MARI BERKACA DARI SEJARAH

Pengakuan salah seorang rekan dalam kelas Pengantar Ilmu Politik mengenai diskriminasi etnis khususnya bagi masyarakat Tionghoa di daerahnya, sindiran kepada Bapak Ahok akan sukunya, pengakuan orang-orang di media tentang sindiran atas kecinaannya, dan beberapa kasus lain turut mendorong penulis untuk membuat tulisan ini. Sebenarnya tulisan ini jauh dari kesan ilmiah karena penulis tidak mempunyai banyak data empiris dan sebagian besar hanya merupakan intisari dari pemikiran orang-orang intelektual yang diadopsi oleh penulis. Apa pun itu, penulis mencoba untuk menyembulkan suatu pemikiran yang barangkali dapat menjadi sebuah gagasan untuk mendorong agar Indonesia dapat sungguh-sungguh mempraktikan filosofinya yang selama ini hanya terkesan sebagai konsep ideal saja.

Belum lama ini ada seorang capres muda yang mengudarakan istilah nonpribumi. Istilah itu tentu saja bukan kosakata asing di negeri kita karena istilah itu biasa digunakan untuk membedakan siapa asli dan siapa tidak asli. Penulis sendiri cukup tertegun melihat situasi tersebut. Berbicara tentang nonpribumi berarti membahas juga istilah pribumi. Perlu dikritisi sebenarnya apa itu pribumi. Istilah pribumi sendiri dihidupkan pada masa penjajahan Belanda dan kata pribumi waktu itu sendiri menunjuk pada suku-suku di Indonesia, kecuali orang Cina, Arab, Eropa, dan bangsa asing lain. Istilah pribumi itu mengacu pada suku-suku di Indonesia karena mereka dianggap penghuni asli. Belanda sendiri kemudian membuat suatu stratifikasi sosial di mana golongan pribumi berada di tangga terbawah.

Mengerikan memang. Apa yang diciptakan Belanda masih mengakar begitu kuat di negara yang sudah merdeka 67 tahun ini. Akan tetapi, perlukah kita mempertahankan istilah pribumi dan nonpribumi tersebut? Berdasarkan data-data dari sejarah sebenarnya yang disebut dengan pribumi itu sendiri sejatinya tidak ada. Siapakah orang yang murni berasal dari Indonesia sehingga ia pantas disebut sebagai pribumi? Seharusnya tidak ada karena leluhur bangsa Indonesia sendiri tidak berasal dari Nusantara. Dengan demikian logikanya masyarakat Indonesia sendiri mewarisi darah orang luar yang datang ribuan tahun lalu.

Menurut beberapa sumber dan hasil dari tanya jawab ringan penulis dengan Dr.Victor Silaen penulis mendapatkan penjelasan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia mewarisi darah Cina. Ini mungkin mengejutkan karena sekarang kata Cina itu sendiri menjadi alat untuk menghina etnis Tionghoa. Dalam tulisannya yang berjudul Ahok dan Cina, Soe Tjen Marching, Ph.D pun menyebutkan bahwa orang-orang yang diharuskan mengaku sebagai pribumi adalah para imigran yang berasal dari Yunnan, Cina Selatan. Dr.Victor Silaen menjelaskan bahwa sebelum masehi ada orang-orang dari Yunnan, Cina Selatan yang datang ke nusantara. Mereka lalu mengadakan perkawinan dengan manusia-manusia Jawa yang dikenal dengan sebutan Homo Wajakensis, Homo Soloensis, dan sebagainya. Keturunan mereka yang disebut sebagai orang melayu lantas pergi ke berbagai pulau lain di nusantara. Penulis sendiri tidak terlalu paham dari mana asal manusia-manusia Jawa tersebut, namun beberapa tulisan di media menyatakan bahwa ras Australoid yang merupakan penduduk asli Australia turut bermigrasi dan salah satunya ke Jawa. Jadi di sini hipotesisnya adalah manusia-manusia Jawa itu juga merupakan orang-orang luar yang kemungkinan adalah ras Australoid.

