SUATU KRITIK TERHADAP TEORI STRUKTURAL KONSENSUS DARI KACA MATA TEORI KONFLIK

Teori struktural konsensus dan teori konflik merupakan dua teori yang berbeda. Dua teori besar ini mempunyai pengaruh yang besar dalam menjelaskan gejala-gejala sosial sehari-hari. Dalam tulisan ini penulis akan membahas bagaimana teori konflik mengkritisi teori struktural konsensus. Kebetulan kedua teori ini sendiri saling bertentangan dan dalam posisi ini penulis berada pada wilayah yang memegang teori konflik sebagai landasan untuk mengkritik teori struktural konsensus.

Teori struktural konsensus menjelaskan bahwa dalam masyarakat setiap orang disosialisasikan mengenai aturan-aturan yang ada di dalam kebudayaan. Di setiap masyarakat tentu ada kebudayaan yang mengatur bagaimana seorang individu harus berperilaku. Teori ini memandang bahwa kebudayaan sudah ada sebelum manusia lahir dan ketika manusia lahir mereka dihadapkan pada dunia sosial yang sudah ada. Hanya dengan mempelajari aturan-aturan kebudayaan, maka mereka dapat berinteraksi satu sama lain. Orang-orang yang berbeda akan berperilaku sama karena sama-sama disosialisasikan.

Aturan-aturan kebudayaan diterapkan kepada posisi-posisi dalam struktur sosial yang ditempati oleh masing-masing individu. Posisi-posisi tersebut bisa identik dengan jabatan atau jenis pekerjaan. Posisi-posisi dalam suatu struktur sosial secara sosiologis disebut dengan peranan. Norma merupakan aturan-aturan yang menstrukturkan perilaku orang-orang yang menempati posisi tersebut. Selain norma ada pula nilai yang merupakan ringkasan dari cara hidup yang disepakati bersama. Nilai itu sendiri menjadi prinsip umum yang menjadi landasan bagi suatu norma. Semua aturan tersebut disosialisasikan dengan tujuan akhir, yakni terciptanya keteraturan sosial.

Di sini penulis akan menyajikan salah satu contoh analisis teori struktural konsensus, yakni mengenai ketidaksetaraan pendidikan. Teori ini menyatakan bahwa pencapaian rendah dari orang-orang di kelas bawah seringkali disebabkan karena sosialisasi oleh orang tua mereka. Mungkin saja banyak dari orang-orang di kalangan bawah yang mempunyai kecerdasan sama dengan mereka yang berada di atas, namun pencapaian pendidikan mereka berbeda. Anak-anak dari kalangan bawah bisa jadi tidak disosialisasikan akan pentingnya pencapaian akademik mengingat orang tua mereka mungkin tidak mempunyai pendidikan yang tinggi. Berbeda dengan anak-anak di kalangan atas yang disosialisasikan akan pentingnya pendidikan yang tinggi demi mempertahankan kesuksesan. Orang tua dari anak-anak kalangan atas mungkin menempuh pendidikan yang tinggi sehingga mereka mengerti pentingnya pendidikan. Tingginya pencapaian anak-anak dari golongan atas didorong oleh sosialisasi ke dalam norma dan nilai yang ideal bagi pencapaian pendidikan.

Pemaparan di atas adalah penjelasan dari teori struktural konsensus yang menurut penulis kurang lengkap jikalau dilihat dalam konteks zaman yang sudah semakin maju. Mengapa demikian? Pertama-tama kita harus menyadari terlebih dahulu bahwa kita hidup di zaman yang sangat kompleks. Ada berbagai posisi dalam masyarakat dan kita melihat posisi-posisi tersebut secara vertikal yang berarti mengarah pada hirarki. Semakin ke atas tentu saja semakin besar kekuasaan. Harus diketahui bahwa kelas yang berkuasa mempunyai kekuatan untuk mengendalikan roda kehidupan termasuk dalam menetapkan berbagai aturan yang harus dipatuhi masyarakat. Jadi poinnya di sini adalah kelas yang berkuasa mempunyai kekuatan untuk mengatur. Inilah landasan dari teori konflik.

Sekarang kita akan membahas lebih dalam implikasi dari berbagai ketetapan yang diterapkan oleh kelas yang berkuasa. Apa yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang berkuasa seringkali hanya bersifat untuk melanggengkan keberadaan mereka dan sesamanya yang berada di atas, serta semakin menindas orang-orang yang berada di strata bawah dalam masyarakat. Aturan yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkuasa itulah yang kemudian disosialisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Jadi apa yang tertera dalam penjelasan teori struktural konsensus belum menyentuh ke dasar apabila kita melihatnya dari sudut pandang teori konflik.

Kembali kepada contoh mengenai pencapaian pendidikan. Di sini penulis melihat seperti ini. Pendidikan tentu tidak murah. Berdasarkan aturan yang telah dibuat ditetapkan biaya pendidikan sejumlah sekian. Siapakah pihak yang dapat memenuhi tuntutan pendidikan yang sedemikian tinggi? Tentu saja mereka yang berada di kelas menengah ke atas. Anak-anak dari kelas menengah ke atas bisa jadi disosialisasikan akan pentingnya pencapaian pendidikan karena pendidikan itu sendiri tidak didapat dengan gratis. Orang tua mereka harus mengeluarkan sejumlah besar uang. Sejumlah uang tersebut menurut penulis adalah harga dari pentingnya pendidikan. Karena pendidikan itu penting dan berharga, maka dihargai mahal. Lagipula dengan mencapai pendidikan yang tinggi berarti mereka berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa memberi penghasilan tinggi untuk menggantikan sejumlah uang yang sudah dihabiskan untuk pendidikan, oleh karena itu tak heran jika mereka disosialisasikan akan pentingnya pencapaian akademik.

Berbeda dengan orang-orang dari kelompok bawah. Anak-anak mereka mungkin saja tidak disosialisasikan akan pentingnya pendidikan atau bahkan mereka tidak disarankan untuk menempuh pendidikan yang tinggi karena khawatir akan tingginya biaya yang harus dibayarkan. Sesungguhnya apa yang disosialisasikan oleh orang tua mereka lahir karena mereka terbentur oleh aturan biaya yang ditetapkan oleh mereka yang mempunyai kuasa untuk menetapkan biaya pendidikan. Dengan demikian sosialisasi di sini tak lepas dari berbagai kebijakan atau ketetapan buatan orang-orang yang berkuasa.

Dengan demikian jelaslah bahwa segala sesuatu yang disosialisasikan tak lepas dari pengaruh pihak yang berkuasa. Di sini kita dapat melihat adanya ketidaksetaraan dalam masyarakat yang mungkin akan terus berlangsung selama pihak yang berkuasa terus memengaruhi jalannya kehidupan melalui segala ketetapan dan kebijakan yang mereka buat. Teori konflik memandang bahwa kebudayaan itu sendiri merupakan sarana untuk meneruskan ketidaksetaraan sehingga pihak yang beruntung dan berkuasa akan tetap berada di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s