PENTINGNYA IQ DI DUNIA AKADEMIK

Banyak pihak mengatakan bahwa IQ bukanlah kunci utama untuk menggapai kesuksesan dalam hidup, sebab hidup ini tak hanya terbatas pada hasil tes yang tertera pada selembar kertas. Penulis sendiri pun menyetujui hal tersebut. Tes IQ memang menjadi gambaran akan kualitas seseorang, namun seperti yang penulis katakan di tulisan sebelumnya (dapat dilihat dari tulisan Multiple Intelligences Menggugurkan IQ yang terdiri atas tiga seri) bahwa manusia mempunyai kemampuan lebih banyak dari sekadar bidang-bidang yang diujikan dalam psikotes.

Tes IQ banyak mengujikan bidang-bidang akademik, seperti kemampuan bernalar, kemampuan ilmu pasti, kemampuan bahasa, dan lain-lain. Dari sini kita dapat berujung pada kesimpulan bahwa nilai IQ cukup menentukan keberhasilan seorang peserta didik di sekolahnya. Oleh karena itu, mereka yang memiliki IQ superior umumnya mampu menjulang tinggi dalam dunia akademik. Sedangkan, peserta didik dengan IQ jongkok akan menjadi sangat terbelakang di kelas karena tak mampu menghadapi kerasnya pelajaran zaman sekarang.

Tak dapat dipungkiri, hampir seluruh pelajaran di sekolah sangat membutuhkan kekuatan otak kiri, sang empunya akademik. Setiap hari, peserta didik dihadapkan pada matematika, logika, literatur, dan analisis. Semua itu adalah pekerjaan utama dari otak kiri manusia. Kekuatan otak kiri manusia dapat diukur dengan tes IQ. Dengan demikian kita harus berani menerima kenyataan bahwa IQ seseorang sangat dominan dalam menentukan kesuksesan di sekolah. Faktor lain seperti kerajinan dan keberuntungan memang turut menentukan, tetapi di balik itu semua kualitas otak kiri tetap berpengaruh sangat besar.

Yang menjadi masalah adalah tidak semua guru berpatokan pada hasil psikotes peserta didik. Banyak guru terang-terangan mengklaim bahwa anak bodoh itu sebenarnya tidak ada. Mereka menggantinya dengan pernyataan bahwa yang ada hanyalah peserta didik belum menguasai konsep sehingga tak mampu meraup hasil maksimal dalam pelajaran. Penulis dengan tegas mengatakan bahwa anak bodoh itu ada. Memang tidak semua peserta didik dengan nilai merah dapat disebut sebagai anak bodoh atau terbelakang, namun suatu saat kita pasti berhadapan dengan kenyataan di mana ada segerombolan anak dengan tingkat intelegensia di bawah standar mengoleksi begitu banyak nilai merah di sekolahnya.

Kegagalan seorang murid menguasai pelajaran dapat disebabkan oleh beberapa hal, yakni faktor malas, faktor pendukung, ketidakberuntungan, dan rendahnya kemampuan akademik. Ini yang harus dianalisis oleh setiap guru. Mengenai rasa malas, penulis rasa hampir seluruh pembaca mengerti akan hal ini. Kemudian kita juga bisa mendapati peserta didik yang salah mengerti konsep karena tidak beruntung, sebab bisa saja ia salah membaca. Bagaimana dengan faktor pendukung? Sarana dapat mencakup guru les, guru bidang studi, orang tua, sesama, dan buku pelajaran. Seorang anak yang gagal menguasai kimia bisa jadi karena guru lesnya salah memberikan rumus. Seorang murid bisa saja tidak menguasai materi karena tak mempunyai buku pelajaran. Akan tetapi ketidakmampuan menguasai pelajaran karena rendahnya kemampuan merupakan sesuatu yang lain.

Para guru dapat dengan mudah menyalahkan guru les atau saudara dari peserta didik dengan nilai jeblok. Mereka berasumsi bahwa guru les dan orang-orang di rumah gagal membentuk peserta didik. Tapi sekali lagi, setiap guru wajib memeriksa kemampuan murid-muridnya. Jikalau seorang anak ternyata memang memiliki kemampuan terbatas, maka rasanya sulit baginya untuk berprestasi tinggi sekalipun telah disokong oleh guru les yang kompeten.

Bagi penulis ada dua faktor penentu kesuksesan seseorang di sekolah. Faktor pertama adalah faktor internal yang meliputi kemampuan akademik dan etos kerja. Faktor selanjutnya ialah faktor eksternal yang penulis kategorikan sebagai faktor pendukung, seperti dukungan orang tua, guru les, teman, serta saudara. Akan tetapi semuanya selalu kembali ke faktor internal orang yang bersangkutan. Walaupun jutaan rupiah telah digelontorkan untuk membayar bimbel, namun anak itu tak memiliki pola belajar yang baik tetap saja ia tak akan berhasil. Meskipun orang tua sudah banting tulang membimbing sang anak, tapi bila kemampuan anaknya memang rendah tetap saja hasilnya tak akan maksimal. Selain itu kans untuk sukses dari peserta didik yang dianugerahi kemampuan spesial bisa jadi lebih tinggi dari mereka yang berkemampuan biasa. Kerajinan memang sangat berpengaruh dalam kesuksesan, tetapi kemampuan otak tentu saja dominan. Orang yang tidak berbakat, namun mempunyai kerajinan masih mungkin mencapai kegemilangan. Akan tetapi orang berbakat yang rajin mungkin lebih sukses dari mereka yang tekun, tapi tapi tak berbakat.

Setiap guru harus memerhatikan hasil psikotes murid-muridnya. Hasil itu dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal kemampuan anak. Selain itu, penting untuk melihat setiap detil dari bidang-bidang yang diujikan selama psikotes. Bisa saja seorang murid sangat lemah di pelajaran bahasa karena kemampuan berbahasanya rendah, namun ia sangat ahli memecahkan persoalan fisika karena didukung oleh kemampuan berhitungnya yang berpredikat di atas rata-rata. Jikalau ternyata didapatkan ada seorang siswa yang rendah di seluruh bidang uji sehingga skor kecerdasan umumnya rendah, maka dapat dipastikan peserta didik itu termasuk dalam golongan terbelakang di dunia akademik. Langkah selanjutnya adalah memilih metode terbaik demi menolong prestasi belajarnya, sebab anak terbelakang memerlukan perhatian khusus dan harus dibimbing dengan cara yang tepat.

Sekarang sudah saatnya setiap pendidik membuka matanya dan melihat ke sekitar. Peserta didik yang kurang dan terbatas tentu tidak bisa diberi tuntutan terlalu besar. Kita harus tetap mendukung seluruh murid dengan segala keterbatasannya seraya berharap ia dapat mengalami keberhasilan. Tapi sekali lagi kita harus tetap yakin bahwa di dunia ini IQ bukanlah satu-satunya penentu kualitas otak manusia. Keberadaan IQ sebagai penentu utama hanya terdapat di lingkup akademik. Di dunia ini manusia bisa menjadi orang sukses tanpa IQ tinggi, karena dunia ini tak terbatas pada angka, logika dan linguistik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s