itu.

Cerita tentang Ronaldo terus berlanjut. Melawan tim negeri tirai bambu, Ronaldo kembali mencatatkan namanya di papan skor. Ronaldo berhasil menyodok bola masuk setelah mendapatkan umpan datar yang terukur dari kapten tim. Ronaldo waktu itu berlari di antara dua bek Cina dan dirinya pun dalam posisi yang tidak terlalu terkawal, bahkan cenderung bebas. Mendapatkan sodoran di muka gawang dan menendangnya menjadi gol tentu bukan perkara sulit. Gol keempat Brazil hari itu sekaligus gol kedua Ronaldo. Kemenangan besar Brazil mungkin dianggap sebagai hal biasa mengingat lawannya sendiri bukanlah tim yang besar. Ronaldo pun mungkin belum mendapat sorotan berarti.

Pada partai pamungkas di penyisihan grup melawan Costa Rica yang sama-sama datang dari benua Amerika Ronaldo lagi-lagi mencetak gol. Dua golnya membawa Brazil menang dengan skor yang cukup mencolok 5-2. Dua gol Ronaldo dicetak dengan cara yang sangat berbeda. Gol pertama ia buat setelah menerima sodoran di depan gawang. Walau dijepit oleh dua pemain, namun Ronaldo masih sanggup menjangkau bola dan menembus gawang lawan. Gol kedua bermula dari tendangan sudut Rivaldo. Ronaldo menahan bola sebentar sebelum berusaha membuka ruang tembak untuk menendang bola masuk ke gawang. Permainan Ronaldo sendiri cukup impresif di mana beberapa kali ia berhasil mengecoh bek lawan dan membuka ruang bagi pemain lain untuk mengancam gawang Costa Rica. Dengan dua golnya, maka Ronaldo untuk sementara menjadi pemain Brazil dengan jumlah gol terbanyak di turnamen diikuti Rivaldo yang sudah mengemas satu gol lebih sedikit dari empat gol Ronaldo.

Berstatus sebagai juara grup membuat Brazil harus bertemu dengan Belgium. Pertandingan melawan Belgium tidak berlajan terlalu mulus. Beruntung Rivaldo mampu memecah kebuntuan lewat tendangan voli spektakulernya. Di menit-menit akhir Ronaldo sukses menyarangkan gol kelimanya di kompetisi tersebut lewat tendangan kaki kiri setelah dalam keadaan bebas menerima umpan panjang dari Kleberson. Dengan dua gol tanpa balas itu Brazil melaju ke perempat final di mana Beckham cs sudah menanti. Saat bersua Inggris Ronaldo gagal mencetak sebiji gol pun. Ronaldo memang sedikit merepotkan barisan pertahanan The Three Lions, tapi tetap penentu pertandingan ada pada si tonggos Ronaldinho yang memberi assist cemerlang bagi Rivaldo dan tentunya tendangan bebas sensasional yang melambungkan namanya sebagai pahlawan utama Brazil pada laga itu. Brazil sendiri sempat menderita gol karena kesalahan pemain bertahan. Owen yang berhasil memanfaatkan kesalahan tersebut sempat membuat Inggris unggul dan berpeluang besar melaju ke semifinal.

