ANALISIS KEBERADAAN STATUS SOSIAL SEBAGAI PEMBENTUK SIKAP & PERILAKU KE DEPAN

Patut diketahui bahwa setiap anggota masyarakat merupakan aktor dan setiap aktor saling memberikan penilaian kepada aktor-aktor lainnya. Penilaian tersebut tentunya tidak mempunyai standar yang sama, sebab setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda. Penilaian itu kelak akan menjadi sebuah status sosial yang melekat pada setiap orang. Ada orang yang suka menilai sesamanya dari sudut pandang ekonomi yang akan menghasilkan kesimpulan bahwa si A kaya dan si B miskin, ada yang hobi menilai dengan kaca mata intelektual dan akan melahirkan status bahwa si C itu orang pintar dan si D bodoh, tapi ada pula pihak yang melakukan penilaian secara menyeluruh dan berpatokan pada seluruh aspek dalam kehidupan. Hasil penilaian orang lain dapat melahirkan status sosial yang melekat pada diri kita.

Status sosial bisa melekat secara otomatis, namun bisa direncakan melalui segala usaha. Menurut Ralph Linton, terdapat tiga cara untuk memperoleh status, yakni ascribed status, assigned status, dan achieved status. Ascribed status adalah status yang diperoleh dengan sendirinya, misal seseorang yang lahir dalam keluarga kerajaan akan mempunyai status sebagai anak raja. Achieved status merupakan status yang disematkan kepada seseorang berkat pencapaian pribadi dan hal ini terbuka bagi siapa pun, misal dengan kerja keras seseorang dapat lulus dari jurusan ekonomi dan kelak akan disebut sebagai ekonom. Assigned status sebenarnya mirip dengan achieved status hanya saja menurut saya assigned status bersifat lebih fenomenal karena diberikan atas dasar pencapaian yang tidak biasa.

Menurut penulis status sosial yang melekat pada diri seseorang turut berperan dalam menentukan perilakunya sehari-hari. Mungkin kita pernah menemui ada orang yang termat kaya, anggaplah seorang anak pejabat. Ia dengan semena-mena memperlakukan sesamanya. Ia beranggapan bahwa keberadaannya sebagai anak pejabat membuat kehidupannya seperti tanpa batas dan bebas melakukan apa pun. Pertama, ia disokong oleh uang yang sepertinya memiliki sifat kekekalan. Lalu ia juga memiliki nama besar orang tuanya sebagai orang penting di negara ini dan ia merasa superior karena tidak satu pun teman yang berasal dari keluarga pejabat seperti dirinya. Contoh kedua, ada peserta didik yang teramat cerdas di sebuah sekolah. Ia mungkin beranggapan bahwa dengan menjadi murid terpandai, ia bebas memberi label kepada sesamanya yang mungkin kurang intelek. Ia bisa menyebut anak yang kurang dengan sebutan “si idiot, si tolol” dan lain sebagainya. Ia merasa bebas melakukan semua itu karena ia tahu bahwa sesamanya tak mungkin mampu melampaui pencapaian gemilangnya sehingga tidak akan berani membalasnya.

Jikalau dari tadi kita hanya berkutat pada contoh kasus negatif, mari kita beralih pada yang positif. Ada seorang nasionalis yang akhirnya menjadi seorang polisi. Segala usaha keras telah diupayakannya dan membuahkan hasil yang baik. Ia diangkat sebagai polisi dan harus menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan. Sebagai seorang polisi tentu ia mempunyai kuasa. Sehari-hari ia dengan gencar menegakan keamanan di mana-mana dan memanfaatkan pistol di kantungnya untuk menakuti pihak yang ingin membuat kericuhan dan kekacauan. Sebagai salah satu alat negara untuk menciptakan keharmonisan, ia sadar bahwa keadilan harus selalu ditegakannya sehingga setiap kasus yang dihadapinya harus dilihat dari kaca mata timbangan dan bukan memihak pada sekelompok orang karena sodoran uang.

Contoh kasus di atas rasanya cukup memberi kita ilustrasi mengenai perilaku seseorang berkaitan dengan statusnya di masyarakat. Segala status yang dipunyai seseorang akan memunculkan reaksi yang berbeda-beda. Secara keseluruhan status sosial dapat menyebabkan :
1. Tindak kecurangan atau perbuatan negatif lainnya demi mempertahankan status baik. Contoh : Demi mempertahankan akreditasi A, tak menutup kemungkinan suatu sekolah berbuat curang agar seluruh peserta didik lulus dalam ujian. Hal ini dilakukan agar memperoleh acheived status yang dapat membuat sekolah tersebut terus dipandang sebagai sekolah unggulan.
2. Kesombongan. Status yang tinggi dapat menyebabkan seseorang menjadi tinggi hati.
3. Kerja keras untuk menunaikan kewajiban. Seperti contoh sebelumnya, seorang polisi menyadari kewajibannya untuk menjaga keamanan dan ketentraman sehingga ia berusaha agar keadilan ditegakan dan tak membiarkan adanya praktik kejahatan.
4. Kerja keras untuk memiliki status sosial yang lain (Melakukan mobilitas sosial). Contoh : Seorang karyawan biasa bekerja keras agar bisa naik jabatan.
5. Keadaan tertekan dan pesimisme. Contoh : Terlahir dalam keluarga koruptor menjadi beban tersendiri bagi seorang anak. Ia bisa mengalami ketakutan dalam bergaul karena khawatir akan dicemooh sesamanya.
6. Hidup yang mengutamakan pencapaian demi status sosial yang berkelanjutan. Contoh : Status sebagai siswa teladan/berprestasi dapat membuat seorang peserta didik bernafsu untuk meraih status serupa di waktu mendatang. Hidupnya hanya berfokus pada tujuan pribadinya untuk bisa mempertahankan status sebagai pelajar berprestasi.
7. Terpaku pada hal-hal duniawi. Namanya status sosial, pastilah dianugerahkan kepada suatu pihak oleh sesama manusia. Untuk apa kita mengejar status tinggi di mata manusia. Status itu belum tentu membuat kita dinilai baik oleh Tuhan bukan. Anda boleh berbuat curang saat ujian dan berbangga karena setelah itu Anda akan mendapat predikat sebagai peserta didik terbaik dari segi akademik, akan tetapi apakah Tuhan akan memandang Anda sebagai anak yang baik karena telah berprestasi dengan cara yang haram?

Status sosial hendaknya tidak membuat kita menjadi terlalu jumawa atau berlaku sembarangan. Selain itu, status sosial juga jangan lantas membuat kita tak berani untuk menjalankan kehidupan. Status sosial hanyalah pemberian manusia dan jangan terpaku pada hal itu. Bersikaplah secara bijaksana dalam meresponi status sosial Anda. Perlu diingat bahwa status sosial bukanlah segalanya, karena keberadaan Anda di mata Tuhan lebih penting dari posisi Anda di mata manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s