TO BE A TEACHER IS NOT THAT EASY

Untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya hanya mampu menggoreskan tinta di muka papan tulis kelas? Kenapa harus membuang terlalu banyak uang untuk kuliah bila hanya untuk menjadi seorang pendidik? Dua pertanyaan ini merupakan pertanyaan paling mendasar dari mereka yang tidak setuju ketika melihat sesamanya yang bergelar tinggi menjadi seorang guru. Selama ini masyarakat luas memegang konsep bahwa untuk menjadi guru tak perlu sekolah terlalu tinggi karena penghasilan guru tidak sepadan dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk sekolah setinggi langit.

Setiap orang dapat mengumbar cita-citanya sesuka hati, namun apabila Anda bercita-cita untuk menjadi guru, masihkah Anda berani mengumbarnya? Pembaca mungkin tidak terlalu berani mengungkapkan keinginan untuk menjadi guru karena khawatir akan cemoohan yang datang bertubi-tubi. Atau jangan-jangan memang sudah tidak ada lagi yang bermimpi menjadi guru suatu saat nanti. Keinginan menjadi guru bukanlah keinginan yang buruk, meskipun banyak pihak mengecam keras cita-cita tersebut. Merupakan sebuah kesalahan besar jika kita memandang guru sebagai pekerjaan kelas bawah yang tak memerlukan kemampuan superior.

Keberadaan guru di Indonesia seringkali dianggap tidak penting dan diremehkan. Walaupun demikian, guru sangat dibutuhkan di negara ini untuk mewujudkan salah satu tujuan negara yang tercantum dalam pembukaan UUD’45, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak ayal, guru-guru yang kompeten sesungguhnya diperlukan di setiap institusi pendidikan dan inilah permasalahan sebenarnya karena jumlah guru yang berkualitas dapat dihitung dengan jari. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya orang cerdas yang terpengaruh pandangan bahwa mereka punya kemampuan lebih dari sekadar menjadi guru. Karena prinsip itulah mereka pun enggan menjadi guru. Itu berarti untuk menjadi guru tidak diperlukan kemampuan super layaknya menjadi seorang teknisi atau pekerjaan lain, benarkah demikian?

Segudang rencana atau strategi pendidikan telah dikumandangkan oleh pihak pemerintah. Rencana tersebut tentu saja bertujuan untuk menciptakan Indonesia yang lebih cerdas dan mempunyai daya saing di tingkat internasional. Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran, tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tak mungkin bisa diaplikasikan (DR.Wina, 2006). Lebih dari itu, bukan guru biasa yang diperlukan untuk menggenapi seluruh rencana, sebab guru dituntut untuk memiliki kualitas agar dapat merealisasikan seluruh harapan.

Menjadi guru berarti menjadi orang intelek yang bersedia mendidik kaum muda. Guru haruslah orang yang benar-benar memiliki kapasitas dan tidak hanya sekadar mengajar untuk mendapatkan uang. Sekarang mungkin ada ratusan atau bahkan mungkin ribuan guru tak berkualitas tersebar di seluruh Indonesia. Dengan kemampuan seadanya, mereka mengajar sekelompok generasi muda. Hal ini tak dapat dibiarkan terjadi terus menerus. Jangan bermimpi Indonesia akan mampu mencetak prestasi akademik cemerlang apabila dunia pendidikannya tidak diwarnai oleh guru-guru intelek. Selama mutu guru Indonesia belum ditingkatkan, maka profesi guru akan tetap berstatus sosial rendah dan ini akan menular ke buruknya pencapaian akademik bangsa. Yang paling parah tentu saja apabila mereka tak menguasai bidang ilmunya dan nekat mengajar, karena mereka hanya akan menjadi bulan-bulanan peserta didiknya yang lebih cerdas.

Seperti uraian sebelumnya, dikatakan bahwa Indonesia memerlukan guru yang kompeten. Apalagi kondisi pendidikan Indonesia tampaknya tidak memiliki daya saing yang kuat dengan negara-negara tetangga sehingga dibutuhkan orang yang benar-benar mampu mendidik dan bisa memberi warna untuk mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Tapi sekali lagi, pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang tidak terlalu mendapatkan tempat di mata banyak orang. Mayoritas menganggap bahwa guru bukanlah sebuah pekerjaan yang ideal dan ada pula yang mengatakan bahwa untuk menjadi guru tidak diperlukan banyak kelebihan. Pandangan itu jelas tidak tepat. Dengan situasi di Indonesia saat ini, jelas bahwa guru yang ciamik benar-benar dibutuhkan kehadirannya.

Lalu bagaimanakah guru yang berkualitas itu? Pertama-tama adalah pengetahuan. Guru harus mempunyai pengetahuan yang mumpuni. Salah satu kelemahan banyak guru di Indonesia adalah kurang memiliki pengetahuan sehingga mutu mereka pun rendah. Dikatakan bahwa guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga ia benar-benar berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya (DR.Wina, 2006). Sebagai sumber belajar, guru sendiri harus mampu memperkaya dirinya dengan banyak ilmu. Guru tidak boleh malas mengejar ilmu-ilmu baru. Seringkali mereka terlalu percaya diri dengan pengetahuan yang sudah dimiliki tanpa merasa perlu melengkapinya. Ini adalah sebuah kesalahan besar. Semua manusia, tak terkecuali guru harus tetap menuntut ilmu. Oleh karena itu, guru wajib memiliki referensi lebih banyak dari peserta didiknya.