Partai semifinal bukanlah partai yang ringan bagi Tim Samba. Mereka harus kembali bertemu dengan Turki yang dengan susah payah mereka jungkalkan di partai perdana. Turki sendiri memang bukan tim yang mudah untuk ditaklukan. Sepanjang pertandingan para pemain Brazil terus berusaha untuk menggedor gawang Turki, namun usaha yang berbuah gol baru datang di menit ke 49. Ronaldo! Nama ini menjadi satu-satunya nama yang muncul di papan skor. Rasanya sulit bagi publik untuk tak melihat tanda-tanda kebangkitan Ronaldo setelah melihat aksinya di pertandingan ini. Gol tunggal Ronnie sukses membawa Brazil melaju ke partai puncak dan menjaga asa untuk menambah bintang di jersey mereka. Ronaldo sendiri mencetak gol dengan cara yang tidak biasa. Menerima operan dari Gilberto Silva, Ronaldo menggiring bola dan melewati satu pemain Turki. Sambil dikepung dari berbagai sisi Ronaldo dengan mengejutkan menyontek bola agak datar dan Rustu tak mampu menahan laju bola yang masuk ke gawangnya. Sebuah sentuhan halus dari Ronaldo yang terus menuai pujian dari banyak pihak. Sontekan bola yang disebut-sebut Ronaldo sebagai cara ala Romario telah membuka mata dunia akan tanda-tanda kebangkitan pemain kelahiran Bento Riberio ini. Gol tersebut juga menjadi gol keenam Ronaldo dari enam pertandingannya bersama Brazil sepanjang turnamen sekaligus melambungkan namanya di posisi teratas dalam perebutan sepatu emas. Ronaldo dengan enam golnya dibuntuti oleh Rivaldo dan Miroslave Klose yang telah mengemas lima gol. Pada partai tersebut Ronaldo tidak bermain utuh dan digantikan agak cepat menyusul cedera ringan yang dideritanya.

Brazil melaju ke partai puncak dan media pun mulai gencar memberi topik untuk laga final di stadion Yokohama. Topik pada laga puncak itu tak lain adalah arena pertarungan antara kiper terbaik melawan penyerang tertajam sepanjang kompetisi. Persaingan yang dimaksud tentu saja Oliver Kahn melawan Ronaldo. Beberapa juga mulai menyebutkan bahwa partai final malam itu merupakan ajang penebusan dosa Ronaldo di Prancis empat tahun sebelumnya. Meski demikian keraguan terhadap Sang Fenomena tentu masih ada. Ronaldo dikhawatirkan akan kembali tersungkur dan gagal membawa Brazil menghindar dari Jerman dalam jumlah perolehan gelar juara karena jika Jerman menang, maka mereka akan menyamai torehan Brazil dalam hal jumlah trofi Piala Dunia.

Sekali lagi Ronaldo tidak datang ke partai final dengan posisi yang nyaman. Keberadaannya sebagai topskor sementara tak membuatnya lebih diunggulkan. Dirinya justru diklaim akan merosot di partai puncak. Patut diingat bahwa pada Piala Dunia 1998 Ronaldo tampil begitu cemerlang hingga babak semifinal sebelum akhirnya lumpuh total di penghujung kompetisi. Dengan demikian tentu saja tak ada kepastian bahwa jika Ronaldo tampil ciamik hingga semifinal, maka ia akan sanggup mengangkat piala di partai final. Sesungguhnya lawan Ronaldo di final bukan hanya Jerman dengan Oliver Kahn sebagai benteng tangguhnya, namun seluruh pihak yang selama ini meragukan dan mengkritik dirinya, serta ketakutan atau trauma final di Prancis. Sebagai seorang mantan juara yang telah siap dari segi mental tentu Ronaldo tahu bagaimana bisa membungkam semuanya.

Ronaldo di tahun 2002 telah lebih dewasa dibanding saat masih bermain di Piala Dunia 1998. Hal ini tentu membuatnya lebih kuat menahan beban psikologis. Hal ini membuatnya tampil cukup lepas di Yokohama. Dalam pertandingan itu ia memperoleh sejumlah peluang emas yang gagal dieksekusi menjadi gol. Berawal dari terobosan cantik dari si Gaucho, Ronaldo yang tinggal berhadapan satu lawan satu melawan Kahn sang peraih Lev Yashin Award gagal menceploskan bola dan malah menendang bola meleset dari gawang. Peluang emas berikutnya juga gagal membuat Brazil unggul cepat. Menerima bola lambung dari pemain yang sama, Ronaldo yang dikawal satu orang dan berhadapan satu lawan satu dengan Kahn membuat pendukung Brazil kembali mengerenyitkan dahi dan menarik nafas. Kahn masih sanggup menahan Ronaldo walau harus berjibaku di gawangnya sendiri. Menjelang turun minum Ronaldo mendapat satu kali lagi peluang emas. Menerima operan Roberto Carlos di depan gawang. Ronaldo yang berdiri sendirian melepaskan tendangan voli kaki kiri yang masih mampu dimentahkan oleh Kahn. Dengan demikian Kahn berhasil menjaga kesucian gawangnya yang baru kebobolan satu kali saja sepanjang kompetisi. Pendukung Jerman sendiri sempat dibuat was-was lewat serangan Brazil yang tidak hanya lewat sosok Ronaldo karena pemain seperti Kleberson setidaknya dua kali mengancam gawang Jerman.

