SEBUAH OPINI POLITIK MENGENAI SIKAP GOLPUT SEBAGAI SEBUAH SIKAP YANG BELUM TENTU DISEBABKAN OLEH NIHILNYA ORIENTASI POLITIK

Seringkali kita menilai bahwa orang-orang yang golput merupakan kelompok yang apatis terhadap dunia politik di negerinya sendiri. Mereka seolah tidak memiliki orientasi terhadap politik. Sebenarnya patutkah kita mengatakan bahwa mereka semua adalah orang yang tidak peduli dengan aktivitas politik di negerinya sendiri? Mungkin saja bisa, namun kata “semua” perlu digarisbawahi karena penulis rasa tidak semua yang golput adalah orang yang tidak peduli terhadap politik di negerinya. Jika kita ingin membuka tirai lebih lebar dan meneropong lebih dalam mungkin kita dapat melihat lebih jelas sebenarnya apa yang mendorong mereka untuk menjadi golput selain alasan yang bersifat common, seperti tidak adanya orientasi pada politik dalam diri orang tersebut.

Sebagai agen sosialisasi politik, baik media, calon pemimpin, dan orang-orang lain di sekitar kita khususnya peer groups mempunyai peranan penting dalam membentuk orientasi politik seorang individu. Ketika waktu pemilihan calon pemimpin sudah dekat biasanya media atau pun pembicaraan sehari-hari akan cenderung lebih banyak membahas soal calon-calon pemimpin. Media mulai menelanjangi kebobrokan dari setiap calon, lalu ada orang-orang di sekitar yang menyampaikan rasa suka atau tidak sukanya pada calon tertentu karena faktor ini dan itu. Para calon pun semakin gencar melakukan kampanye dan mempublikasikan program kerja mereka yang terlihat wow. Agen-agen ini mensosialisasikan nilai-nilai yang menentukan perilaku politik seseorang di hari H pemilihan.

Sekarang penulis akan mencoba untuk memberi uraian mulai dari proses sosialisasi hingga munculnya sikap golput dalam diri individu. Media mengatakan A, peer groups mengatakan B, dan calon mengatakan C. Terdapat tiga nilai di sini dan ketiga nilai tersebut belum tentu sama, bahkan terkadang terlihat adanya perang di antara nilai-nilai itu. Seseorang yang disosialisasikan nilai-nilai yang berbeda akan mengalami konflik pribadi. Orang tersebut akan menjadi bingung dan tidak tahu harus memegang nilai yang mana. Di sini kita melihat adanya ketidaksepadanan nilai yang disampaikan dalam sosialisasi politik dan hal itu memicu timbulnya sikap golput.

Selanjutnya, apabila seseorang mencoba untuk berpegang pada satu nilai saja dan mengabaikan nilai-nilai lain yang berbeda ia pasti akan berpikir ulang. Apakah sang penyampai nilai sungguh-sungguh mengutarakan hal yang benar atau agen itu pandai merias penampilannya sedemikian rupa sehingga orang yang disosialisasi olehnya dapat memberi kesan positif terhadap nilai tersebut. Meminjam konsep impression management dalam teori dramaturgi dari Goffman. Agen yang melakukan sosialisasi bisa saja menggunakan segala cara agar pihak yang disosialisasi memberikan kesan sesuai yang diinginkan, yakni bereaksi positif terhadap nilai yang disampaikan walaupun apa yang disampaikan bisa saja mengandung sejuta kebohongan. Seseorang bisa tidak meyakini kebenaran dari nilai yang disampaikan karena mungkin dirinya sudah sering melihat adanya pemimpin-pemimpin yang sewaktu mempromosikan dirinya terlihat begitu memukau, namun dalam praktiknya sebagai pemimpin ternyata dirinya menjadi bahan tertawaan publik berkat masalah-masalah yang lahir dalam kepemimpinannya.

Calon pemimpin bisa saja menyatakan bahwa dirinya layak untuk maju karena merupakan sosok yang secara keseluruhan dinilai baik. Baik itu menurut kaca mata siapa dan seberapakah ukurannya? Apakah setelah sisi baiknya itu dibandingkan dengan kebobrokannya kita akan menemukan rasio perbandingan di mana kebaikannya lebih tinggi dibanding keburukannya? Kelompok pendukung setianya pasti menerapkan dramaturgical loyality untuk menutupi kejelekan dari calon agar kebaikannya saja yang membubung. Saya secara pribadi suka pada sosok yang mau mengkampanyekan kejelekan dari dirinya untuk mengimbangi nilai-nilai baik yang tak henti-hentinya disosialisasikan. Tidak perlu menunggu media yang meneriakan kejelekan yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Sekarang jelaslah bahwa sikap golput belum tentu karena tidak adanya perhatian terhadap dunia politik. Adanya ketidaksepadanan dalam sosialisasi politik dan kekhawatiran akan validitas dari nilai yang disampaikan adalah dua hal yang turut memicu terjadinya golput. Pembaca sekalian, Anda yang mungkin berperan sebagai salah satu agen hendaknya tidak menanamkan nilai-nilai palsu, melainkan cobalah untuk bersikap objektif saat menelanjangi kejelekan calon ataupun sewaktu mengungkapkan sisi positifnya. Jikalau pembaca terlalu subjektif tak heran akan lahir perbedaan nilai-nilai yang membingungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s