Tidak hanya pengetahuan, karena hal lain yang tidak kalah penting adalah penyampaian informasi. Guru harus mempertunjukan segala sesuatu yang bisa membuat peserta didiknya mampu menyerap materi dengan baik, inilah fungsi guru sebagai demonstrator. Sekali lagi, ini bukanlah pekerjaan mudah. Terkadang kita melihat ada banyak guru yang sangat kaku dan monoton saat mengajar. Alhasil, ketertarikan peserta didik terhadap bidang ilmu pun tidak tumbuh, bahkan mereka jadi terkesan mengesampingkan pelajaran itu. Mereka menganggap bahwa pelajaran tersebut bisa dikuasai sendiri tanpa bimbingan guru, sebab jikalau hanya sekadar membaca materi seluruh orang pun bisa melakukannya sendiri. Maka itu, guru harus belajar untuk menjadi kreatif. Para guru harus berusaha menyampaikan materi dengan cara yang berbeda sehingga peserta didik bisa memiliki ketertarikan terhadap materi yang disampaikan. Lebih dari itu, guru pun harus mengerti strategi pembelajaran yang tepat. Ada beberapa strategi pembelajaran, seperti Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM), Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB), Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK), Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI), Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE), dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL). Mengenai detil dari setiap strategi pembelajaran akan penulis bahas dalam tulisan-tulisan selanjutnya. Pembahasan mengenai strategi SPBM dibahas dalam penelitian penulis terhadap proses pembelajaran IPS di tingkat SMP -> https://soclidu.wordpress.com/2012/12/25/peranan-guru-ips-di-tingkat-smp-dalam-proses-pembelajaran-ips-dan-pola-pembelajaran-ips-yang-diterapkan-di-tingkat-smp-secara-umum/

Seandainya pembaca menjadi guru dan menyaksikan ada murid yang kehilangan hasrat untuk maju dan belajar, apa yang dapat dilakukan? Disinilah peran guru sebagai motivator harus berjalan dengan baik. Guru tidak boleh membiarkan begitu saja ada muridnya yang tergeletak. Guru harus bisa membangunkan murid itu dan memotivasinya agar dapat kembali memiliki motivasi belajar. Ada beberapa cara untuk memotivasi peserta didik. Pertama adalah memperjelas tujuan yang ingin dicapai. Jelasnya tujuan dapat membuat peserta didik paham ke arah mana mereka akan dibawa. Pemahaman peserta didik akan tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat belajar dan pada gilirannya motivasi belajar mereka pun meningkat. Selain itu, penting untuk menumbuhkan minat peserta didik. Untuk mengembangkan minat peserta didik, guru harus mencoba untuk mengaplikasikan bahan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, rasanya akan lebih menarik jika menghitung integral tidak hanya dilakukan terhadap soal-soal abstrak di papan tulis, melainkan benar-benar menghitung benda dalam dunia nyata. Kemudian, minat peserta didik juga dapat dibangkitkan dengan suasana kelas yang menyenangkan. Membuat sedikit humor yang menggelitik bisa memberi warna cerah bagi suasana kelas.

Terakhir sekaligus menjadi yang terpenting, guru bukanlah pekerjaan sembarangan. Guru berdiri langsung di hadapan Tuhan untuk menerima perintah-Nya, yakni menyampaikan kebenaran hingga ke ujung bumi. Oleh karena itu, setiap guru harus mempunyai jiwa untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Hendaknya setiap guru memiliki kekhawatiran akan segala kesalahan yang dilakukannya, sebab apa yang mereka lakukan sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Guru adalah salah satu akar dari tercetaknya orang-orang hebat di masa depan. Di masa depan, orang-orang tersebut hebat dalam membuahkan sesuatu yang baik atau buruk tentu tak lepas dari pengaruh yang ditancapkan oleh guru-gurunya terdahulu. Maka dari itu, jangan sembarangan ingin menjadi guru, sebab pekerjaan yang satu ini tidaklah mudah.

Sekarang pembaca telah mengetahui sedikit dari banyak hal yang harus dimiliki guru berdasarkan uraian di atas. Menjadi seorang guru tidaklah semudah yang diungkapkan oleh kebanyakan orang. Seorang guru harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas apa yang telah ia berikan kepada peserta didiknya sehingga ia harus mampu menjadi sumber yang benar. Dengan demikian, rasanya tidak salah jika seseorang menempuh pendidikan setinggi mungkin hanya demi menjadi seorang guru, sebab apabila seorang guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai, maka kemampunnya pastilah rendah sehingga ia tidak layak mengajar. Lalu, seorang guru juga harus bertanggung jawab atas peserta didik yang dipercayakan kepadanya sehingga guru tidak hanya sekadar memiliki pengetahuan untuk mengajar di kelas, namun mampu membangun minat belajar peserta didik.

Sekolah setinggi mungkin untuk menjadi guru adalah keharusan. Bermimpi untuk menjadi guru adalah mimpi yang mulia. Tidak ada yang salah dengan semua hal itu. Kenapa kita harus merisaukan komentar-komentar miring yang dilontarkan banyak orang? Guru tidak bertanggung jawab kepada komentar miring tersebut, karena guru harus bertanggung jawab kepada Tuhan dan inilah yang membuat pekerjaan sebagai guru bukanlah hal mudah. Dalam UU No.20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah agar peserta didik mampu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat, bangsa, dan negara. Mampukah para guru menggenapi tujuan pendidikan tersebut? Siapkah anda untuk berbagian dalam mencetak generasi yang berilmu, berkarakter, dan berbudaya? Persiapkan terlebih dahulu diri anda, sebab menjadi pendidik haruslah berilmu, bermisi, dan bervisi cemerlang, serta mempunyai takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s