Di 45 menit terakhir inilah Ronaldo mendapatkan kembali kejayaan lamanya yang sempat menghilang beberapa tahun. Ada cerita panjang untuk sampai pada titik itu. Brazil sempat beberapa kali digedor oleh pemain-pemain Jerman. Meski tak diperkuat Ballack, namun Jerman masih sanggup merepotkan para punggawa Brazil. Freekick Neuville tentu membuat segenap pendukung Brazil nyaris menderita sakit jantung. Beruntung Marcos berhasil menyentuh bola yang menghujam keras sehingga bola sedikit berbelok dan hanya mencium tiang gawang. Brazil kembali membangun serangan. Ronaldo sekali lagi berusaha menembus pertahanan Jerman yang sulit dibongkarnya. Lagi-lagi Ronaldo harus tertahan. Sepanjang pertandingan memang terlihat bagaimana pemain bertahan Jerman menjaga Ronaldo dengan ketat karena mereka sadar bahwa mantan mega bintang dunia ini berpotensi besar meruntuhkan mimpi mereka. Ronaldo yang terjatuh setelah gagal menembus pertahanan Jerman di menit 66 kembali bangkit dan merebut bola dari kaki Hamman. Bek Jerman ini sendiri belum sempat menjauhkan bola dari area pertahanan mereka. Berhasil mengambil bola, Ronaldo langsung memberi bola tersebut kepada Rivaldo yang lebih bebas. Ronaldo dengan sigap langsung mencari ruang kosong karena beranggapan bahwa Rivaldo akan memberinya umpan matang seperti yang dilakukan para pemain lain padanya di 45 menit pertama.

Rivaldo ternyata menendang bola cukup kuat dan bola jatuh tepat ke pelukan Kahn. Tangkapan Kahn ternyata tidak sempurna. Bola pun terlepas. Tiba-tiba ada sosok yang dengan cekatan menyerbu bola bebas tersebut. Ya itu adalah Ronaldo, pemain yang empat tahun sebelumnya hanya bisa merenungi kekalahannya. Kahn yang belum sempat memperbaiki posisi bermaksud menahan langsung sepakan jarak dekat Ronaldo di depan gawang, namun Ronaldo adalah striker pembunuh kelas dunia yang tidak akan membiarkan penjaga gawang terus menerus mempertontonkan keperkasaannya di muka gawang. Dengan ganasnya Ronaldo menendang bola dengan keras dan bola melewati penjagaan Kahn yang selama ini selalu menjadi tembok penghalang bagi Brazil. Inilah awal mula kejayaan Ronaldo yang menghapuskan segala kekhawatiran padanya menjelang pertandingan. Dengan ini maka sebagian noda hitamnya terhapus.