Kemudian ada berbagai teori yang menyatakan asal usul nenek moyang bangsa Indonesia. Dua teori besar yang sampai sekarang sering penulis temui adalah teori out of Yunnan dan teori out of Taiwan. Untuk teori out of Taiwan sendiri dijelaskan bahwa leluhur bangsa Indonesia berasal dari daratan Taiwan. Berbeda dengan teori out of Yunnan yang mungkin menjadi dasar dalam penjelasan Dr.Victor Silaen dan tulisan Soe Tjen Marching, Ph.D. Teori out of Taiwan sendiri diklaim sebagai teori paling sahih dan mampu menggantikan kedudukan teori out of Yunnan yang dianggap kurang ilmiah. Kedua teori itu terlihat saling bertarung, namun hipotesis penulis adalah bisa jadi keduanya benar.

Mengapa penulis mengatakan ada kemungkinan kedua teori di atas benar? Belum lama ini, penulis berbincang-bincang dengan seorang guru yang menempuh studi di Taiwan. Beliau menerangkan bahwa di Taiwan ada orang-orang aborigin yang memang secara fisik berbeda dari kebanyakan orang Taiwan dan mereka dikatakan sebagai penduduk asli. Sontak saja penulis langsung menduga bahwa itulah ras Australoid. Di Indonesia ini sendiri selain Mongoloid ada pula Australoid jadi di sini dapat dikatakan bahwa teori out of Taiwan ada benarnya juga. Lalu bagaimana dengan teori out of Yunnan? Ada rekan penulis yang saat ini sedang menempuh studi lanjut di RRC dan ketika penulis bertanya padanya mengenai orang-orang Cina di Yunnan ia menjawab bahwa orang Yunnan sangat berbeda dengan orang di daerah utara. Orang-orang Yunnan tersebut secara warna kulit memang lebih gelap. Penulis sendiri pernah menemukan tulisan di media yang menjelaskan tentang ciri fisik penduduk Cina di Yunnan yang memang berbeda dari penduduk di utara. Jika memang benar mereka adalah leluhur sebagian besar orang di nusantara ini, maka dapat dikatakan bahwa bisa saja mereka telah menurunkan ciri fisik tersebut ke masyarakat sekarang (berdasarkan analisis biologi dengan prinsip genetika) sehingga banyak penduduk Indonesia berkulit sawo matang.

Dari penjelasan di atas cukup jelas bahwa leluhur bangsa Indonesia sendiri tidak berasal dari nusantara. Yang pasti mereka telah ribuan tahun tinggal di nusantara dan akhirnya mengembangkan budayanya sendiri. Setiap kelompok tentu berbeda cara hidupnya sehingga kebudayaan yang dihasilkan juga berbeda-beda, tak pelak kita bisa melihat bahwa suku-suku di Indonesia mempunyai kebudayaannya masing-masing. Kebudayaan tersebut juga terus berkembang seiring terjadinya penemuan baru dan pencampuran di dalam masyarakat. Kebudayaan itu sendiri mungkin lahir di nusantara sehingga kebudayaan tersebut bisa dikatakan produk murni dari Indonesia, meskipun pembuatnya mewarisi darah dari luar. Penduduk non Tionghoa yang merupakan keturunan para imigran dari Yunnan pun tidak dapat dikategorikan sebagai orang Cina lagi karena mereka sudah memegang budaya baru yang berbeda dan mereka juga telah tergabung dalam suku-suku yang lahir di dalam Indonesia. Selain itu, bisa jadi mereka juga telah mengalami berbagai pencampuran karena pada masa lalu ada banyak bangsa-bangsa yang datang ke nusantara seperti yang terjadi pada zaman kerajaan. Akan tetapi, tetap tak boleh dilupakan bahwa mereka mewarisi darah luar, misalnya darah Cina seperti yang dikatakan Bapak DR.Victor Silaen dan penjelasan teori out of Yunnan. Oleh karena itu, jika mereka mendiskriminasi orang-orang Tionghoa sebagai orang-orang yang tidak menjadi bagian atau tidak berasal dari Indonesia, maka sesungguhnya mereka mencibir leluhurnya sendiri yang jelas sekali datang dari luar nusantara, bahkan jikalau teori out of Yunnan itu benar, maka mereka yang menghina etnis Tionghoa karena kecinaannya sudah jelas juga turut menghina leluhurnya yang datang dari daratan Cina.

