JANGAN MENGUKUR TUHAN SECARA KUANTITATIF

Pembaca mungkin pernah mendengar ada pengajar yang menetapkan di kelasnya bahwa angka 100 yang dianggap sebagai nilai tertinggi dan sempurna dalam suatu penilaian hanya diperuntukan bagi Tuhan. Hal tersebut mungkin juga menjadi prinsip penilaian pengajar tersebut sehingga tidak ada satu pun peserta ajar yang mendapatkan nilai 100. Penulis di sini mengajak pembaca untuk mengkritisi apa yang menjadi suatu realita di dalam dunia pendidikan khususnya persoalan mengenai nilai secara kuantitatif tersebut.

Tak dapat dipungkiri bahwa di dalam dunia pendidikan diperlukan suatu standar yang bersifat kuantitatif untuk mengukur seberapa besar pencapaian yang sudah diperoleh sehingga dapat diambil kesimpulan lulus atau tidak lulus. Pencapaian di dalam dunia pendidikan sangatlah sulit dilihat jikalau hanya dilihat secara kualitatif saja sehingga harus ada penilaian secara kuantitatif. Akan tetapi penilaian secara kuantitatif sendiri sering bermasalah dalam hal perumusannya. Salah satu contoh yang penulis angkat di sini adalah pernyataan bahwa angka 100 hanya diperuntukan bagi Tuhan.

Merupakan sesuatu yang wajar jika seorang peserta didik tidak mendapatkan angka sempurna karena memang pekerjaannya tidaklah sempurna sesuai dengan standar sempurna yang dirumuskan dan ditetapkan, tetapi merupakan suatu kesalahan apabila peserta didik tidak memperoleh nilai sempurna karena pihak pengajar memegang prinsip bahwa nilai sempurna hanya bagi Tuhan. Penulis tidak mengajak pembaca untuk menjadikan nilai kuantitatif sebagai tujuan atau orientasi dari pendidikan karena tujuan dalam kurikulum bukanlah seperti itu. Nilai kuantitatif yang muncul hanyalah suatu konsekuensi logis atas apa yang sudah dikerjakan dan itu adalah hak yang diperoleh oleh pelajar.

Pertama-tama harus diketahui bahwa manusia tidaklah sempurna sehingga kesempurnaan dalam manusia pun tidak sempurna. Bagaimana mungkin manusia yang tidak sempurna dapat mengukur tingkat kesempurnaan Tuhan? Manusia yang tidak sempurna tidak mungkin mengukur dan memandang kesempurnaan Tuhan berdasarkan sudut pandang kesempurnaan manusia yang tidak sempurna. Kedua, apakah kesempurnaan Tuhan itu diketahui seutuhnya oleh manusia? Manusia tidak mungkin dapat merumuskan secara sempurna kesempurnaan Tuhan, sebab mengukurnya pun tidak mungkin. Lagipula jika kita menanyakan, “Berapakah nilai kuantitatif yang tepat untuk menggambarkan kesempurnaan Tuhan?”, maka sesungguhnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang salah karena sudah jelas bahwa Tuhan tidak terukur secara kuantitatif, sebab Ia tak terbatas. Ketiga, jika manusia berani menyatakan ukuran sempurna tentang Tuhan berarti manusia itu menyangkali bahwa Tuhan lebih sempurna dari dirinya, sebab tak mungkin yang tidak sempurna bisa mengukur yang melampaui dirinya.

Dari sini jelas bahwa mengatakan nilai 100 hanya untuk Tuhan merupakan kesalahan besar. Angka 100 sebagai suatu angka yang sempurna dalam penilaian itu merupakan definisi manusia atas sesuatu yang masih dapat diukurnya. Lalu memberikan nilai 100 bagi Tuhan itu berarti menunjukan seolah-olah kita dapat mengukur dan mengetahui kesempurnaan Tuhan sehingga di sini manusia menyangkali kesempurnaan Tuhan yang melampaui kesempurnaan manusia yang berada di dalam ketidaksempurnaan. Lagipula manusia tidak akan pernah mengetahui besarnya kesempurnaan Tuhan selama dirinya masih menyandang status sebagai makhluk yang tidak sempurna sehingga tidak mungkin manusia dapat membuat suatu ukuran yang menyatakan kesempurnaan Tuhan. Manusia hanya tahu bahwa Tuhan itu sempurna, namun tak dapat membuat ukuran dari kesempurnaan-Nya.

Beberapa prinsip penilaian yang terdapat di dalam dunia pendidikan harus direvisi khususnya persoalan yang penulis bahas dalam tulisan ini. Jauh lebih tepat jika dikatakan bahwa tidak ada yang pantas mendapat nilai 100 karena memang tidak ada yang punya kemampuan untuk menggapai tingkat setinggi itu ketimbang mengatakan bahwa nilai 100 hanya untuk Tuhan yang sudah pasti kemampuan-Nya mampu melampaui angka 100 sebagai batas tertinggi dari sempurna buatan manusia sendiri.

One thought on “JANGAN MENGUKUR TUHAN SECARA KUANTITATIF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s