MULTIPLE INTELLIGENCES MENGGUGURKAN IQ PART 3

Tes IQ

Tes kecerdasan yang satu ini hampir selalu muncul dalam setiap seleksi. Tes ini pun sering digunakan untuk memeriksa kemampuan peserta didik dalam suatu  sekolah. Sebenarnya tes ini cukup bermanfaat, karena dengan mengetahui hasil dari tes tersebut kita dapat melihat sejauh mana potensi kita. Namun, perlu diketahui bahwa tes IQ tidak dapat mengukur semua kecerdasan.

Ada begitu banyak lembaga psikotes yang menyelenggarakan tes IQ, namun bidang yang diujikan setiap lembaga nyaris 100% sama. Bidang-bidang yang paling sering muncul untuk diujikan dalam tes IQ adalah kemampuan berbahasa, kemampuan ilmu pasti, kemampuan berlogika dan bernalar, serta kemampuan abstraksi. Bidang lain seperti kemampuan spasial dan nonverbal sesekali muncul, namun tidak sesering keempat bidang yang sudah saya sebut sebelumnya.

Kemapuan berbahasa dan matematika atau logika terkadang memiliki persentase paling tinggi ketimbang bidang-bidang yang lain. Itu kenapa peserta yang memiliki logika kuat, serta pandai dalam pelajaran ilmu pasti umumnya mempunyai poin IQ tinggi.

Poin IQ sebenarnya menunjukan usia metal kita. Untuk mengetahui usia mental, kita hanya perlu mengalikan poin IQ yang sudah dibagi 100 dengan usia kronologis kita. Sebagai contoh, seorang anak berusia tujuh tahun memiliki IQ 130, dengan demikian usia mentalnya adalah 9,1 tahun. Oleh karena itu, sekalipun usianya baru menginjak tujuh tahun, namun ia terlihat lebih dewasa dari usianya.

Poin IQ juga menunjukan tingkat kecerdasan kita. Berikut adalah penjelasan mengenai skor IQ.

    • <60 = DEBIL / IDIOT
    • 60-79 = KURANG
    • 80-88 = RATA-RATA KURANG
    • 90-109 = CUKUP
    • 110-119 = RATA-RATA CERDAS
    • 120-139 = CERDAS
    • 140-160 = SANGAT CERDAS
    • >160 = ISTIMEWA CERDAS

Multiple Intelligences vs IQ

Kini saatnya kita memasuki arena peperangan antara teori kecerdasan yang diungkapkan oleh Howard Gardner dengan IQ. Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa teori kecerdasan ganda meliputi kecerdasan-kecerdasan yang tidak hanya berada di otak kiri, melainkan bagian-bagian otak lain. Sedangkan, tes IQ rata-rata hanya menguji bidang-bidang yang berada di hemisfer kiri manusia, terutama bidang bahasa dan matematika.

Sejauh yang penulis tahu, tes IQ tidak menguji kemampuan kinestetik, musik, serta kemampuan sosial-emosional. Kemampuan sosial-emosional menjadi bagian dari tes EQ dan bukan tes IQ. Oleh karena itu, tes IQ bukanlah tes kecerdasan yang sesungguhnya karena tidak menguji semua bidang dan kebanyakan hanya mengujikan bidang-bidang otak kiri. Itu kenapa penulis katakan di awal bahwa hasil dari tes IQ bukanlah gambaran sesungguhnya dari kualitas otak seseorang. Dengan demikian sangatlah tidak tepat bila seseorang dikategorikan sebagai orang cerdas atau kurang berdasarkan hasil tes IQ saja mengingat ada banyak bidang yang tidak diujikan dalam tes tersebut.

Pembaca sekalian, IQ tinggi atau rendah bukanlah masalah utama. Tidak mampu mengerjakan soal fisika, tapi mampu mempertontonkan kemampuan bermain musik sesungguhnya merupakan sebuah keindahan tersendiri. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang tidak pandai dalam merangkai kalimat atau menyelesaikan soal-soal matematika, namun mereka ternyata pandai mengerjakan hal-hal lain. Oleh karena itu, mendapat nilai merah dalam pelajaran matematika bukan berarti kita bodoh, karena siapa tahu ada kecerdasan di bidang lain dalam diri kita yang belum digarap. Ingat, otak kita tidak hanya terbatas pada kemampuan berbahasa atau menghitung, karena sedikitnya ada sembilan kecerdasan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s