Kemudian bagaimana Belanda bisa melakukan pemisahan-pemisahan? Berikut adalah penjelasan dari hipotesis penulis yang menggunakan dasar teori out of Yunnan. Penulis menduga berdasarkan kebudayaan dan ciri fisik. Orang Cina yang waktu itu datang secara fisik berbeda dengan keturunan para imigran dari Yunnan yang sudah menetap di daerah nusantara selama ribuan tahun. Apalagi pada zaman kerajaan banyak bangsa-bangsa lain di luar Cina sudah datang dan bisa saja terjadi perkawinan dengan penduduk nusantara yang memunculkan ciri fisik baru. Lagipula seperti penjelasan sebelumnya bahwa ciri-ciri fisik orang-orang Cina di Yunnan pun berbeda dengan yang di utara sehingga Belanda dapat dengan mudah melakukan pemisahan seolah-olah mereka tidak ada hubungan sama sekali. Budaya penduduk nusantara dengan orang-orang Cina yang baru datang juga bisa jadi beda. Penyebab perkembangan atau perubahan budaya adalah adanya penemuan baru dan difusi. Apa yang terjadi di Cina dengan di nusantara tentu bisa berbeda. Di nusantara kita bisa melihat pada zaman kerajaan ada penemuan apa saja dan itu belum termasuk penemuan prasejarah. Di Cina juga tentu ada penemuan-penemuan baru. Kondisi lingkungan dipandang penulis turut memengaruhi adanya penemuan. Keadaan lingkungan di Cina dan nusantara tentu berbeda di mana hal tersebut mendukung perbedaan kebudayaan yang dikembangkan tentunya. Mengenai difusi. Di Indonesia seperti yang dapat kita lihat pada masa kerajaan ada begitu banyak bangsa-bangsa asing yang datang. Di sini bisa terjadi perkawinan yang menuntun kepada peleburan budaya. Di Cina sendiri, Soe Tjen Marching, Ph.D menyatakan ada pencampuran orang-orang Cina dengan bangsa Mongolia.

Berangkat dari pemisahan dan adu domba yang dilakukan oleh pihak Belanda itulah akhirnya orang-orang Tionghoa dan penduduk yang diharuskan mengaku pribumi mengalami perseteruan. Permasalahannya adalah perseteruan itu terus berlangsung hingga sekarang padahal bangsa Indonesia telah merdeka. Orang-orang Tionghoa dianggap berasal dari luar Indonesia sekalipun mereka adalah WNI sama seperti orang-orang yang mengaku diri sebagai pribumi. Di sini orang-orang yang mengaku diri sebagai pribumi seperti lupa akan sejarah garis keturunannya. Memang mereka yang mengaku pribumi memegang kebudayaan asli Indonesia karena kebudayaan yang mereka pegang bisa jadi dilahirkan di nusantara. Walau demikian tak dapat disangkal bahwa secara genetis mereka mewarisi darah dari luar. Budaya bisa diciptakan dan bisa berubah, tetapi garis keturunan tentu tidak dapat diubah.