Masih ada sekitar 23 menit bagi Der Panzer untuk menyamakan kedudukan. Meski demikian dewi fortuna ternyata berpihak pada Brazil. Sekali lagi Ronaldo boleh menyatakan bahwa ia merupakan penyerang yang hanya bisa dikubur oleh cedera. Bermula dari pergerakan cantik Kleberson yang menyisir di sisi kiri. Kleberson melepaskan umpan datar panjang ke arah Rivaldo. Rivaldo mengetahui posisi Ronaldo yang lebih bebas membiarkan bola melewati kakinya begitu saja. Bola pun jatuh ke kaki Ronaldo. Ternyata Ronaldo memilih untuk langsung menendang bola dan Assamoah terlambat menutupi ruang tembak Ronaldo. Bola diarahkan ke pojok kanan gawang dan Kahn sebagai kiper terbaik pun tidak mampu menjangkaunya. Akurasi tendangan yang menjadi salah satu keunggulan utama Sang Fenomena telah menggandakan keunggulan Brazil sekaligus menghancurkan keperkasaan Kahn. Inilah keajaiban di menit 79 yang membasuh total seluruh duka Ronnie dan peristiwa kelam empat tahun sebelumnya. Kaki kanannya yang pernah digandrungi cedera lutut kini telah menghempaskan seluruh penderitaan dalam hidupnya sebagai pemain. Semua penderitaannya telah usai di menit 79 itu dan halaman sejarah yang baru pun dimulai dengan selebrasi gol kemenangan. Gol kedelapan Ronaldo dari tujuh penampilannya di Korea-Jepang. Tidak ada yang lebih besar dari peristiwa itu. Saat itu pulalah maut menjemput para pengkritik yang menuding bahwa El Fenomeno telah habis.

Dunia harus mengakui bahwa Ronaldo telah bangkit dan menenggelamkan seluruh momen kelamnya. Dua golnya di final menjadi puncak kebangkitannya dan ia pun resmi menjadi pencetak gol terbanyak. Dua golnya di final juga melengkapi kedigayaannya selama bermain di Piala Dunia. Ronaldo tidak datang sebagai pemain besar, tetapi ia pulang sebagai pahlawan utama dan membuat dunia harus kembali mengakuinya sebagai mega bintang lapangan hijau. Brazil merayakan keberhasilan mereka dengan penuh senyuman dan kegembiraan mewarnai seluruh awak tim. Ronaldo yang empat tahun sebelumnya hanya tertunduk lesu dan menyaksikan Les Bleus berpesta pora kini ikut bergoyang Samba bersama rekan-rekannya dalam acara perayaan tersebut. Meski berdiri di depan sebagai tokoh utama yang melambungkan Brazil, namun ternyata ia tak didaulat sebagai pemain terbaik di turnamen dan hanya duduk di posisi kedua di bawah Kahn. Pemberian penghargaan sendiri dilangsungkan sebelum partai final sehingga tak pelak Ronaldo hanya berada di posisi runner up. Apabila penganugerahan gelar dilakukan sesudah kompetisi usai bukan tak mungkin Ronnie akan bertengger di podium paling atas untuk menerima penghargaan bola emas mengingat ia merupakan aktor utama yang membawa Brazil memenangkan gelar kelima mereka.

Tidak cukup sampai di situ pada penghujung tahun Ronaldo pun dianugerahi gelar sebagai pemain terbaik dunia menyusul Ballon D’Or yang terlebih dahulu dimenanginya. Gelar ini merupakan gelar ketiga Ronaldo sepanjang karirnya. Pencapaian tersebut juga merupakan rekor baru pada saat itu di mana Ronaldo merupakan pemain pertama yang mampu memenangi tiga gelar sekaligus pemain pertama yang punya koleksi terbanyak sebelum disamakan oleh Zidane setahun kemudian dan dilewati oleh Messi 10 tahun berikutnya. Sesungguhnya makna dari pencapaian itu bukan hanya mengembalikan sosoknya sebagai pemain besar, namun kemenangan itu telah membasuh secara total derita yang ditanggungnya sejak peristiwa kelam 1998. Kemenangan itu juga suatu bentuk penghargaan bagi para dokter yang sukses mengoperasi lututnya hingga sang fenomena mampu berdiri dan berlari kembali di lapangan. Kemenangan tersebut tak lain juga merupakan maut bagi para pengkritiknya. Inilah fenomena besar karya sang fenomena yang menjadi bagian dari memori para pecinta sepak bola.

ronaldo wc final

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s