Diskriminasi etnis dalam kasus sehari-hari juga menjelaskan bahwa praktik dari filosofi negara ini masih belum berjalan dengan baik. Hal itu juga mengindikasikan bahwa mereka yang menerapkan diskriminasi etnis lupa bahwa nilai-nilai persatuan dalam Pancasila telah dihidupkan di dalam sejarah. Di dalam sejarah ada nama-nama seperti Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hock, dan Tjio Djien Kwie yang ikut dalam Sumpah Pemuda. Hadirnya berbagai golongan saat Sumpah Pemuda termasuk orang-orang Tionghoa itu menggambarkan terciptanya persatuan di atas heterogenitas. Lalu ada pula Lim Koen Hian yang hadir saat sidang BPUPKI sehari setelah kemerdekaan Indonesia. Peranan-peranan orang Tionghoa dan kebersatuan orang Tionghoa dengan penduduk “pribumi” seperti itu rasanya jarang dijumpai dalam buku-buku sejarah anak sekolah. Hal ini ditegaskan dengan pernyataan dosen politik penulis yang menyatakan bahwa penulisan sejarah sendiri seringkali mendiskriminasi peranan orang-orang Tionghoa. Menurut penulis diskriminasi dalam penulisan buku sejarah itu juga turut mengaburkan fakta bahwa orang Tionghoa dan orang “pribumi” pernah mengamalkan nilai Pancasila. Penulisan sejarah yang diskriminatif tersebut menyebabkan pembelajaran sejarah tidak berjalan semestinya karena menghalangi generasi muda untuk menyadari adanya praktik persatuan di masa lalu. Orang-orang zaman sekarang pun akan sulit menganut nilai-nilai persatuan yang ternyata diamalkan oleh orang-orang di dalam sejarah karena tidak mendapatkan contoh tersebut secara jelas dalam pembelajaran sejarah. Akibatnya nilai-nilai Pancasila pun hanya menjadi suatu konsep ideal yang abstrak di zaman sekarang dan hanya hidup di dalam sejarah.

Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan diskriminasi etnis masih terus berjalan hingga sekarang adalah karena sosialisasi nilai persatuan dan identitas bangsa melalui pembelajaran sejarah belum mampu menandingi memori perseteruan dan pemisahan yang disutradarai oleh Belanda selama 350 tahun. Penulis memandang bahwa kesadaran akan fakta sejarah dan nilai-nilai yang dikandungnya merupakan salah satu resep jitu yang dapat menyatukan puzzle yang terpecah di negara ini khususnya antara orang Tionghoa dan non Tionghoa.

Meminjam pandangan struktural fungsional. Apakah mungkin penjajahan dari luar perlu diadakan lagi atas Indonesia lalu menyerang baik etnis Tionghoa maupun etnis lainnya? Bukankah penjajahan dapat memperkuat rasa solidaritas? Penulis memandang bahwa jika pembelajaran sejarah tidak dapat berjalan dengan maksimal untuk menyadarkan setiap warga negara bahwa di masa lampau nilai-nilai persatuan begitu marak sehingga baik etnis Tionghoa maupun mereka yang non Tionghoa pernah bersatu untuk bersama-sama berperan bagi negara, maka mungkin penjajahan adalah jalan terbaik. Di masa lalu bagaimana Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang berserakan dapat menyatu adalah karena penjajahan juga. Di sinilah fungsi dari penjajahan. Tapi sekali lagi apakah perlu penjajahan semacam itu terjadi kembali demi terciptanya persatuan karena bangsa Indonesia ini sendiri menolak penjajahan.

Di sini penulis kembali menyerukan agar pelajaran sejarah dapat menjadi fondasi bangsa ini untuk boleh mengerti identitasnya secara tuntas, oleh karena itu sebaiknya penulisan literatur sejarah khususnya yang digunakan sebagai media belajar disempurnakan dan dijauhkan dari praktik manipulasi. Penulis juga mengajak seluruh warga negara agar mengerti sejarah dengan baik dan mampu menghidupkan nilai-nilai agung dalam sejarah ke zaman postmodern ini. Kesadaran akan nilai-nilai penting dalam sejarah khususnya nilai persatuan akan membuat bangsa ini mempunyai filosofi yang tidak hanya menjadi suatu konsep abstrak, namun hadir dalam kehidupan nyata. Selanjutnya melalui sejarah kita bisa mengerti identitas bangsa ini sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengaruh-pengaruh yang provokatif dan mengancam identitas masyarakat Indonesia seperti konsep pribumi dan yang tidak asli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s